Komitmen DOKU Menuju Aksi Berkelanjutan
Longsornya timbunan sampah di Zona 4 Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang, Bekasi, Jawa Barat, pada 8 Maret 2026 begitu mengagetkan banyak pihak. Bagaimana tidak, akibat peristiwa itu ada empat orang meninggal dunia akibat tertimbun longsoran sampah TPST Bantargebang.
Peristiwa itu pun tak pelak semakin jelas menunjukkan betapa TPST yang beroperasi sejak 1989 itu makin kewalahan menampung sampah dari Jakarta sehingga longsoran tumpukan sampah pun takterhindarkan. Berdasarkan data dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta, rata-rata setiap hari sekitar 7.000 ton sampah Jakarta dikirim ke TPST Bantargebang. Akibat telah lebih dari 35 tahun beroperasi, kini diperkirakan TPST Bantargebang telah menampung 55 juta ton gunungan sampah dengan ketinggian mencapai 50 meter.
Seperti publik pada umumnya, manajemen perusahaan fintech pembayaran, DOKU pun juga terhenyak mengetahui peristiwa pilu di TPST Bantargebang awal maret 2026 lalu. Akan tetapi, diam bukan pilihan. Bertepatan dengan Hari Bumi sekaligus sebagai peringatan hari ulang tahun (HUT) ke-19, DOKU meluncurkan program Green Pantry sebagai langkah untuk menciptakan lingkungan yang lebih baik.
Seperti perkantoran pada umumnya, waktu istirahat siang menjadi riuh dengan para karyawan yang menghabiskan santap siang di kantor DOKU. Beragam sajian khas dari sejumlah daerah Nusantara menjadi warna-warni penghias setiap jam rehat siang. Tak jarang makanan-makanan tersebut menjadi limbah yang tersisa dan menjadi pemenuh tempat-tempat sampah di kantor DOKU.
Namun, situasi tersebut kini sudah menjadi masa lalu setelah DOKU menghadirkan program Green Pantry. DOKU menghadirkan program itu sebagai solusi penanganan limbah sisa makanan yang selama ini menjadi persoalan.
Melalui program ini, karyawan mulai membiasakan diri memilah sampah, khususnya limbah organik yang dihasilkan dari aktivitas sehari-hari di pantry. Sisa makanan yang telah dipilah kemudian dikumpulkan untuk diproses menggunakan mesin komposting internal.
Dari proses tersebutlah, limbah organik diubah menjadi kompos yang dapat dimanfaatkan kembali. Penerapan sistem ini mencerminkan perubahan pendekatan dalam pengelolaan limbah, dari pola linear menuju sistem sirkular yang lebih berkelanjutan.
Program Green Pantry juga melibatkan partisipasi aktif karyawan dalam setiap tahap pelaksanaannya. Kolaborasi tersebut memungkinkan pengukuran dampak secara langsung, mulai dari pengurangan volume limbah hingga jumlah kompos yang dihasilkan.
Inisiatif pengelolaan limbah sirkular ini menargetkan pengalihan 65 persen atau sekitar 650 kilogram sampah organik kantor per bulan untuk diolah menjadi kompos guna mengurangi emisi karbon sekaligus menjadi wujud nyata bagi bisnis digital dalam meminimalisir jejak lingkungan secara terukur.
Data yang terkumpul selanjutnya digunakan sebagai bagian dari pelaporan ESG (Environmental, Social, and Governance), guna mendukung transparansi perusahaan dalam aspek lingkungan, sosial, dan tata kelola.
Melalui langkah sederhana ini, DOKU yang telah 19 tahun eksis sebagai perusahaan fintech pembayaran andalan masyarakat Indonesia ini menunjukkan bahwa upaya keberlanjutan dapat dimulai dari kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten dalam aktivitas sehari-hari.
Foto dan Teks: Indrianto Eko Suwarso
Pewarta: Indrianto Eko Suwarso | Editor:
Disiarkan: 08/05/2026 10:07