Mengamankan Mata Jokowi

Adzan magrib sebentar lagi terdengar dan memenuhi relung-ruang Museum Bank Mandiri. Pada Jumat (18/12) petang itu, presiden Jokowi duduk mendengarkan penjelasan pewarta foto senior Reuters, Beawiharta, yang bertindak sebagai kurator pameran foto "Setahun Kerja Jokowi-JK". Bea menjelaskan sistem kuratorial pameran bertujuan agar pemerintah dan masyarakat dapat kembali mengamati foto-foto sebagai representasi waktu dimana atmosfir kejadian dapat dipetik hikmahnya, ataupun atasnya bisa ada perbaikan demi masyarakat dan eksistensi negeri demokrasi ini. Tentu dia tak lupa menyampaikan bahwa dalam imaji pada pilihan foto-foto yang dipamerkan terdapat juga aksi unjuk rasa dan peristiwa demi peristiwa yang ditampilkan sebagaimana lensa memetiknya.

Kurator foto jurnalistik dalam menjalankan mandat tugasnya selalu memperoleh kewenangan penuh atas proses kuratorial mulai dari ide, benang merah, penyuntingan, hingga menentukan display pameran yang akan disesuaikan dengan ruang dan alur yang sekaligus menjadi panduan pengamatan pemirsa. Kewenangan pada kurator terbentuk pada kemerdekaan yang terukur atas kematangan dan jam terbang dalam dirinya. Tentu dengan kepatutan yang menjadi pertimbangan matang seperti pada Bea, kurator yang telah cukup makan asam garamnya dunia fotografi jurnalistik kita yang begitu dinamis sejak runtuhnya pemerintahan tangan besi Orde Baru.



Mengingat pameran ini menyangkut kinerja pemerintahan Jokowi-JK, termasuk pembantu-pembantunya, maka panitia telah menyorongkan foto-foto hasil kurasi pada protokol dan pejabat berwenang lainnya yang berkaitan dengan konten fotografinya. Lampu hijau kemudian diperoleh, bahkan Kepala Staf Presiden Teten Masduki, Menteri Tenaga Kerja Hanif Dhakiri, serta Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Basuki Hadimuljono telah terlebih dahulu tiba di lokasi sempat mengamati foto-foto yang dipamerkan satu-persatu.

Rupanya saat Jokowi melangkah masuk ke ruangan setibanya rombongan di gedung bergaya art-deco bekas kantor perusahaan bank Belanda yang dibangun berdasarkan rancangan tiga arsitek terkenal Belanda de Bruijn, Smits dan Van den Linde, yang rampung pembangunannya pada 1929 tersebut, sejumlah oknum Pengamanan Presiden tengah menjalankan "misi khusus" yakni mencopot lima foto dari 80 foto yang dipajang dalam pameran tanpa diketahui Jokowi. Mereka bekerja dalam senyap menyembunyikan foto tersebut ke dalam lemari di salah satu sudut di dalam ruangan pameran. Sejak itu, pameran "Setahun Kerja Jokowi-JK" tak lagi utuh. Termasuk saat sang kurator menjelaskan konsep kuratorial pameran tadi kepada presiden.

Seperti yang dirujuk pada Kompas.com, kelima foto itu adalah imaji saat Jokowi mencium tangan Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri dalam peringatan HUT ke 42 PDI-P dan foto relawan Jokowi yang meminta Komjen Budi Gunawan tidak dilantik menjadi Kapolri. Foto lain yang diturunkan tanpa izin panitia adalah foto tulisan "Turunkan Jokowi-JK" di Makassar, foto aksi Kamisan di depan Istana Merdeka, serta foto Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti di dalam mobil seusai seusai menggelar jumpa pers di Gedung KPK.

Hanya beberapa saat setelah rombongan Jokowi meninggalkan acara, pers online dan media sosial telah ramai memberitakan kelima foto yang diamankan dari mata Jokowi tersebut. Kelima foto yang tadinya disembunyikan dari mata Jokowi, sekarang malah beredar kembali secara luas. Apalagi kelima foto tersebut, toh adalah imaji yang pernah dipublikasikan sebelumnya oleh media masing-masing. Pers merdeka adalah salah satu anak kandung reformasi yang hadir untuk melakukan fungsi jurnalismenya demi informasi kepada publik dan catatan kritis bagi pemerintah. Saat jurnalisme visual berkembang lebih cepat ketimbang cahaya, ketika mesin pencari macam Google Street telah berada di depan pintu rumah kita secara visual, maka keterbukaan yang terukur adalah jalan pada kematangan jurnalisme dalam alam demokrasi.

Tindakan arogansi oknum Pampres tersebut jelas melecehkan hasil kerja keras kurator dan institusi Pewarta Foto Indonesia (PFI) yang menggelar acara tersebut justru agar pengelola negeri ini beroleh fakta yang nyata dari lapangan kerja dimana mereka berkiprah. Jurnalistik masa kini tak berhenti pada saat berita atau pewartaan foto dipublikasi. Namun imaji tersebut harus dihadirkan setiap yang berwajib "lupa" menuntaskan tugasnya. Misalnya ketika pemberitaan tragedi kabut asap ciptaan perusahaan perusahaan di Sumatera dan Kalimantan lenyap oleh sirkus politik MKD dalam episoda Setya Novanto. Maka pers harus menggedornya kembali, agar pemerintah bisa merampungkan janjinya. Dan tragedi kabut asap menjadi terang kembali.

Realita kritis yang ditampilkan dalam rangkaian foto-foto dalam pameran di Museum Bank Mandiri jelas bertujuan positif. Tak perlu dicurigai secara berlebihan. Apalagi kelima imaji tersebut telah berada dalam genggaman Jokowi sejak panitia menyerahkan katalog pameran setibanya di lokasi pameran. Karenanya jangan ada lagi arogansi paranoid seperti yang dilakukan oknum Pampres atau instansi manapun atas kinerja pers visual dalam hal ini yang telah melakukan porsi kemerdekaan persnya dengan menentukan seorang kurator agar dapat menakar dan mengukur materi dan sajian pameran tersebut dengan elegan. Bukankah perlindungan yang berlebihan atas pengamatan seorang presiden justru bisa membutakan hatinya?

oscar motuloh

Pewarta foto Antara

Disiarkan 19/12/2015 10:17 WIB | Dilihat 21163 kali