Di pundak generasi muda, Reog Ponorogo terus berjaya
Suara gamelan menggema dari gedung serbaguna SMP Negeri 2 Ponorogo, mengiringi langkah para pelajar yang memenuhi aula untuk menjalani latihan. Di dalam ruangan, penari Jathilan menghafalkan pola lantai, Bujang Ganong berulang kali menyempurnakan gerak lincahnya, Klono Sewandono berlatih menyelaraskan gerak yang tegas dan berwibawa, sementara Warok dan Singo Barong membangun kekuatan serta kekompakan dalam setiap adegan. Di sisi lain, para pengrawit menjaga tempo dan harmoni agar setiap gerakan menyatu dengan iringan musik. Sesi latihan tersebut menjadi bagian dari persiapan Kelompok Reog Jaya Manggala menuju Festival Reog Remaja 2026.
Kelompok reog yang menjadi ekstrakurikuler wajib di SMP Negeri 2 Ponorogo itu beranggotakan 125 siswa. Mereka terbagi dalam berbagai formasi unsur pertunjukan, yakni terdiri dari 28 penari Jathilan, 4 Bujang Ganong, 1 Klono Sewandono, 20 penari Warok, dan 7 Singo Barong (Dhadhak Merak) serta sisanya diisi tim pengrawit. Latihan dilakukan secara bertahap, mulai dari penguasaan gerak, penyelarasan iringan musik, evaluasi formasi, hingga gladi menjelang pementasan. Setiap proses menjadi bagian penting dalam membangun kekompakan sebuah pertunjukan yang melibatkan ratusan pelaku seni.
Di balik latihan yang berlangsung hampir setiap hari menjelang festival, para siswa tetap menjalankan perannya sebagai pelajar. Seusai mengikuti pembelajaran di kelas, Pagi hingga siang mereka menimba ilmu di ruang-ruang kelas, sementara selepas bel pulang berbunyi, langkah-langkah mereka beralih menuju tempat latihan. Mereka kembali berlatih untuk menyempurnakan setiap gerakan dan irama. Kemampuan membagi waktu antara belajar dan berlatih menjadi bagian dari proses yang mereka jalani untuk menjaga tradisi sekaligus memenuhi tanggung jawab sebagai peserta didik.
Kepala SMP Negeri 2 Ponorogo, Imam Saifudin, mengatakan bahwa bagi sekolahnya Reog Ponorogo bukan sekadar kesenian yang ditampilkan pada momen tertentu, melainkan warisan budaya yang telah mengakar dalam kehidupan sekolah. Komitmen tersebut diwujudkan melalui kegiatan ekstrakurikuler wajib yang dilaksanakan setiap minggu sebagai ruang bagi siswa untuk mempelajari sekaligus melestarikan budaya daerah khususnya Reog Ponorogo. Persiapan menghadapi Festival Reog Remaja 2026 dilakukan selama tiga bulan dengan dukungan guru, siswa, komite sekolah, orang tua, hingga mitra strategis. Seluruh proses diarahkan untuk menghasilkan penampilan terbaik sekaligus menanamkan nilai disiplin, kerja sama, dan tanggung jawab kepada para siswa.
Pengakuan Reog Ponorogo oleh UNESCO sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) dunia menjadi tonggak penting, sekaligus pengingat bahwa pelestarian tidak berhenti pada pengakuan internasional. Upaya tersebut membutuhkan ruang bagi generasi muda untuk terus belajar, berlatih, dan tampil. Melalui penyelenggaraan Festival Reog Remaja 2026, Pemerintah Kabupaten Ponorogo memberikan wadah bagi pelajar untuk mengembangkan kemampuan sekaligus memperkuat regenerasi pelaku seni Reog. Sehingga latihan, persiapan, hingga penampilan di panggung festival yang dijalani siswa SMP Negeri 2 Ponorogo menjadi bagian dari proses menjaga keberlangsungan tradisi, agar tetap hidup dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
Foto&Teks : Muhammad Mada
Editor: Zarqoni Maksum
Pewarta: Muhammad Mada | Editor:
Disiarkan: 08/07/2026 14:19