Krisis air bersih akibat El Nino

Warga mengambil air dari embung di Desa Pajukukang, Kecamatan Bontoa, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan.
Seorang bocah selesai mandi di dekat embung di Desa Pajukukang, Kecamatan Bontoa, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan.
Warga membawa ember berisi air bersih di Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan.
Foto udara suasana Bendung Leko Pancing yang debit airnya menurun drastis di Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan.
Sejumlah bocah bermain di area persawahan yang mengering akibat musim kemarau di Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan.
Foto udara area persawahan yang mengering akibat kemarau di Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan.
Warga memegang ember saat mengantre untuk mendapatkan bantuan air bersih di Makassar, Sulawesi Selatan.
Petugas BPBD Maros menyalurkan bantuan air bersih kepada warga di Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan.
Sejumlah warga mengatre untuk mendapatkan bantuan air bersih di Makassar, Sulawesi Selatan.
Petugas BPBD Maros mengisi jeriken milik warga dengan air saat penyaluran bantuan air bersih di Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan.

Terik matahari menyilaukan para warga mencuci pakaian di embung yang masih memiliki cadangan air. Sebagian lainnya mengisi jerigen untuk dibawa pulang ke rumah. Bahkan ada warga yang mulai membeli air bersih guna memenuhi kebutuhan sehari-hari.



Sejak memasuki musim kemarau, berbagai wilayah di Sulawesi Selatan mulai merasakan dampak kekeringan. Area persawahan mulai mengering. Sebagian dialih fungsikan untuk menanam palawija, sebagian lainnya hanya menjadi lahan tidur. Puluhan embung yang menjadi sumber air bersih warga di Kecamatan Bontoa, Kabupten Maros, Sulsel, pun telah kering. Tak ayal krisis air bersih melanda daerah itu.



Fenomena El Nino akibat meningkatnya suhu muka laut di Samudera Pasifik bagian tengah dan timur memperparah dampak kemarau tahun ini. Berdasarkan data Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Sulsel pada dasarian II September 2023, sebagian wilayah di pesisir barat dan selatan Provinsi Sulsel masuk kategori kekeringan ekstrem dengan hari tanpa hujan (HTH) lebih dari 60 hari.



Musim kemarau tahun ini yang diperkirakan lebih kering dibanding tiga tahun sebelumnya, mengakibatkan krisis air bersih meluas di sejumlah wilayah. Sedikitnya delapan kecamatan yang terdampak di Kota Makassar. Produksi air PDAM di daerah itu menurun hingga 50 persen atau sekitar 500-800 liter per detik dari normalnya 1.300 liter per detik. Disebabkan oleh penurunan debit air secara drastis di Bendung Leko Pancing, Kabuten Maros, yang menjadi salah satu sumber air baku PDAM Makassar.



Hingga akhirnya, Pemerintah Kota Makassar menetapkan status tanggap darurat bencana kekeringan di daerah itu. Menyiapkan anggaran bantuan tak terduga (BTT) sebesar Rp7 miliar untuk penanganan masalah kekeringan tersebut. Penyaluran bantuan air bersih kepada warga terdampak mulai dilakukan. Sebanyak 125 ribu-150 ribu liter air bersih didistribukan setiap hari.



Selain Kota Makassar, dua kabupaten lainnya yakni Kabupaten Maros dan Jeneponto juga menetapkan status tanggap darurat bencana kekeringan.



Foto dan Teks: Arnas Padda

Editor: Yusran Uccang

Pewarta: Arnas Padda | Editor:

Disiarkan: 03/10/2023 19:46