MENCARI TUNTONG LAUT

Pegiat lingkungan Yayasan Satucita Lestari Indonesia menyusuri Sungai Tamiang untuk melacak keberadaan Tuntong laut (Batagur borneoensis), di wilayah Pusung Kapal, Aceh Tamiang, Aceh.
Pegiat lingkungan Yayasan Satucita Lestari Indonesia memeriksa perangkap Tuntong laut (Batagur borneoensis), di Sungai Tamiang, Pusung Kapal, Aceh Tamiang, Aceh.
Pegiat lingkungan Yayasan Satucita Lestari Indonesia, Abu Bakar, bersama rekannya menyusuri Sungai Tamiang untuk melacak keberadaan Tuntong laut (Batagur borneoensis), di wilayah Pusung Kapal, Aceh Tamiang, Aceh.
Pegiat lingkungan Yayasan Satucita Lestari Indonesia mempersiapkan perangkap Tuntong laut (Batagur borneoensis) di Pantai Ujung Tamiang, Aceh Tamiang, Aceh.
Salah satu sisi dinding Pondok Patroli Tuntong laut (Batagur borneoensis) di Pantai Ujung Tamiang, Aceh Tamiang, Aceh.
Seorang pegiat lingkungan beraktivitas di depan Pondok Patroli Tuntong laut (Batagur borneoensis) di Pantai Ujung Tamiang, Aceh Tamiang, Aceh.
Kawasan muara sungai habitat Tuntong laut (Batagur borneoensis) di Pantai Ujung Tamiang, Aceh Tamiang, Aceh.
Seekor Tuntong laut (Batagur borneoensis) berjalan menuju sungai setelah direkam data dan dipasangi microchip, di Pantai Ujung Tamiang, Aceh Tamiang, Aceh.
Pegiat lingkungan Yayasan Satucita Lestari Indonesia menimbang berat Tuntong laut (Batagur borneoensis) yang berhasil tertangkap, di Pantai Ujung Tamiang, Aceh Tamiang, Aceh.
Seekor Tuntong laut (Batagur borneoensis) berada di Pantai Ujung Tamiang, Aceh Tamiang, Aceh.
Pegiat lingkungan Yayasan Satucita Lestari Indonesia menimbang berat Tuntong laut (Batagur borneoensis) yang berhasil tertangkap, di Pantai Ujung Tamiang, Aceh Tamiang, Aceh.
Pegiat lingkungan Yayasan Satucita Lestari Indonesia membawa Tuntong laut (Batagur borneoensis) yang berhasil tertangkap saat akan dilepas kembali, di Pantai Ujung Tamiang, Aceh Tamiang, Aceh.
Pegiat lingkungan Yayasan Satucita Lestari Indonesia menyuntikkan microchip ke badan Tuntong laut (Batagur borneoensis) yang berhasil tertangkap, di Pantai Ujung Tamiang, Aceh Tamiang, Aceh.
Seekor Tuntong laut (Batagur borneoensis) berjalan di Pantai Ujung Tamiang, Aceh Tamiang, Aceh.
Seorang pengunjung mengikuti kegiatan patroli pengamanan Tuntong laut (Batagur borneoensis) di Sungai Tamiang, Pusung Kapal, Aceh Tamiang, Aceh.

Pagi itu, di awal Agustus 2017, sejumah orang terlihat sibuk di atas perahu yang tengah bersandar di belakang Pos Patroli Tuntong Laut di Pantai Ujung Tamiang, Aceh Tamiang, Aceh. Mereka ialah Abu Bakar bersama sejumlah rekannya, para pegiat lingkungan yang tergabung dalam Yayasan Satucita Lestari Indonesia. Mereka tengah mempersiapkan perangkap untuk menangkap salah satu reptil terlangka di dunia, tuntong laut (Batagur borneoensis), untuk kepentingan perekaman data dan penyuntikan cip mikro.

Setelah perangkap siap dan umpan berupa pisang dipasang, para pegiat lingkungan itu mulai berpatroli menyusuri muara sungai bervegetasi tanaman bakau untuk melacak keberadaan tuntong laut sekaligus menempatkan perangkap. Waktu dan kesabaran dibutuhkan untuk menangkap kura-kura bernama lain tuntung atau tumtum di habitat alaminya. Tak jarang, Abu Bakar dan kawan-kawan kembali dengan tangan hampa.

Perburuan individu dewasa secara besar-besaran pada kurun waktu 80-90-an, penjarahan telur untuk dikonsumsi dan diperjualbelikan, serta alih fungsi lahan hutan bakau di sekitar muara sungai merupakan faktor penyebab satwa bernama lain Painted terrapin ini sulit ditemukan dan kini berada di ambang kepunahan. Berdasarkan hasil identifikasi, pada 2009-2010 populasi tuntong laut di Kabupaten Aceh Tamiang, khususnya di Seruway dan Sungai Iyu diperkirakan tidak lebih dari seratus ekor.

Populasinya yang minim menempatkan tuntong laut berstatus critically endangered dan berada di urutan ke-25 dari 327 spesies yang termasuk kategori hampir punah berdasarkan International Union for Conservation of Nature (IUCN), serta terdaftar sebagai Appendix II plus zero quota for wild specimen to trade dalam The Convention on International Trade in Endagered Species of Wild Fauna and Flora (CITES). Tuntong laut juga berstatus prioritas sangat tinggi dalam Permenhut Nomor P.57/Menhut II/2008 tentang Arahan Strategis Konservasi Spesies Nasional 2008-2018.

Namun, secercah harapan muncul melalui aksi nyata para pegiat lingkungan dari Yayasan Satucita Lestari Indonesia. Sejak 2009, mereka terjun dalam upaya konsevasi dan pelestarian tuntong laut. Dengan dukungan sejumlah instansi terkait setempat dan partisipasi PT Pertamina EP Asset 1 Rantau Field melalui program corporate social responsibility (CSR) bidang lingkungan pada 2013, para pegiat lingkungan Yayasan Satucita Lestari Indonesia telah berhasil melepasliarkan 1.204 tukik tuntong laut dan mengembalikan 73 betina dewasa ke habitat.

Sejak 2013, kegiatan Yayasan Satucita Lestari Indonesia tak terbatas hanya pada patroli pengamanan. Mereka mulai melakukan upaya pembesaran dan pelepasan, sosialisasi pelestarian satwa liar, pemantauan populasi, dan penelitian genetika. Keberadaan para ‘penjaga’ tuntong laut itu menjadi harapan bagi generasi mendatang untuk dapat melihat langsung spesies kura-kura air tawar-darat di habitat asli mereka di alam Indonesia.

Foto dan Teks: Ismar Patrizki

Disiarkan 11/8/2017 9:0 WIB | Dilihat 1332 kali