SIMALAKAMA PETANI GARAM

Alat yang digunakan untuk meratakan tanah lahan garam di Desa Santing, Losarang, Indramayu, Jawa Barat.
Petani mengumpulkan garam yang baru dipanen di lahan garam Desa Santing, Losarang, Indramayu, Jawa Barat.
Petani memeriksa kondisi air yang mengairi lahan garam di Desa Santing, Losarang, Indramayu, Jawa Barat.
Petani memperbaiki kincir angin untuk membantu pengairan lahan garam di Desa Santing, Losarang, Indramayu, Jawa Barat.
Petani mengumpulkan garam yang baru dipanen di lahan garam Desa Santing, Losarang, Indramayu, Jawa Barat.
Petani mengolah lahan garam di Desa Santing, Losarang, Indramayu, Jawa Barat.
Petani mengumpulkan garam yang baru dipanen di lahan garam Desa Santing, Losarang, Indramayu, Jawa Barat.
Petani mengolah lahan garam di Desa Santing, Losarang, Indramayu, Jawa Barat.
Petani mengolah lahan garam di Desa Santing, Losarang, Indramayu, Jawa Barat.
Petani mengumpulkan garam yang baru dipanen di lahan garam Desa Santing, Losarang, Indramayu, Jawa Barat.
Petani mengumpulkan garam yang baru dipanen di lahan garam Desa Santing, Losarang, Indramayu, Jawa Barat.
Petani memasukkan garam yang baru dipanen ke dalam karung di lahan garam Desa Santing, Losarang, Indramayu, Jawa Barat.
Petani mengumpulkan garam yang baru dipanen di lahan garam Desa Santing, Losarang, Indramayu, Jawa Barat.
Petani membersihkan garam yang baru dipanen di lahan garam Desa Santing, Losarang, Indramayu, Jawa Barat.
Petani mengangkut garam hasil panen yang akan dijual ke pengepul di Desa Santing, Losarang, Indramayu, Jawa Barat.

Terik matahari siang itu dirasa bagi petani garam tradisional di desa Santing kecamatan Losarang Kabupaten Indramayu sebagai awal yang baik untuk memulai proses produksi garam di lahan yang sebelumnya hampir setahun lebih terbengkalai. Di antara mereka sibuk mencangkul tanah untuk dibuat sebentuk petakan kotak persegi dengan ukuran rata-rata 5 x 5 meter, membuat saluran air dan ada pula yang memperbaiki kincir angin untuk memompa air ke areal lahan garam.

Sebelum dialiri air, petakan tanah yang akan digunakan sebagai lahan garam terlebih dahulu diratakan dengan alat penggiling dari semen dan bambu. Permukaan tanahnya harus rata dan halus, hal itu bertujuan untuk mempermudah proses pemanenan garam.

Usai dihaluskan petakan tanah tersebut diisi air yang dipompa menggunakan kincir angin buatan sendiri. Petani harus pandai-pandai menakar air ke dalam petakan lahan, setelah itu air diuapkan di bawah terik matahari selama tujuh hari. Setelah air mengering dan berubah jadi kristal berwarna putih, barulah petani memanen garam untuk dijual.

Di tengah langkanya persediaan garam di pasaran, petani garam kini menikmati tingginya harga di pasaran. Kelangkaan ini disebabkan mundurnya musim olah garam, curah hujan yang masih tinggi di awal musim kemarau serta gagal panen garam tahun lalu membuat produksi dan stok garam di gudang-gudang desa Santing, Indramayu menipis, bahkan untuk kebutuhan pasar dalam kota saja tidak terpenuhi.

Di tingkat petani harga garam berada pada kisaran Rp3000 per kilogram untuk kualitas standar, sementara untuk kualitas super Rp4000 per kilogram, harga yang fantastis untuk sekilogram garam, padahal di tahun sebelumnya hanya Rp300 per kilogram.

Meski petani garam di desa Santing menikmati tingginya harga garam, namun beberapa usaha kecil dan menengah (UKM) yang produksinya bergantung pada garam seperti pengolahan ikan asin kini tengah kesulitan akibat tingginya harga garam serta sulit mencari pasokan dari petani, bahkan beberapa pengusaha ikan asin terpaksa gulung tikar.

Di sisi lain, petani garam was-was akan masuknya garam impor, yang dikhawatirkan akan menekan harga kembali rendah, mereka berharap pemerintah mengeluarkan kebijakan yang tepat agar tidak terjadi kelangkaan garam di pasaran, namun juga melindungi petani yang menggantungkan hidupnya dari produksi garam.

Foto dan Teks: Dedhez Anggara

Disiarkan 7/8/2017 2:0 WIB | Dilihat 1333 kali