CONCERTO TIGA BELATI

Mengenakan kostum ala Indian pada jaman "wild wild west", pria kurus berambut gondrong dengan jaket kulit hitam itu terlihat menapak mantap agak perlahan ke arah pentas. Siluet dirinya memperlihatkan gelombang rumbai-rumbai pada jaket seperti mengiringi derap langkahnya. Sekelebatan sempat terlihat kilau jejeran enam belati tersekat di bagian belakang pinggangnya.

Dia bukanlah Jim Bowie, jagoan pisau dalam hikayat Benteng Alamo, atau Ezio Auditore da Firenze, bangsawan Florence yang juga tokoh utama "Assasin Creed", karakter terpenting dari game Ubisoft yang terbungkus kental dengan sejarah grup pembunuh rahasia pada era Renaisans. Pria itu adalah Keith Emerson, keyboardis tahun 70-an paling berpengaruh ketika musik rock berada di puncak kejayaannya.

Meskipun tata lampu hanya berpendar sederhana, konser musik rock progresif itu tetap memanjakan mata pemirsa Theater 140, satu gedung pertujukan terkenal di kota tua Brussels. Malam dingin di awal Februari 1971 itu terhangatkan oleh hentakan drummer Carl Palmer yang pada waktu itu masih berusia dua puluh satu. Darinya, bas drum ganda yang digebuknya membahana memenuhi relung-relung ruang pertunjukan. Sementara itu, bassis Greg Lake tampak menggiring ritme pada jalurnya. Dia tengah menyanyikan satu komposisi Leos Janeck dan J.S. Bach, "Knifes-Edge", yang digubah oleh Keith dan diberi lirik oleh Greg dan Richard Fraser. Satu komposisi dari album pertama mereka, "Emerson, Lake & Palmer" (ELP) dirilis oleh Atlantic Record pada awal 1970.



Saat komposisi Carl berjudul "Tank" turut dihadirkan, Keith tampak sangat antusias memberi sentuhan-sentuhan seperti yang dilakukan gitaris Jimi Hendrix pada trio Jimi Hendrix Experience (JHE) yang dipimpinnya. Organ yang dia mainkan terbanting kesana kemari. Sampai pada puncaknya, dia menusukkan 3 belati seperti yang dilakukan Ezio atau Jim bowie atas musuh-musuhnya. Dia menancapkan pisau-pisau berkilap dengan gagang gading itu pada tuts Hammond B-3 yang setia menemani untuk menahan nada yang menggelora dari organ yang habis-habisan disiksanya. Pada sela-sela nada tertahan itu, Keith memperlihatkan siapa dirinya dan bagaimana dia menjadikan keyboard sebagai alternatif yang dashyat. Suatu jawaban jitu atas trio rock yang melulu mengacu kepada peran gitar seperti yang dilakukan Eric Clapton atas grup Cream dan Jimi Hendrix pada JHE.

Seperti gubahan "Knives Edge", ELP yang dipimpin Keith menjadi salah satu soko guru subgenre rock mainstream yang kemudian dikenal sebagai aliran rock progresif. Anak sungai musik rock yang kadang disebut dengan prog saja. Di tanah Inggris, tempat kelahirannya, arus musik prog memberi corak pada jaman keemasan musik rock sebagai mainstreamnya. Aliran ini berkembang sejak Beatles meluncurkan "Magical Mystery Tour" dan "Sgt Pepper’s Lonely Hearts Club Band" (keduanya dirilis tahun 1967), yang mulai memperlihatkan sentuhan baru atas konsep dan musikalitas yang memanfaatkan suara oriental, string dan brass section pada sejumlah nomornya.

Dari sana inspirasi mengilhami Syd Barrett, pendiri kelompok Pink Floyd yang mewarnai konsep musik mereka yang kemudian dikenal sebagai Space rock. Floyd lalu menjadi semacam "cult" dalam arus-besar belantara musik rock. Mereka adalah pujaan baru dari generasi bunga nan psychedelic. Saat album-album Floyd era Barrett memasuki pasar, maka Keith Emerson mendirikan kelompok Nice yang mulai meramu karya-karya komponis klasik legendaris ke dalam nomor-nomor rock mereka. Greg Lake ikut mendirikan King Crimson bersama gitaris Robert Fripp yang hingga hari ini menjadi referensi musikalitas aliran prog. Carl Palmer bermain dengan kelompok Atomic Rooster yang dikomando vokalis Chris Farlowe serta sempat gabung satu album bersama vokalis nyentrik Arthur Brown and the Kingdom Come.

Berangkat dari sana, musik prog mengibarkan panji-panji mereka. Prog menjadi alternatif yang dianggap mempunyai kelas tersendiri di samping rock aliran besar. Mereka berani memainkan komposisi tanpa vokal berdurasi panjang dalam album-album vinyl yang beredar luas dengan sambutan luar biasa dari generasi bunga di seantero jagad. Segera kita dapat menandai bahwa musikalitas, konsep komposisi dan sentuhan musik klasik menjadi dapur kreatif mereka. Pada ujung periode 60-an, pasca-festival Woodstock di Bechtel, New York, medio Agustus 1969, prog di Inggris telah melahirkan grup sekelas King Crimson, ELP, Yes, Gentle Giant, Genesis dan tentu saja Pink Floyd era David Gilmour.

Prog kemudian punya penafsiran dan subgenre-nya lagi. Dilahirkan di kawasan Kent, Inggris, lahirlah aliran dalam aliran musik prog. Pers menyebutnya "rock Canterburry". Dari sana berdiri tegar tokoh bernama Robert Wyatt yang mendirikan grup Soft Machine. Impaknya, kita dapat berkontemplasi sambil menikmati paling tidak karya-karya dari grup sekelas National Health, Caravan, Esperanto, Gong, Brand X, Hatfield and the North, dan tentu saja kelompok Egg dengan trio Dave Stewart, Clive Brooks dan Mont Campbell.

Kehadiran Keith Emerson dengan handicap musikalitas dan gaya panggung yang flamboyan nan atraktif menjadikan instrumen keyboard sebagai pusat perhatian yang inspiratif. Tak ragu, Keith adalah yang terbesar dari mereka. Sayang, setelah meluncurkan album pertama, lalu Tarkus (1971) yang konseptual, kemudian album live yang merespons komposisi Georg Mussourgsky, "Pictures at Exhibition" (1971), "Trilogy" (1972), "Brain Salad Surgery" (1973) dan dua volume "Works ELP" (1977) trio itu mulai jenuh dan meluncurkan album dengan materi yang banal menyebalkan. Album "Love Beach" (1978) itu juga disajikan dengan sampul yang sangat buruk. Bob Defrin yang menjadi pengarah artistik dan Jim Houghton sebagai fotografer yang memotret trio andalan prog itu bak tiga kawanan grup disko. Pemotretan mungkin dipetik pada suatu senja di kawasan tropis.

Padahal pada album "Brain Salad Surgery" (1973), selain konten musiknya masuk dalam kategori bintang lima, sampul albumnya juga menjadi salah satu yang terbaik sepanjang sejarah musik prog. Bekerjasama dengan perupa dan pematung surealis Swiss, Hans Rudolf Giger, "Brain Salad" menampilkan artistik album alternatif yang cemerlang dan kompetitif, karena pada periode itu sampul album-album prog didominasi oleh karya grafis desainer macam Roger Dean, Hipgnosis dan John Kosh. Sampul itu konon juga yang menginspirasi sutradara Ridley Scott untuk menggandeng Giger membentuk karakter sang monster dalam film thriller yang fenomenal, "Alien" (1976), dan seluruh sequelnya.

Pada museum Giger di Zurich, pengerjaan sampul album studio ketiga ELP ini menjadi salah satu contoh soal yang menjadi sajian utama. Sayang, karya asli Giger yang diberi judul "ELP I" dan "ELP II", masing-masing seukuran albumnya, acrylic on paper, 34 x 34 cm, digondol maling ketika dipamerkan di National Technical Museum of Prague pada tahun 2005. Pencurian karya seni itu lalu menjadi headline esok harinya di media-media Swiss, seraya menambahkan himbauan kecil, "Missing in Prague, reward 10.000 USD".

ELP dan segala metamorfosisnya merekam 9 album studio, 17 album live dan 13 single. Mereka tak lagi pernah lagi menemukan diri mereka sejak album konyol "Love Beach" diluncurkan. Meskipun mencatat sukses besar, konser reuni pada ELP pada tahun 2010 menjadi pertemuan mereka yang terakhir. Rencana untuk menggelar kembali konser serupa tepat pada usia Keith mencapai 70 tahun pada 2014, ternyata ditolak Greg dan Carl. Kepada pers Keith curhat perihal kondisi yang amat mengecewakannya itu. Padahal pria yang dilahirkan di kota kecil, Todmorden, Inggris itu, sangat berambisi pensiun bersama grup kesayangannya, ELP, pada tanggal kelahirannya 2 November.



Keith sempat mengisi acara Concerto di radio untuk mengenang wafatnya David Bowie. Sesungguhnya sejak persiapan konser reuni pada 2015, Keith mulai mengalami masalah tremor hebat pada tangan kanannya. Carl Palmer sempat kesal mengikuti sesi latihan yang hingga berminggu-minggu lamanya untuk menyiapkan reuni tersebut. Dahulu mereka hanya memerlukan beberapa jam sebelum tampil dengan dahsyat di pentas manapun mereka tampil.

Tak ada lagi gaya Keith dengan belati seperti Jim Bowie di Alamo, atau Ezio di "Assasin Creed". Juga konser Keith Emerson Band yang rencananya bakal digelar di Jepang minggu depan. Mustahil bagi Keith untuk memilih hari baik pensiun dari pentas yang membesarkannya, sejak dua sejawatnya menampik ide itu. Sampai akhirnya dia memutuskan untuk sekaligus mengakhiri hidupnya dengan satu pelor yang ditembakkannya ke kepalanya sendiri, sarang segala ide dari suatu masa lalu prog yang genial. Sebentuk akhir yang tragis di rumahnya sendiri, di Santa Monica, California. Hari itu alamanak menujukkan tanggal 10 Maret 2016.

A bullet had found him

His blood ran as he cried

No money could save him

So he laid down and he died

Oooh, what a lucky man he was (2x)


-bait terakhir dari syair "Lucky Man" (komposisi gubahan Greg lake yang ditulisnya sejak berusia 12 tahun, dipetik dari album perdana ELP, dirilis pada 1970. Lagu "Knife-Edge" menjadi nomor sisi B dari single "Lucky Man" yang diluncurkan pada tahun yang sama)

oscar motuloh

Galeri Foto Jurnalistik Antara

Gambar: Poster konser live Keith Emerson yang rencananya akan digelar di Tokyo dan Osaka oleh billboard pada April 2016

Disiarkan 14/3/2016 13:59 WIB | Dilihat 15788 kali