Cahaya takwa dibalik asrama Sekolah Rakyat
Semarak Ramadhan tidak hanya menggema di masjid-masjid raya. Di balik bangunan Sekolah Rakyat Terintegrasi 37 Serang, semangat ibadah saat Bulan Suci pun berpadu dengan kegiatan rutin para siswa.
Dalam penempaan diri di sekolah tersebut, 94 siswa SD dan SMP belajar memaknai esensi puasa.
Bagi mereka, Ramadhan di sekolah berasrama ini bukan sekadar menahan lapar dan dahaga. Akan tetapi, juga tentang kebersamaan, kemandirian, dan perjuangan melawan ego yang menjadi potret nyata penempaan karakter sejak dini.
Selama satu bulan penuh, ritme akademik bertransformasi untuk memberikan ruang lebih luas bagi pengayaan spiritual tanpa ditemani ponsel pintar. Jam masuk sekolah yang biasanya dimulai pukul 07.00 WIB digeser menjadi pukul 08.00 WIB, dengan durasi belajar di kelas disingkatkan hanya sampai menjelang waktu Dzuhur.
Sisa waktu yang ada sepenuhnya difokuskan pada kegiatan yang lebih menitikberatkan ibadah anak, mulai dari pembiasaan shalat duha berjamaah, murajaah atau hafalan surah-surah pendek, pembacaan shalawat Nabi, dan ceramah agama.
Setiap aktivitas spiritual para siswa tersebut dipantau secara saksama melalui sebuah buku Jurnal Ibadah Harian Ramadhan. Jurnal ini untuk memantau kegiatan anak-anak, mulai dari shalat wajib lima waktu, tarawih, hafalan Al Quran, hingga perilaku baik selama bulan suci. Catatan ini nantinya akan menjadi bagian dari penilaian rapor asrama terkait kemandirian dan kebiasaan anak.
Geliat pembentukan karakter ini tidak lantas meredup saat akhir pekan. Jika hari Sabtu dan Minggu biasanya diidentikkan dengan waktu santai, anak-anak Sekolah Rakyat memilih menghabiskannya dengan bergotong-royong membersihkan lingkungan asrama sebagai upaya menumbuhkan cinta kebersihan yang ditanamkan secara nyata ke dalam diri mereka.
Menjelang Magrib, anak-anak mulai duduk dengan rapi dan senyum semringah kembali menghiasi wajah-wajah letih tersebut saat mereka bersama-sama menyantap hidangan untuk berbuka puasa.
Proses pembelajaran spiritual ini tentu penuh dengan dinamika khas anak-anak. Sesekali, tampak pemandangan yang mengundang senyum sekaligus haru kala ada anak yang tertidur lelap di atas hamparan karpet masjid tak kuasa menahan kantuk saat mengikuti Shalat Tarawih hingga malam hari.
Kedisiplinan yang terbangun selama di asrama juga dijaga ketat oleh 10 orang wali asuh yang berperan sebagai pengganti orang tua selama mereka berada di asrama. Untuk menjaga kekhusyukan ibadah, pihak sekolah juga meniadakan jam jenguk reguler selama Ramadhan dan menggabungkannya dengan waktu penjemputan libur menjelang Idul Fitri.
Sebelum kepulangan, para orang tua juga diberikan arahan khusus agar turut memberikan andil memantau dan menjaga kebiasaan baik anak yang telah terbentuk di sekolah. Meski anak-anak nantinya pulang menikmati liburan bersama keluarga masing-masing, pengawasan dan pembinaan dipastikan tetap berjalan berkesinambungan.
“Kementerian Sosial tidak lepas tanggung jawab. Nanti ada kunjungan ke rumah dari wali asuh untuk mengecek sejauh mana perkembangan siswa di rumah, memastikan kebiasaan ibadah dan perilaku sosial yang baik selama di asrama tetap dilakukan," tegas Kepala Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 37 Serang, Ria Sepriani.
Foto dan teks : M Bagus Khoirunnas
Editor : Akbar Nugroho Gumay
Pewarta: M Bagus Khoirunnas | Editor:
Disiarkan: 07/03/2026 12:29