Mati Ketawa Ala Serdadu Belanda

Banyak catatan harian orang biasa menjadi istimewa justru karena isinya memberikan informasi yang layak diketahui oleh mereka yang hidup di masa yang jauh dari penulisnya.

Sebut saja Elie Wiesel, yang catatan hari-harinya penuh penderitaan dan ketidakpastian saat menjadi obyek permainan Nazi. Catatan Elie tentang kepindahannya dari satu kamp ke kamp lain dibukukan dalam "Pulang" yang memberikan informasi rinci tentang kekejaman Nazi terhadap kaum Yahudi. Elie bukanlah siapa-siapa ketika dia bersama ribuan orang Yahudi lainnya digiring oleh Nazi. Tapi catatan itu menjadi sesuatu pada akhirnya.

Lewat cara berbeda, seorang kopral Belanda bernama Flip Peeters menuturkan cerita bergaya komik tentang hidupnya saat menjalani tugas sebagai serdadu wajib militer di Jawa selama Agresi Militer (1948-1949). Selain sebagai serdadu, dia juga ditugaskan menjadi fotografer dan rajin membuat catatan harian dalam bentuk komik yang ditujukan kepada kekasihnya, Greeda.

Bagi kebanyakan orang Indonesia, sejarah masa itu paling-paling dikenang sebagai masa penuh perundingan dan perjanjian. Dari perjanjian Renville hingga Konferensi Meja Bundar (KMB). Tapi bagi serdadu Belanda itu, masa tersebut adalah masa pengabdian untuk negaranya yang dijalani dengan penuh derita, perjuangan dan ketakutan.

"Tenang, Belanda masih jauh..." adalah ungkapan populer pada generasi sebelum milenium. Sebenarnya itu adalah cerminan cerita kakek dan bapak yang mengalami perjuangan saat berperang melawan Belanda. Frasa yang mencerminkan kegelisahan menghadapi tentara Belanda itu lalu menjadi plesetan buat orang yang ingin santai sejenak dari kejaran tenggat pekerjaan.

Tapi, catatan Flip yang kemudian dibukukan dan diberi tajuk "Lieve Gerda", yang diindonesiakan oleh Willy Adriaans menjadi "Gerda Sayang", menggambarkan hal yang sebaliknya. Dari gambar dan pesan tertulis dalam komik yang diterbitkan dalam bahasa Indonesia oleh Kantor Berita ANTARA itu tidak berlebihan jika serdadu Belanda juga punya motto: "Tenang, TNI masih jauh...".

Jika film-film perang di Indonesia menggambarkan kesangaran dan kegagahan tentara Belanda saat menghadapi pejuang-pejuang Indonesia, komik yang terbit pertama kali pada 2001 di Belanda itu memberi kesan betapa takutnya serdadu Belanda pada pejuang Indonesia. Tugas patroli dan jaga malam ternyata menjadi "mimpi buruk" buat serdadu Belanda. Flip menganggap tugas itu sebagai hukuman dan pantas dituang ke dalam catatan.

Mengiringi tulisan soal "mimpi buruk" itu, Flip membuat gambar seorang tentara Belanda sedang berupaya naik ke bukit. Sosok tentara Belanda itu digambarkan dengan jelas: berseragam dan membawa senjata. Sementara di sebelahnya, ada gambar seseorang diwarnai hitam semua. Itu pasti pejuang Indonesia.

Pada bagian lain, komik itu menggambar dengan lebih panjang tentang pertemuan patroli Belanda dengan patroli TNI di sebuah desa. Catatan itu bertanggal 12 Agustus 1949. Pasukan Belanda tiba-tiba terkepung oleh TNI. Mereka beruntung karena pada saat itu sedang berlaku genjatan senjata. Maka yang mereka lakukan kemudian adalah berunding.

Sebagai komikus, Flip juga selalu menyelipkan guyonan, walau sering satir. Juga ketika dia bercerita tentang pertemuan dengan pasukan TNI itu. Dia menyebut, terpaksa mereka harus berunding dengan takut-takut, apalagi seorang penerjemah di pihak TNI punya tampang yang galak.

Juga ada kalimat yang kocak habis ketika Flip bercerita bahwa dia melihat ada momen keren yang harus dia foto ketika komandan saling berunding. "Kujepret beberapa petik foto yang menurutku keren. Tapi kok gemeter juga dan hampir tak dapat menjepret dengan tenang."

Soal ketakutan diserang pejuang Indonesia juga tergambar dari seringnya Flip bercerita tentang tembakan mendadak yang melukai dan menewaskan prajurit Belanda. Dia juga banyak menggambar suasana pemakaman prajurit Belanda.

Cerita tentang kematian serdadu menjadi ironi tersendiri ketika Flip menggambar sosok orang tinggi besar berperut buncit. Dia menggambar mantan komandannya yang datang ke lokasi penembakan. Flip rupanya sangat kesal dan marah dengan sikap komandan itu yang lebih memperhatikan kerugian material berupa senjata dan peralatan militer ketimbang perhatiannya kepada mereka yang terluka dan tewas.

Catatan visual Flip jelas menunjukkan betapa serdadu Belanda juga manusia. Sesuatu yang memberikan gambaran berbeda dengan film-film perang yang menggambarkan mereka sebagai manusia kejam tanpa ampun.

Sebagai komik yang disusun pada masa perang, "Gerda Sayang" tak melulu berkisah tentang perang. Dia bukan cerita heroik semacam Rambo, tapi lebih mirip petualangan Tintin. Miris, lirih, tapi penuh humor.

Humor gelapnya langsung terasa ketika di awal catatan diceritakan bahwa Flip melihat kepergiannya ke Tanah Jawa bagaikan sesuatu yang "gimana gitu". Banyak polisi di sepanjang jalan yang mengawasi kepergian rombongan Flip.

Flip tampaknya memang orang yang kocak. Awak kapal yang mabuk laut pun digambarkan oleh dia menjadi sesuatu yang memaksa pembaca tersenyum. Di bagian lain, boleh jadi, ada pembaca yang dipaksa ngakak.

Catatan ini bolehlah disebut lengkap, bahkan untuk difilmkan. Ada asmara dan rindu. Ada ketakutan, juga dar der dor. Ada perjalanan dari Belanda ke Semarang, Pekalongan, dan pedesaan yang pastinya mengingatkan kita pada pemandangan indah di masa lalu.

Sayang, buku ini baru beredar di kalangan terbatas karena hanya dibagikan kepada mereka yang hadir dalam perayaan HUT ke-71 RI di ANTARA. Akan lebih banyak orang yang bisa melihat sisi kemanusiaan di masa penjajahan jika buku ini bisa dicetak ulang dan muncul di rak-rak toko buku. Setuju?

Sapto Heru

pewarta Antara

Disiarkan 14/10/2016 15:9 WIB | Dibaca 15046 kali