BERJAYA LEWAT RUMPUT LAUT
Membangun Indonesia dari pinggiran dengan memperkuat daerah-daerah dan desa dalam kerangka negara kesatuan merupakan salah satu dari Nawa Cita pemerintahan Joko Widodo dan Jusuf Kalla. Kawasan perbatasan kemudian menjadi salah satu pusat perhatian dari pemerintahan di bawah pimpinan presiden ke-7 itu.
Namun tak ada salahnya sebelum membangun, kita menengok sejenak potensi yang sudah ada di kawasan perbatasan tersebut. Salah satu yang harus dilirik yaitu potensi rumput laut di Nunukan, Kalimantan Utara. Kawasan yang berbatasan langsung dengan negeri Malaysia itu ternyata mampu menjadi salah satu produsen rumput laut kering.
Pada tahun 2013, produksi rumput laut Nunukan bahkan sempat mencapai angka 750 ton setiap bulan. Sektor budidaya rumput laut ini bisa dibilang cukup menjanjikan karena dapat meningkatkan penghasilan keluarga. Pelaksanaan pengembangan rumput laut di Kabupaten Nunukan merupakan salah satu upaya dalam mengembangkan perekonomian di daerah perbatasan dan tertinggal, sehingga daerah tersebut dapat menjadi gerbang aktivitas ekonomi.
Kini sekitar 1.600 rumah tangga terlibat dalam usaha budidaya rumput laut. Pasar yang membutuhkan rumput laut bukan lagi pasar dalam negeri, namun pasar internasional. Sebanyak 80 persen pasar rumput laut ditujukan untuk ekspor dan 20 persen untuk pasar domestik. Pasar ekspor tersebut untuk bahan baku industri kosmetik atau farmasi.
Pemerintah diharapkan dapat mendorong menciptakan pasar produk olahan rumput laut di dalam negeri, sehingga produksi rumput laut dapat diserap oleh industri pengolahan. Di mana persoalan utamanya ada pada pasar produk rumput laut olahan di dalam negeri relatif jenuh, sehingga kurang menarik bagi investor untuk membuat pabrik pengolahan rumput laut. Padahal investasi pabrikpabrik pengolahan harus tetap terus didorong untuk merespon pembatasan ekspor rumput laut mentah.
Foto dan Teks: Rosa Panggabean
Pewarta: Rosa Panggabean | Editor:
Disiarkan: 14/11/2015 01:00