BELAJAR DAKWAH MENGGUNAKAN BAHASA ISYARAT

Aldo (kiri) bersiap untuk mengikuti belajar dakwah dengan Bahasa isyarat di Bekasi, Jawa Barat.
Seorang teman tuli (Mantul) Sandi (tengah) berdakwah menggunakan Bahasa Isyarat di Masjid Nurul Iman, Bekasi, Jawa Barat.
Sejumlah umat Islam belajar dakwah menggunakan Bahasa Isyarat yang dibimbing oleh penerjemah di Bekasi, Jawa Barat.
Seorang teman tuli (Mantul) Aldo memperagakan dakwah dengan Bahasa Isyarat di Bekasi, Jawa Barat.
Aldo membaca Al Quran menggunakan Bahasa Isyarat di Masjid Nurul Iman, Bekasi, Jawa Barat.
Dua orang teman tuli (mantul) Ilham (kiri) dan Sandi (kanan) berdiskusi tentang dakwah di Bekasi, Jawa Barat.
Seorang penerjemah melihat video teman tuli yang berdakwah melalui media sosial di Bekasi, Jawa Barat.
Seorang teman tuli (mantul) Sandi (kedua kiri) didampingi penerjemah berdakwah ke rumah-rumah warga tentang Shalat wajib dalam Islam dengan menggunakan Bahasa Isyarat di Bekasi, Jawa Barat.

Islam adalah agama dakwah, yang berarti para pemeluknya hendaklah senantiasa belajar dan mengajarkan Islam kepada seluruh umat. Seperti yang dicontohkan Nabi Muhammad SAW yang tiada Lelah memperkenalkan dan mengajarkan ilmu tauhid serta nilai-nilai keislaman untuk mengubah peradaban manusia kembali kepada fitrah yang baik. Di Masjid Nurul Iman Bina Lindung, Jatiwaringin, Bekasi usai Shalat Dzuhur beberapa jamaah duduk melingkar mendengarkan penjelasan Tarjim (penerjemah) sambil mengikuti dan menghafalkan gerakan tangan saat belajar dakwah menggunakan bahasa isyarat.

Para penerjemah membawa tiga orang anggota Mantul (teman Tuli) untuk belajar dan mempraktekkan ilmu yang mereka pelajari. Mereka adalah Aldo, Ilham, dan Sandi asal Cikarang, Kabupaten Bekasi. Selain berdakwah di masjid, mereka juga mendatangi rumah-rumah warga untuk mengajak shalat berjamaah di masjid ketika sore hari. Cara tersebut dilakukan dengan tujuan melatih mental Mantul untuk bertemu orang baru saat berdakwah.

Salah satu penerjemah, Sodiq menuturkan telah tiga tahun membimbing anak-anak tunarungu di daerah tersebut dengan mengajak ke masjid-masjid untuk memberikan edukasi kepada masyarakat tentang pentingnya dakwah Islam bagi penyandang tunarungu. Berdasarkan data Komite Pusat Penanggulangan Gangguan Pendengaran dan Ketulian (PGPKT), sekitar 5.200 anak Indonesia terlahir dengan tidak bisa mendengar.

Di lingkungan keluarga mereka sendiri banyak teman-teman tuli yang tidak bisa berkomunikasi dengan lancar karena keterbatasan pengetahuan keluarga berbahasa Isyarat. Awalnya anggota Mantul ini diberikan pelajaran mengenal huruf alphabet karena kebanyakan dari mereka tidak mengikuti sekolah formal. Setelah itu, penerjemah mengajarkan membaca Al Quran dan hadis kepada Mantul.

Para penerjemah berharap kedepannya dapat membuat sekolah tunarungu di Bekasi untuk membantu para teman tuli di daerah tersebut untuk mendapatkan pendidikan yang layak.





Teks dan Foto : Fakhri Hermansyah

Editor : Puspa Perwitasari

Pewarta: Fakhri Hermansyah | Editor:

Disiarkan: 12/04/2023 02:20