Membuka kabut digital di Papua Pegunungan

Dua warga berada di depan rumah adat Honai di Lembah Baliem, Papua Pegunungan.
Suasana Kota Wamena di Lembah Baliem dengan dikelilingi Pegunungan Jayawijaya.
Petugas melakukan pemantauan perangkat pada Community Gateway Stasiun Bumi Sedang (SBS) Telkomsat di Wamena.
Petugas memantau perangkat pada Community Gateway Stasiun Bumi Sedang (SBS) Telkomsat di Wamena, Kabupaten Jayawijaya, Papua Pegunungan.
Foto udara perangkat pada Community Gateway Stasiun Bumi Sedang (SBS) Telkomsat di Wamena.
Petugas melakukan pemantauan perangkat pada Community Gateway Stasiun Bumi Sedang (SBS) Telkomsat di Wamena.
Tower BTS berdiri di salah satu bukit di Lembah Baliem, Kabupaten Jayawijaya, Papua Pegunungan.
Petugas memantau kecepatan jaringan pada Community Gateway Stasiun Bumi Sedang (SBS) Telkomsat.
Antena parabola sebagai penangkap dan pengiriman sinyal internet terpasang di rumah warga di Wamena.
Warga menggunakan gawai sambil bersantai di atas sepeda motornya di Wamena, Kabupaten Jayawijaya, Papua Pegunungan.
Warga menggunakan gawainya untuk berjualan buah pinang secara daring di Wamena, Kabupaten Jayawijaya, Papua Pegunungan.
Seorang guru mendampingi murid-muridnya untuk menyimak materi digital daring melalui laptop di salah satu sekolah di Wamena.

Bentang Pegunungan Jayawijaya menjadi tantangan pemerataan konektivitas dan pembangunan infrastruktur telekomunikasi di Indonesia Timur. Berbeda dengan wilayah pegunungan di Pulau Jawa yang telah ditunjang jaringan jalan dan infrastruktur memadai, tantangan aksesbilitas wilayah di Papua Pegunungan menyebabkan pembangunan jaringan telekomunikasi di sana membutuhkan biaya lebih besar dan waktu lebih panjang. 

 

Material pembangunan seperti tower BTS, perangkat jaringan, hingga genset harus diangkut menggunakan pesawat perintis atau helikopter untuk menjangkau distrik-distrik terpencil. Bahkan, cuaca ekstrem, kabut tebal, dan longsor juga kerap menghambat proses pembangunan maupun pemeliharaan jaringan.

 

Sementara itu, berdasarkan survei Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) 2025, penetrasi internet nasional atau persentase penduduk yang memiliki akses internet di Indonesia mencapai 80,66 persen. Namun tingkat penetrasi internet di Maluku dan Papua masih berada di angka sekitar 69,26 persen sehingga kesenjangan konektivitas antarwilayah masih terlihat.

 

Kesenjangan digital tersebut tak bisa terus dibiarkan terjadi  di wilayah Indonesia Timur, khususnya Papua Pegunungan, dari dunia luar. Pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) berupaya membukanya dengan peningkatan sejumlah fasilitas penunjang di sana. 

 

Pengembangan infrastruktur telekomunikasi di Wamena menjadi salah satu upaya memperkuat layanan internet di Papua Pegunungan. Sejak 2019, kapasitas jaringan internet di Papua Pegunungan meningkat bertahap dari 7,6 gigabites per second (gbps) hingga pada 2026 mencapai 40 gbps. 

 

Peningkatan sejauh itu bisa dicapai setelah dilakukan pengembangan infrastruktur Community Gateway Wamena dengan konektivitas berbasis satelit Low Earth Orbit (LEO). Sistem tersebut juga meningkatkan proses pengiriman data dari perangkat pengguna seperti gawai, komputer, dan router hingga 30 persen.

 

Wilayah yang sebelumnya terisolasi kini mulai terhubung melalui jaringan telekomunikasi berbasis satelit maupun infrastruktur pendukung lainnya. Kehadiran fasilitas telekomunikasi di kawasan pegunungan menjadi penghubung penting bagi masyarakat yang selama bertahun-tahun hidup jauh dari akses informasi dan layanan digital.

 

Warga mulai memanfaatkan gawai untuk berkomunikasi, mengakses informasi, hingga mendukung aktivitas ekonomi dan pendidikan. Wilayah di Lembah Baliem yang dikelilingi Pegunungan Jayawijaya seakan tidak lagi menjadi penghalang bagi warga setempat untuk terhubung ke seluruh penjuru dunia.

 

“Dulu kami susah berkomunikasi dengan keluarga di luar Wamena karena sinyal sering hilang dan akses internet terbatas. Namun sekarang jaringan sudah lebih baik sehingga kami lebih mudah menelepon, mengirim pesan, bahkan bisa melakukan siaran langsung untuk mengenalkan daerah kami,” kata warga Wamena, Yewor (39).

 

Yewor tidak sendiri. Kini jumlah rumah tangga yang mengakses internet di Papua pegunungan semakin meningkat dalam dua tahun terakhir. Berdasarkan data BPS, pada 2024 jumlahnya 12,15 persen dan meningkat hingga akhir 2025 menjadi 26,61 persen rumah tangga yang ada di provinsi itu. Pertumbuhan angka tersebut pada akhirnya berpengaruh pada pertumbuhan perekonomiannya. BPS merilis ekonomi Papua Pegunungan pada Triwulan I 2026 secara year on year tumbuh 3,51 persen dibanding periode yang sama pada 2025. 

 

Pembangunan jaringan telekomunikasi di Indonesia Timur bukan sekadar menghadirkan sinyal komunikasi, melainkan juga membuka harapan baru tentang kesetaraan akses dan masa depan masyarakat Papua Pegunungan. 

Foto dan teks: Bayu Pratama S

Editor: Puspa Perwitasari

Pewarta: Bayu Pratama S | Editor:

Disiarkan: 25/05/2026 19:03