Meraih fitrah di tanah bencana

Bangunan tempat tinggal yang hancur akibat banjir bandang di Desa Tetingi, Pantan Cuaca, Gayo Lues, Aceh.
Pemudik berjalan di area bencana saat pulang kampung di Desa Tetingi, Pantan Cuaca, Gayo Lues, Aceh.
Warga penyintas bencana bermaafan bersama keluarga di hunian sementara (huntara), Desa Agusen, Blangkejeren, Gayo Lues, Aceh.
Warga penyintas bencana menyaksikan kembang api di Desa Tetingi, Pantan Cuaca, Gayo Lues, Aceh.
Warga penyintas bencana berjalan untuk melaksanakan shalat Idul Fitri 1447 H di hunian sementara (huntara), Desa Agusen, Blangkejeren, Gayo Lues, Aceh.
Warga penyintas bencana berjalan untuk melaksanakan shalat Idul Fitri 1447 H di Desa Agusen, Blangkejeren, Gayo Lues, Aceh.
Warga penyintas bencana melaksanakan shalat Idul Fitri 1447 H di area bencana banjir bandang, Desa Agusen, Blangkejeren, Gayo Lues, Aceh.
Warga penyintas bencana bersalaman usai melaksanakan shalat Idul Fitri 1447 H di area bencana banjir bandang, Desa Agusen, Blangkejeren, Gayo Lues, Aceh.
Warga berdoa di atas pusara pemakaman massal pada hari kedua Idul Fitri 1447 H di kawasan hunian sementara (huntara) Desa Agusen, Blangkejeren, Gayo Lues, Aceh.
Warga penyintas bencana mengendarai mobil saat akan bersilaturahmi pada hari Idul Fitri 1447 H di area bencana banjir bandang, Desa Tetingi, Pantan Cuaca, Gayo Lues, Aceh.
Keluarga Idris penyintas bencana berpose di bangunan rumahnya yang terendam lumpur akibat bencana banjir bandang di Desa Tetingi, Pantan Cuaca, Gayo Lues, Aceh.
Warga penyintas bencana Mukmin berpose di bangunan rumahnya yang hancur akibat bencana banjir bandang di Desa Tetingi, Pantan Cuaca, Gayo Lues, Aceh.
Keluarga Salim penyintas bencana berpose di atas tanah tempat bangunan rumahnya yang hilang akibat bencana banjir bandang di Desa Tetingi, Pantan Cuaca, Gayo Lues, Aceh.
Keluarga Jafar penyintas bencana berpose di atas tanah tempat bangunan rumahnya yang hilang akibat bencana banjir bandang di Desa Tetingi, Pantan Cuaca, Gayo Lues, Aceh.
Kepala Desa Agusen Ramadan penyintas bencana berpose bersama keluarganya di lokasi rumahnya yang hancur akibat bencana banjir bandang di Desa Agusen, Blangkejeren, Gayo Lues, Aceh.

Kabut pagi masih menggantung rendah menutupi sebagian perbukitan yang seolah menjadi pagar untuk Desa Agusen dan Desa Tetingi, sebuah kampung sunyi di wilayah Gayo Luwes, Aceh.

Udara dingin menyusup perlahan di sela-sela pepohonan, sisa-sisa reruntuhan akibat bencana banjir bandang pada November 2025 serta susulannya di awal tahun 2026, seolah membawa cerita panjang tentang luka sekaligus harapan yang tak pernah benar-benar padam.

Perantau mulai berdatangan di penghujung bulan suci Ramadhan untuk dapat bersilaturahmi bersama keluarga serta merayakan hari Idul Fitri, meski harus berjalan kaki menuju lokasi karena jalan belum bisa dilalui sepenuhnya. Silaturahmi yang tak sama dengan tahun-tahun sebelumnya karena lumpur telah mengubur kampung mereka.

Dengan keterbatasan, warga yang mulai menempati hunian sementara (huntara) tetap mempersiapkan hari raya. Tradisi tetap dijalankan. Bambu-bambu dipotong untuk memasak lemang. Di Desa Agusen, warga menyembelih sapi untuk dimasak dan dinikmati bersama keluarga, kerabat maupun yatim piatu menjelang Idul Fitri dalam rangkaian tradisi meugang.

Warga juga bergotong royong membersihkan sisa puing bencana banjir bandang untuk dijadikan lahan Shalat Idul Fitri 1447 H. Makna kebersamaan menemukan bentuknya bahwa dalam keterbatasan, manusia justru kembali pada fitrahnya sebagai makhluk sosial, saling membantu, saling menjaga.

Tak lupa para penyintas bencana tetap membayarkan zakatnya sebagai bentuk menjalankan kewajiban dalam rukun Islam, untuk disalurkan kepada penerima zakat.

“Disini zakat berupa beras, meskipun kami dilanda bencana, zakat merupakan kewajiban yang harus tetap dibayarkan, nanti penyalurannya baru kita bagikan lagi kepada penerima zakat,” ujar Salim, Wakil Imam Masjid Darurat Al-Muhsinin.

Adzan maghrib pun berkumandang, penanda berakhirnya bulan suci Ramadhan 1447 H. Setelah berbuka puasa dan melaksanakan shalat maghrib,  anak-anak mulai berkumpul untuk bermain dan menyalakan kembang api untuk menyambut hari kemenangan, dengan diiringi gema takbir yang terlantun dari setiap kampung yang tersisa, memecah keheningan lembah seolah ingatan akan bencana, tenggelam bersama senyum dan kegembiraan anak-anak serta warga di huntara.

Ini bukan tentang melupakan luka, melainkan tentang berdamai dengannya. Tentang menerima bahwa kehidupan akan terus berjalan, dan bahwa di setiap reruntuhan selalu ada ruang untuk renung dan kemauan untuk memulai kembali.

Hari kemenangan pun tiba, usai shalat subuh para warga di huntara mendatangi rumah penduduk yang paling tua untuk bersilaturahim dan memohon maaf lahir batin sebelum menuju lapangan untuk melaksanakan shalat Idul Fitri.

Lantunan takbir berkumandang mengiringi langkah warga yang mengenakan baju terbaik mereka, menapaki sisa-sisa bencana, untuk menunaikan ibadah di pagi itu.

Jamaah melakukan shalat Idul Fitri dengan khusyuk, bertakbir dan bersujud di tanah datar yang menjadi saksi akan kebesaran alam, untuk memohon ampunan dan karunia dari Sang Pencipta.

Di tanah ini, bencana bukan sekadar peristiwa ia adalah bagian dari ingatan kolektif. Longsor  dan banjir bandang yang datang tiba-tiba, hujan deras yang tak kenal waktu, serta jalanan terjal yang membatasi akses dunia luar, menjadi ujian yang bisa jadi berulang.

Namun di balik semua itu, masyarakat Tetingi dan Agusen memilih untuk tetap bertahan, merawat hidup, memetik pelajaran dan hikmah untuk menjadi manusia yang kuat dan penuh harap saat menatap fitrah mereka, sebuah lembaran baru.

 

Foto dan Teks : Muhammad Adimaja

Editor : Fanny Octavianus

Pewarta: Muhammad Adimaja | Editor:

Disiarkan: 24/03/2026 01:03