MENANTI MATAHARI RANU KUMBOLO

Suasana antrean pengajuan Surat Izin Masuk Kawasan Konservasi (Simaksi) TNBTS di Pos Pendakian Gunung Semeru, Ranu Pani, Lumajang, Jawa Timur.
Pendaki bersiap memasuki gerbang jalur pendakian Gunung Semeru di Desa Ranu Pani, Lumajang, Jawa Timur.
Para pendaki melintasi jalur Ranu Kumbolo menuju Pos Jambangan.
Pendaki mengepak barang bawaan dalam tas carrier di Pos IV Jalur Pendakian Semeru, Jawa Timur.
Jajaran pohon cemara terlihat dari Pos III Jalur Pendakian Gunung Semeru, Jawa Timur.
Pendaki menikmati secangkir kopi di Ranu Kumbolo, Lumajang, Jawa Timur.
Matahari terbit dari balik bukit Ranu Kumbolo, Jawa Timur.
Seorang pendaki mengambil air Ranu Kumbolo untuk memasak.
Deretan tenda pendaki Gunung Semeru berjajar di tepi Ranu Kumbolo.
Seorang pendaki membaca Alquran disela-sela beristirahat di Ranu Kumbolo, Jawa Timur.
Mentari muncul menyinari tenda-tenda pendaki di Ranu Kumbolo.
Aturan mendirikan tenda di Ranu Kumbolo.
Bunga Edelweiss tumbuh di sekitar Pos Jambangan yang berketinggian 2600 mdpl.

Suara alarm nyaring terdengar, waktu menunjukkan 04.15 WIB. Diselimuti suhu pada ketinggian 2400 mdpl, satu demi satu pendaki memulai aktivitasnya. Mencoba menghangatkan tubuh dengan secangkir kopi ataupun teh panas. Sebagian lagi sibuk dengan peralatan kamera untuk merekam momen matahari terbit di ujung Ranu Kumbolo.

Ranu Kumbolo, adalah danau air tawar di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) yang menawarkan pemandangan indah di kaki Gunung Semeru.

Untuk mendaki Semeru, diperlukan kelengkapan izin pendakian atau Simaksi dan surat keterangan sehat. Saat ini untuk pengurusan Simaksi pendaki harus antre di Pos Pendakian Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, Desa Ranu Pani.

Rencananya mulai Oktober 2017 pendaftaran dapat dilakukan secara online. Pengelola TNBTS membatasi sebanyak 500 pendaki per hari yang akan memasuki kawasan tersebut. Hal tersebut dilakukan semata untuk melindungi kawasan konservasi, termasuk danau Ranu Kumbolo.

Untuk mencapai danau ini, para pendaki harus melewati empat pos. Dimulai dari Desa Ranu Pani yang merupakan desa terakhir menuju gerbang jalur pendakian Gunung Semeru, pendaki akan melintasi perkebunan sayuran milik warga.

Perjalanan menuju Pos I melalui jalan setapak yang sebagian besar berupa tanah padat dan paving. Sepanjang jalur menuju Pos I, pendaki akan melewati tanaman berbuah warna ungu yang menarik perhatian. Tapi jangan sekali-kali mencoba memakan buah itu karena akan membuat sakit perut.

Jalanan akan sedikit menanjak saat mendekati Pos I. Di Pos I pendaki akan menjumpai warung yang menjual semangka potongan, gorengan, dan kopi. Lumayan memberi energi hingga pos berikutnya. Penjual semangka akan kita temui di setiap pos jalur pendakian Gunung Semeru, bahkan sampai di atas Kalimati.

Selepas pos I, pendaki masih akan melewati jalanan yang relatif rata sampai di Watu Rejeng. Biasanya para pendaki akan beristirahat sejenak di sana sebelum menuju Pos III yang cukup menguras tenaga.

Sesampainya Pos III, tantangan berikutnya adalah menaklukkan tanjakan yang berada persis di sebelah warung semangka. Tanjakan yang hampir memiliki kemiringan 70 derajat ini cukup membuat banyak pendaki ‘ngos-ngosan’.

Perjalanan akan sedikit terobati karena mulai terlihat Puncak Mahameru dari kejauhan. Tak jauh lagi akan nampak Ranu Kumbolo di sisi kiri jalur pendakian. Bunga Edelweiss mulai terlihat di kanan kiri. Keindahan bunga abadi ini memang menggoda, tapi jangan pernah memetiknya.

Secara keseluruhan, waktu tempuh rata-rata dari gerbang pendakian sampai ke Ranu Kumbolo adalah 4-6 jam. Hamparan luas di Ranu Kumbolo membuat pendaki bergegas untuk mendirikan tenda dengan mengikuti rambu-rambu batas pendirian tenda dan jika pendaki melanggarnya akan disuruh bongkar paksa oleh petugas TNBTS.

Pesona Ranu Kumbolo menjadi salah satu andalan TNBTS yang merupakan salah satu dari 10 Destinasi Prioritas Kepariwisataan Indonesia yaitu Danau Toba (Sumatera Utara), Tanjung Kelayang (Bangka Belitung), Tanjung Lesung (Banten), Kepulauan Seribu (DKI Jakarta), Candi Borobudur (Jawa Tengah), Mandalika (NTB), Labuan Bajo (NTT), Wakatobi (Sulawesi Tenggara), dan Morotai (Maluku Utara).

Foto dan Teks: Puspa Perwitasari

Disiarkan 19/8/2017 4:0 WIB | Dilihat 1494 kali