TRADISI SEMANA SANTA NAN SAKRAL
Larantuka hanyalah sebuah kota kecil terletak di kaki Gunung (Ile) Mandiri yang langsung berhadapan dengan lautan sempit di antara Pulau Adonara dan ujung timur Pulau Flores.
Di kota itu terdapat tradisi keagamaan warisan Portugis yang sudah berlangsung lebih dari 500 tahun ketika bangsa Portugis menyebarkan agama Katolik dan berdagang cendana di Kepulauan Nusa Tenggara, yaitu prosesi Semana Santa (Pekan Suci) untuk memperingati proses penyaliban, kematian dan kebangkitan Yesus Kristus.
Menjelang prosesi itu berbagai kegiatan sudah dilakukan mulai dari pemasangan lilin di pagar-pagar dan pembersihan lokasi serta pembersihan patung-patung Bunda Maria sebagai persiapan jelang kegiatan religi nan sakral tersebut.
Perayaan tersebut diawali hari Rabu yang disebut Trewa (dalam tradisi Gereja Katolik artinya bunyi-bunyian), sebuah ritual yang sudah jarang dilakukan oleh Gereja Katolik lainnya, kecuali gereja-gereja Katolik yang ada di wilayah Keuskupan Larantuka, yang terbentang mulai dari Flores Timur daratan, Pulau Adonara, Solor dan Lembata.
Pada malam Rabu Trewa sejumlah anak membawa seng-seng bekas yang ditarik yang kemudian menimbulkan kegaduhan usai sejumlah keluarga berdoa di dalam gereja Tuan Ma (Bunda Maria) di depan gambar Tuan Ma.
Esoknya, pada peringatan Kamis Putih (peringatan perjamuan terakhir) tak ada lagi bunyi-bunyian dan suasana sepi. Arca Tuan Ma (patung Bunda Maria) yang tersimpan di Kapel Maria Pante Kebis itu mulai dimandikan oleh lima suku besar di Larantuka dan acara itu tertutup bagi orang luar.
Tuan Ma hanya dikeluarkan setahun sekali saat tibanya perayaan jelang Perjamuan Tuhan yakni pada Kamis Putih dan Paskah. Keluarga kerajaan mendapat kesempatan pertama untuk mencium tangan patung Tuan Ma kemudian peziarah juga berkesempatan mencium patung tersebut.
Prosesi itu diikuti dengan mencium patung Tuan Ana yang diyakini sebagai lambang peti jenazah Yesus Kristus yang berada di Kapel Lohayong.
"Usai mencium Tuan Ma dan Ana (saat Kamis Putih), umat kemudian diajak untuk mengikuti prosesi Tuan Meninu (arca bayi Yesus) yang perarakannya melalui laut (dalam prosesi Jumat Agung), dan susunan perarakannya paling depan harus dilalui oleh patung Tuan Meninu yang dimuat di dalam sebuah sampan," kata budayawan asal Larantuka, Bernadus Tukan.
Prosesi Laskar Laut Tuan Meninu yang menjadi bagian dari prosesi Jumat Agung dilakukan pada Jumat pagi sekitar pukul 10.00. Setelah berdoa di kapel, Tuan Meninu diarak lewat laut dengan acara yang semarak nan sakral. Prosesi laut melawan arus ini berakhir di Pante Kuce, depan istana Raja Larantuka dan dilanjutkan berbagai prosesi di antaranya mengantar salib dari kapel ke perhentian penataan patung (armida).
Kemudian Arca Tuan Ma diarak bersama Arca Tuan Ana menuju Katedral dengan iringan ribuan umat yang menjadi puncak Semana Santa pada Jumat Agung dimana umat memperingati derita proses kematian Yesus dalam prosesi jalan salib. Arca Tuan Ana sendiri hanya boleh dipikul oleh empat orang bernama Lakademu yang berpakaian seperti kurcaci yang topi atasnya berbentuk runcing.
Arak-arakan tersebut mengelilingi Kota Larantuka dan menyinggahi delapan buah perhentian (armida) yang menggambarkan seluruh kehidupan Yesus Kristus sebelum berakhir di Katedral Larantuka.
Semana Santa yang dalam bahasa setempat disebut Hari Bae orang Nagi, berakhir pada Minggu Alleluia, hari raya Paskah, yang merayakan kemenangan Yesus atas kematian.
Foto dan Teks: Kornelis Kaha
Pewarta: Kornelis Kaha | Editor:
Disiarkan: 11/04/2016 17:00