Transformasi Cibiru Wetan menuju desa digital

Warga duduk di dekat poster informasi desa di Kantor Desa Cibiru Wetan.
Warga mencetak dokumen kependudukan di Anjungan Dukcapil Mandiri di Kantor Desa Cibiru Wetan, Kabupaten Bandung, Jawa Barat.
Warga mencetak KTP Elektronik di Anjungan Dukcapil Mandiri.
Warga membawa beras saat penyaluran bantuan pangan nasional yang informasinya dapat diakses melalui aplikasi desa.
Sejumlah anak belajar dan bermain memanfaatkan fasilitas wifi gratis seusai pulang sekolah di Saung Dome Awi Cibiru Wetan.
Warga melihat informasi harga komoditas yang dijual secara dalam jaringan menggunakan aplikasi Superplatform Desa, di Desa Cibiru Wetan, Kabupaten Bandung, Jawa Barat.
Peternak melihat harga telur ayam dengan memanfaatkan aplikasi Superplatform Desa Cibiru Wetan.
Kelompok Tani Wanita menggunakan aplikasi Smartfarming dalam bercocok tanam di Desa Cibiru Wetan, Kabupaten Bandung, Jawa Barat.
Warga melihat koleksi digital di Perpustakaan Digital Desa Cibiru Wetan.
Petugas mengecek pesan siaga kesehatan di mobil ambulans yang disiagakan di Kantor Desa Cibiru Wetan.
Kolase foto tampilan peramban aplikasi Superplatform Desa Cibiru Wetan.
Sebuah sertifikat penghargaan dipajang di Kantor Desa Cibiru Wetan, Kabupaten Bandung, Jawa Barat.

Desa Cibiru Wetan seluas 3,25 km persegi merupakan desa di kaki Gunung Manglayang, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, yang memanfaatkan teknologi digital untuk mempermudah akses layanan kepada warga.



 



 



 



 



 



 



 



Pengembangan Cibiru Wetan menuju desa digital didukung peran generasi muda, dengan 26 persen dari total 15.966 penduduknya berstatus pelajar dan mahasiswa.



 



 



 



 



 



 



 



 



 



Kedekatan generasi muda dengan teknologi serta kemampuan adaptasi terhadap perkembangan era digital menjadi modal dan potensi dalam pengembangan desa.



 



 



 



 



 



 



 



 



 



Kepala Desa Cibiru Wetan Hadian Supriatna sejak menjabat pada 2019 bersama perangkat desa mulai melakukan penguatan jaringan internet di fasilitas publik desa, seperti Saung Dome Awi yang menjadi pusat aktivitas warga dan di sejumlah titik balai Rukun Warga. 







Pemerintah desa membuat sejumlah aplikasi berbasis perangkat seluler untuk kebutuhan warga, seperti SimpelDesa untuk mendigitalisasi tata kelola desa serta mempercepat layanan publik. 



 



 



 



 



 



 



 



 



 



Pemerintah desa juga memudahkan warga untuk berkomunikasi secara cepat serta dapat mengakses informasi layanan seperti kesehatan, hukum, dan transparansi anggaran desa melalui Superplatform Bale Desa. Platform tersebut merupakan wujud keterbukaan informasi publik atas kinerja pemerintah desa CIbiru Wetan.



 



 



 



 



 



 



 



 



 



Untuk mendukung kelompok perempuan di sektor pertanian, pemerintah desa juga mengembangkan aplikasi SI-KuWaT (Sistem Informasi Kelompok Usaha Wanita Tani) yang terintegrasi dengan BUMDes dalam mengembangkan aktivitas ekonomi.



 



 



 



 



 



 



 



 



 



Warga juga semakin dimudahkan untuk mencetak dokumen kependudukan secara cepat dengan adanya mesin Anjungan Dukcapil Mandiri. Proses pencetakan KTP elektronik, kartu keluarga dan kartu identitas anak (KIA) hanya memerlukan waktu sekitar dua menit tanpa perlu datang ke kantor Disdukcapil Kabupaten Soreang yang berjarak sekitar 40 km dari desa.



 



 



 



 



 



 



 



 



 



Transformasi digital di Desa Cibiru Wetan telah mendapat pengakuan secara nasional dan internasional. Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal menetapkan Desa Cibiru Wetan sebagai peringkat kedua nasional dalam Lomba Desa Digital 2025. Selain itu, KPK juga memberikan penghargaan desa tersebut sebagai Desa Antikorupsi.



 



 



 



 



 



 



 



 



 



Bahkan, seluruh perangkat desa juga memperoleh penghargaan ASEAN Tech for ESG Award 2024 untuk kategori desa digital pada aspek lingkungan, sosial, dan tata kelola layanan publik.



 



 



 



 



 



 



 



 



 



Pemanfaatan teknologi digital di Desa Cibiru Wetan sejalan dengan target pemerintah untuk mencapai 90 persen populasi terkoneksi internet pita lebar atau broadband pada 2030 dan 100 persen pada 2045 sebagai bagian dari Visi Indonesia Digital 2045 menuju Indonesia Emas 2045.



 



 



 



Foto dan teks : Novrian Arbi



 



 



 



 



 



 



Editor : Widodo S Jusuf



 



 



 



 



 



 



 



 



 



 



 



 



 



 



 



 



 

Pewarta: Novrian Arbi | Editor:

Disiarkan: 21/04/2026 16:17