Komitmen DOKU Menuju Aksi Berkelanjutan

Co-Founder & Chief Marketing Officer DOKU Himelda Renuat (kiri) bersama Co-Founder & Chief Operating Officer DOKU Nabilah Alsagoff (kanan) memperkenalkan program Green Pantry kepada para karyawan di Kantor DOKU, Jakarta.
Persoalan sampah menjadi persoalan yang hingga kini tak kunjung usai karena penanganan yang belum tepat.
Seperti perkantoran pada umumnya, waktu istirahat siang menjadi riuh dengan para karyawan yang menghabiskan santap siang di kantor DOKU.
Tak jarang makanan-makanan tersebut menjadi limbah yang tersisa dan menjadi pemenuh tempat-tempat sampah di kantor DOKU.
Seorang asisten kantor mengumpulkan sisa makanan dari karyawan DOKU untuk diproses dalam program Green Pantry.
Karyawan DOKU membuang kulit buah di tong sampah khusus limbah organik yang diletakkan di salah satu sudut Kantor DOKU, Jakarta.
DOKU menghadirkan program Green Pantry sebagai solusi penanganan limbah sisa makanan yang selama ini menjadi persoalan.
Asisten kantor memproses sampah organik sisa makanan dengan mesin komposting untuk diolah menjadi pupuk kompos di area pantry Kantor DOKU, Jakarta.
Karyawan DOKU mengemas pupuk kompos hasil olahan limbah organik sisa makanan di Pantry Kantor DOKU, Jakarta.
Karyawan DOKU mengamati pupuk kompos hasil olahan limbah organik yang telah dijual di Kantor DOKU, Jakarta.
Karyawan DOKU membeli pupuk kompos hasil olahan limbah organik program Green Pantry menggunakan payment link untuk diaplikasikan pada tanaman di rumahnya.
Asisten kantor memberi pupuk kompos hasil olahan limbah organik program Green Pantry untuk tanaman di salah satu area Kantor DOKU, Jakarta.
Asisten kantor memberi pupuk kompos hasil olahan limbah organik program Green Pantry untuk tanaman yang menghiasi salah satu area Kantor DOKU, Jakarta.
Warga yang tergabung dalam Kelompok Wanita Tani (KWT) Green Growth Verina, memanfaatkan pupuk kompos BeyondGrow yang diproduksi DOKU dari program Green Pantry untuk tanaman Bayam Brazil di area kebun perumahan Verina di Tangerang Selatan, Banten.
Anggota Kelompok Wanita Tani (KWT) Green Growth Verina menunjukkan bibit tanaman subur yang memanfaatkan pupuk kompos BeyondGrow produksi DOKU dari program Green Pantry. Program ini menjadi harapan baru untuk pengelolaan sampah organik yang lebih bijak dan kehidupan berkelanjutan yang lebih baik bagi masyarakat.

 

Longsornya timbunan sampah di Zona 4 Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang, Bekasi, Jawa Barat, pada 8 Maret 2026 begitu mengagetkan banyak pihak. Bagaimana tidak, akibat peristiwa itu ada empat orang meninggal dunia akibat tertimbun longsoran sampah TPST Bantargebang.

 

Peristiwa itu pun tak pelak semakin jelas menunjukkan betapa TPST yang beroperasi sejak 1989 itu makin kewalahan menampung sampah dari Jakarta sehingga longsoran tumpukan sampah pun takterhindarkan.  Berdasarkan data dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta, rata-rata setiap hari sekitar 7.000 ton sampah Jakarta dikirim ke TPST Bantargebang. Akibat telah lebih dari 35 tahun beroperasi, kini diperkirakan TPST Bantargebang telah menampung 55 juta ton gunungan sampah dengan ketinggian mencapai 50 meter.

 

Seperti publik pada umumnya, manajemen perusahaan fintech pembayaran, DOKU pun juga terhenyak mengetahui peristiwa pilu di TPST Bantargebang awal maret 2026 lalu. Akan tetapi, diam bukan pilihan. Bertepatan dengan Hari Bumi sekaligus sebagai peringatan hari ulang tahun (HUT) ke-19, DOKU meluncurkan program Green Pantry sebagai langkah untuk menciptakan lingkungan yang lebih baik.

 

Seperti perkantoran pada umumnya, waktu istirahat siang menjadi riuh dengan para karyawan yang menghabiskan santap siang di kantor DOKU. Beragam sajian khas dari sejumlah daerah Nusantara menjadi warna-warni penghias setiap jam rehat siang. Tak jarang makanan-makanan tersebut menjadi limbah yang tersisa dan menjadi pemenuh tempat-tempat sampah di kantor DOKU.

 

Namun, situasi tersebut kini sudah menjadi masa lalu setelah DOKU menghadirkan program Green Pantry. DOKU menghadirkan program itu sebagai solusi penanganan limbah sisa makanan yang selama ini menjadi persoalan.

 

Melalui program ini, karyawan mulai membiasakan diri memilah sampah, khususnya limbah organik yang dihasilkan dari aktivitas sehari-hari di pantry. Sisa makanan yang telah dipilah kemudian dikumpulkan untuk diproses menggunakan mesin komposting internal.

 

Dari proses tersebutlah, limbah organik diubah menjadi kompos yang dapat dimanfaatkan kembali. Penerapan sistem ini mencerminkan perubahan pendekatan dalam pengelolaan limbah, dari pola linear menuju sistem sirkular yang lebih berkelanjutan.

 

Program Green Pantry juga melibatkan partisipasi aktif karyawan dalam setiap tahap pelaksanaannya. Kolaborasi tersebut memungkinkan pengukuran dampak secara langsung, mulai dari pengurangan volume limbah hingga jumlah kompos yang dihasilkan.

 

Inisiatif pengelolaan limbah sirkular ini menargetkan pengalihan 65 persen atau sekitar 650 kilogram sampah organik kantor per bulan untuk diolah menjadi kompos guna mengurangi emisi karbon sekaligus menjadi wujud nyata bagi bisnis digital dalam meminimalisir jejak lingkungan secara terukur.

 

Data yang terkumpul selanjutnya digunakan sebagai bagian dari pelaporan ESG (Environmental, Social, and Governance), guna mendukung transparansi perusahaan dalam aspek lingkungan, sosial, dan tata kelola.

 

Melalui langkah sederhana ini, DOKU yang telah 19 tahun eksis sebagai perusahaan fintech pembayaran andalan masyarakat Indonesia ini menunjukkan bahwa upaya keberlanjutan dapat dimulai dari kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten dalam aktivitas sehari-hari.

 

Foto dan Teks: Indrianto Eko Suwarso

Pewarta: Indrianto Eko Suwarso | Editor:

Disiarkan: 08/05/2026 10:07