Geliat ekonomi hijau di sudut Jakarta

Pekerja memanen sayuran basil di greenhouse Ladang Farm, Lebak Bulus, Cilandak, Jakarta.
Pekerja memeriksa nutrisi dalam proses penyemaian bibit sayuran basil.
Sayuran basil dalam proses penyemaian.
Pekerja merawat bibit sayur basil.
Pelajar melihat sistem pertanian hidroponik.
Pekerja memanen sayuran selada.
Pekerja menimbang sayuran basil untuk dikemas.
Pekerja mengemas sayuran selada dan kale di greenhouse Ladang Farm Teknologi, Lebak Bulus, Cilandak, Jakarta.
Pekerja mengantarkan sayuran ke salah satu rumah makan di Jakarta.
Pekerja menimbang sayur selada di salah rumah makan di Jakarta.
Juru masak memasak makanan berbahan sayur basil.
Foto kolase dua menu makanan yakni pad kra pao (kiri) dan hamburger (kanan) yang menggunakan sayuran hasil pertanian hidroponik vertikal.
Warga menyantap menu makanan pad kra pao (makanan khas Thailand) berbahan sayur basil di salah satu rumah makan, Tebet, Jakarta.

Sebuah bangunan setinggi 18 meter berdiri di salah satu sudut Lebak Bulus, Cilandak, Jakarta.



Saat melangkah masuk, terlihat sebuah greenhouse atau rumah kaca yang berisi pertanian hidroponik vertikal dengan 13 tingkat dan memiliki 33.000 lubang tanam yang dimanfaatkan untuk berbagai komoditas hortikultura.



Rumah kaca bernama Ladang Farm tersebut menjadi salah satu titik hijau pertanian di antara padatnya permukiman, pertokoan, serta perkantoran di Jakarta.



Tak sekadar sebuah pertanian konvensional, pertanian hidroponik di sini juga dilengkapi teknologi berbasis Internet of Things (IoT) yang mampu membantu efektivitas operasional.



Melalui teknologi ini, berbagai parameter penting seperti kelembapan, suhu, dan nutrisi tanaman dapat dipantau serta dikontrol secara akurat sehingga kualitas produksi sayuran terjaga dan meminimalkan risiko gagal panen.



Komoditas sayur yang dibudidayakan cukup beragam dengan tanaman dua jenis basil dan selada menjadi produk unggulan yang paling diminati pasar. Tanaman-tanaman itu tidak hanya menyasar kebutuhan rumah tangga, tetapi juga menjadi komoditas penting bagi sektor hotel, restoran, dan kafe di wilayah Jabodetabek.



“Pelanggan kami didominasi sektor industri makanan di horeca (hotel, restoran, kafe) yang sayuran hasil produksi kami dijadikan bahan campuran dan pelengkap resep menu makanan di sana,” kata  General Manager Ladang Farm, Nova Riswanto.



Penjualan hasil panen itu membuktikan bagaimana agribisnis dengan teknologi modern dapat terhubung dengan berbagai sektor pasar. Selain memasok ke pelaku industri kuliner, produk juga dipasarkan melalui sejumlah lokapasar digital.



Usaha pertanian tersebut juga mendapat dukungan dari Pemprov DKI Jakarta yang berkomitmen membantu mempromosikan produk-produk dari pertanian tersebut agar lebih dikenal oleh masyarakat.



Selain berfokus terhadap produksi sayuran, pertanian hidroponik vertikal tersebut juga mengembangkan lini bisnis agrowisata.



Masyarakat umum dapat melihat langsung kebun hidroponik bertingkat ini dengan membayar dari Rp35 ribu untuk sekadar berkeliling dan berfoto, hingga Rp150 ribu untuk paket edukasi cara menanam hidroponik. Adapun program khusus yang menggabungkan pengalaman bertani dengan kelas memasak yang memanfaatkan hasil panen langsung dari kebun tersebut.



Lebih dari sekadar destinasi wisata, kehadiran agrowisata ini menjadi medium edukasi publik tentang inovasi pertanian di tengah perkotaan dengan memahami proses dari hulu ke hilir, mulai dari pembibitan hingga distribusi hasil pertanian.



Pertanian perkotaan atau urban farming tersebut sejalan dengan program Pemprov DKI Jakarta. Berdasarkan data Dinas KPKP DKI Jakarta, jumlah pelaku urban farming di Jakarta saat ini mencapai 5.910 orang dengan 521 kelompok tani yang dilengkapi dengan fasilitas pendukung seperti sarana produksi, pendampingan teknis dan kelembagaan oleh tenaga penyuluh, edukasi serta pelatihan.



 



Foto dan teks: Sulthony Hasanuddin



Editor: Sigid Kurniawan

Pewarta: Sulthony Hasanuddin | Editor:

Disiarkan: 21/04/2026 09:05