Kala Sang Ayah Memanggil

Tak mudah menempuh kehidupan sebagai keturunan dalam bayang-bayang kemasyuran orang tua seperti "crooner" alias biduan sekelas mendiang Nat King Cole (1919-1965). Apalagi putrinya, Natalie Cole, memilih nadi pekerjaan di jalur yang sama dengan profesi sang ayah. Tak seperti almarhumah Billie Holiday atau bahkan Ella Fitzgerald, yang memulai karir dalam lumpur derita dan horror rasisme ala AS, Natalie yang begitu dekat dengan Ella, hidup berkecukupan dalam masa kecilnya di kawasan elit Los Angeles. Maklum dia adalah putri dari Nat King Cole yang bersikap tegar berdiri di antara sikap cinta-benci, rasialistik kaum kulit putih AS pada periode tersebut.

Dalam hingar bingar dan semarak perayaan pergantian tahun di Los Angeles, biduanita nan masyhur itu terbujur di ranjang garing Cedars-Sinai Medical Center. Dia tengah berjuang dalam teater kehidupan bernama sakratul maut. Sampai kabar duka itu diungkapkan oleh pihak keluarga dalam suatu komunike resmi, Natalie "telah dengan gigih melawan penyakitnya, dan menghadapi ajal sebagaimana ia menjalani dalam hidupnya – dengan martabat, kekuatan dan kehormatan" seperti dikutip kantor berita trans-nasional.

Hari itu, Kamis (31/12), Natalie (1950-2015) dinyatakan secara medis wafat karena gagal jantung akibat penyumbatan pembuluh darah. Namun rahasia umum di kalangan sendiri juga menyebutkan bahwa dia wafat lebih karena komplikasi cangkok ginjal dan mengidap Hepatitis C. Sebagai catatan, kala Natalie berhasil menjalani transplantasi ginjal donor dari seorang penggemarnya, kakak tertuanya, Carol Cole, justru tutup usia pada hari yang sama.

Pemimpin perjuangan hak sipil AS, Jesse Jackson, adalah salah satu yang memberikan penghormatan kepada Natalie. Dia men-twit-kan Natalie Cole sebagai "saudara perempuan tercinta, dalam substansi dan suara. Semoga arwahnya mendapatkan kedamaian."

Keluarga juga mengutip ketegaran mereka sambil mengutip salah satu komposisi yang berhasil menyemarakkan dunia showbiz internasional yang tak terlupakan: "Unforgettable". Daur ulang suatu komposisi yang dulu juga mencuatkan nama sang ayah saat dirilis pada 1952. Ketika itu Natalie baru berusia 2 tahun dan nyaman dalam dekapan sang ibu, Maria Hawkins Ellington (1922-2012). Penyanyi latar dalam squad orkestra Duke Ellington, namun tak memiliki pertalian kekeluargaan meski menganut marga yang sama, Nat King Cole menikahi Maria pada 1948, setelah bahtera rumah tangga yang dibina dengan Nadine Robinson, berantakan pada tahun yang sama.



Penata suara terkemuka AS, Al Schmitt, adalah legenda hidup paling berpengaruh di bidang tersebut. Bahkan di seluruh dunia. Lebih dari selusin Grammy yang diraih atas prestasinya. Sementara atas kepekaan telinga emasnya, sudah 150 cakram emas dan platina yang disetuhkannya pada album-album penyanyi dan grup dalam karirnya yang membentang sejak tahun 1950-an. Katakanlah Chet Baker, Thelonious Monk, Frank Sinatra, Tony Bennett, Al Jarreau, Elvis Presley, Steely Dan, Madonna dan Michael Jackson mengukirkan namanya.

Al meraih Grammy pertamanya pada 1962 melalui skor film, "Hatari" (1962). Namun saat menggarap album "Unforgettable: Natalie Cole With Love" pada 1991 dengan menggandeng produser David Foster, maka itu adalah sekaligus kenangan Al pada 40 tahun silam. Itulah pertama kalinya dia bekerja sama dengan mendiang Nat King Cole. Seperti pengakuannya pada Richard Buskin dari situs SOS (Sound on Sound), Al menyatakan bahwa dia punya firasat album Natalie kali ini bakal menarik. Dia bukan sekadar himpunan tembang nostalgia belaka. Untuk itu, Al menyatakan bahwa seluruh kuratorial suara termasuk peletakan mikrofon akan dilakukan sendiri oleh dirinya.

Beruntung Al punya pengalaman saat merekam sang ayah di Studio Capitol dengan format tiga track yang sederhana namun sudah mengunakan sistem audio stereo. Suara Nat King Cole berada di jalur tengah yang fleksibel. Al, David dan Natalie terus mencari jalan terbaik agar album "Unforgettable" itu dapat diwujudkan sebagai tribute yang elegan dan punya kelas dari Natalie untuk mendiang ayahnya.

Sampai pada suatu ketika dalam suatu rehearsal menjelang konser Natalie di Las Vegas, Al mengamati bagaimana Natalie bersenandung menyanyikan nomor "Unforgettable" Nat King Cole yang diputar dalam ruang rias penyanyi. Dua jalinan suara itu segera membangkitkan ide pada Al. Ini adalah jawaban yang harus dipertajam dengan teknologi. Ide ini harus direalisir. Sampai Al dan David kemudian membawanya dalam cakram CD. Sementara David menyulapnya menjadi realita di pentas lengkap dengan orkestra lima puluh musisi.

Akhirnya "Unforgettable" pun meluncur. Album berlabel Elektra (sebelumnya dia bergabung dengan Capitol Record, label yang sama seperti ayahnya) itu berdurasi 72:47 menit dengan sampul artistik bernuansa hitam-putih yang klasik dengan tipografi modern membungkus kemasan 22 komposisi yang seluruhnya adalah lagu hit sang ayah semasa jayanya. Fotografer glamor Hollywood masyhur, George Huller, yang telah membentangkan karirnya memotret para selebritis sejak tahun 1930-an, akhirnya turun gunung untuk mengabadikan sampul album Natalie, meskipun dia menyatakan telah pensiun sejak tahun 1976.

Dirilis pada 11 Juni 1991, para penikmat jazz yang rileks dan tembang nostalgia dapat menikmati suatu sajian seni suara bariton nan empuk dari biduan Nat King Cole dengan tarikan renyah sang putri dalam suatu kemasan tata suara yang didukung penuh oleh teknologi masa kini. Sebagai kejutan bagi penggemar dinasti Cole dua generasi, Natalie tampil duet dengan suara sang ayah. Komposisi "Unforgettable" karya Irving Godon menjadi epilog dari album yang kemudian meraih tujuh cakram platina, juga enam Grammy termasuk album juara, lagu nomor satu, serta produser dan penyanyi terbaik.

Lebih dari itu, "Unforgettable" juga berhasil mengembalikkan bakat Natalie pada singgasana kedivaan yang lenyap sejak dirinya terperosok ke lembah narkoba pada dekade 80-an. Album penghormatan untuk sang ayah berbuah manis. Atas sentuhan Al Schmitt dan David Foster, pendekatan nostalgia serupa kemudian menggejala dalam dunia showbiz internasional. Meskipun Natalie berusaha tegar dan bangkit, kecanduan yang menahun menyisakan residu yang merusak jaringan liver sang diva.

Belum lagi persoalan rumah tangganya yang runyam. Kematian ayahnya karena kanker pada 1965, saat dia masih berusia 15 tahun, amat memukul Natalie. Ditambah dengan kematian putranya kala berenang mendorongnya menerbitkan buku pada tahun 2000. Dia memberinya tajuk "Angel on My Shoulder". Natalie menikah tiga kali sepanjang hidupnya yang terbilang pendek.

Ketika konser "Unforgettable" mulai digelindingkan ke seluruh dunia pada 1992 (di Jakarta, tahun 2009) menyusul sukses besar dari albumnya, banyak penonton yang menitikkan airmata saat mereka menatap bagaimana ayah dan putrinya bernyanyi bersama di pentas dengan orkestra lengkap pimpinan David Foster dan beberapa dirigen lainnya. Orkestrasi string yang elegan dengan tata lampu yang serasi selalu berhasil menggiring suasana romantika ke sumsum terdalam perasaaan penonton. Tapi hanya sampai pertengahan bulan Agustus 2015.

Di area Smart General Aratena Coliseum, Metro Manila, 18 Agustus 2015, Natalie tampil bersama tur David Foster Friends Asia. Sambutan luar biasa menyambut Natalie kala menyanyikan bait pertama "Unforgettable". Natalie yang fisiknya mulai tampak rapuh – seperti biasa – menatap layar raksasa yang menampilkan sang ayah yang setia menemani dengan tegar. Tak dinyana itu adalah penampilan terakhir Natalie di pentas yang dicintainya. Di penghujung lagu kala penonton bersuit dan bertepuk riuh, Nat King Cole menjulurkan tangan dan menciumnya. Kali ini Natalie tampak berdiri terpukau – masih seperti biasa – membalasnya.

Namun, tampaknya kali ini sang ayah tak sekadar mencium tempel untuk dirinya dan segenap penontona yang setia mengembara. Tapi sekaligus menggapai tangan Natalie yang menjuntai ke atas, untuk mengajak ikut bersamanya. Ke keabadian nun jauh di sana. Wajah Nat King Cole tetap ceria seperti tayangan-tayangan terdahulu. Dibebat jas resmi dan gaun panjang Natalie yang elegan, Nat King Cole melambai seperti pamit. Lalu menghilang jauh dari ke fanaan dunia yang membuat putri tercintanya begitu menderita.

oscar motuloh

pewarta foto Antara

Foto: Sampul album "Unforgettable" Nat King Cole (Capitol 1952) dan "Unforgettable" Natalie Cole (Elektra 1991)

Disiarkan 2/1/2016 21:50 WIB | Dilihat 8862 kali