Dari Dataran Tinggi Dieng, kisah kurban dan toleransi di Desa Batur
Suhu dingin mencapai 14 derajat Celsius menyelimuti Desa Batur, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah, pada Selasa, 26 Mei 2026, atau sehari menjelang Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah. Namun, hawa sejuk khas Dataran Tinggi Dieng itu tidak menyurutkan semangat warga dalam mempersiapkan pelaksanaan kurban. Justru, hiruk pikuk aktivitas masyarakat menghadirkan kehangatan tersendiri di desa tersebut.
Sejak pagi, warga dari berbagai kalangan tampak bergotong royong di salah satu gedung serbaguna desa. Mulai dari generasi muda hingga lanjut usia, laki-laki maupun perempuan, bersama-sama mempersiapkan seluruh kebutuhan pelaksanaan kurban. Mereka melakukan pendataan sumbangan warga, menerima kedatangan hewan kurban, hingga mengatur berbagai kebutuhan teknis lainnya.
Kesibukan itu menjadi pemandangan yang kontras dengan suasana Desa Batur yang sehari-hari cenderung tenang. Namun, persiapan kurban sebenarnya tidak hanya dilakukan menjelang Idul Adha. Warga telah memulainya jauh-jauh hari, bahkan sejak satu tahun sebelumnya.
Melalui sistem iuran yang dikelola di setiap mushalla, masyarakat mengumpulkan dana secara bertahap untuk membeli hewan kurban. Mekanismenya menyerupai tabungan. Warga yang mayoritas berprofesi sebagai petani dapat menyetorkan uang kapan saja dan dalam jumlah berapa pun sesuai kemampuan mereka kepada panitia yang ditunjuk di masing-masing mushalla.
Dana yang terkumpul kemudian dikelola secara transparan hingga mencukupi untuk pembelian hewan kurban. Selanjutnya, hewan-hewan tersebut diserahkan kepada panitia kurban tingkat desa yang berada di bawah naungan Majelis Pelayanan Sosial. Seluruh proses pengelolaan dana dan pelaksanaan kurban dilakukan secara terbuka serta diputuskan melalui musyawarah bersama.
Menariknya, tradisi kurban di Desa Batur tidak hanya melibatkan umat Islam. Warga yang menganut agama lain juga diberi kesempatan untuk berpartisipasi dengan menyumbangkan hewan kurban. Setelah hewan disembelih usai pelaksanaan Shalat Idul Adha, daging kurban dibagikan kepada seluruh warga dan masyarakat yang membutuhkan tanpa membedakan latar belakang agama.
Semangat kebersamaan dan toleransi tersebut telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Desa Batur selama puluhan tahun. Hasilnya pun terlihat dari jumlah hewan kurban yang terus meningkat setiap tahun.
Ketua Panitia Kurban Desa Batur, Dayat Iskandar, mengatakan pada Idul Adha tahun ini pihaknya berhasil menghimpun 890 ekor hewan kurban, terdiri dari 714 ekor kambing atau domba dan 176 ekor sapi.
“Jumlah tersebut meningkat dibandingkan tahun 2025 yang mencapai 720 ekor hewan kurban,” kata Dayat.
Dari seluruh hewan yang disembelih, panitia memperoleh sekitar 25 ton daging kurban. Daging tersebut kemudian dikemas menjadi sekitar 8.600 paket dan didistribusikan kepada warga serta kaum duafa, tidak hanya di Desa Batur, tetapi juga ke sejumlah wilayah lain di Banjarnegara, bahkan hingga Kabupaten Pekalongan, Banyumas, dan Wonosobo.
Menurut Dayat, Idul Adha di Desa Batur bukan sekadar perayaan keagamaan, melainkan juga momentum memperkuat persatuan dan kerukunan masyarakat yang hidup dalam keberagaman.
“Tradisi ini telah berlangsung sejak 1930-an, pada masa-masa awal Desa Batur berdiri. Semoga dapat terus lestari,” ujarnya.
Hal senada disampaikan Kepala Desa Batur, Ahmad Fauzi. Ia berharap semangat gotong royong dan kebersamaan yang menjadi fondasi tradisi kurban di desanya dapat terus diwariskan kepada generasi berikutnya.
“Semoga sistem gotong royong yang diterapkan masyarakat desa kami juga bisa menginspirasi daerah lain,” kata Ahmad.
Tradisi kurban di Desa Batur menjadi bukti bahwa nilai gotong royong masih hidup dan terjaga di tengah masyarakat. Nilai tersebut tidak hanya dipraktikkan oleh orang dewasa, tetapi juga diperkenalkan kepada generasi muda yang terlibat dan menyaksikan langsung seluruh prosesnya.
Melalui kebersamaan itu, warga tidak hanya menjalankan ibadah kurban, tetapi juga memperkuat solidaritas sosial, kepedulian, toleransi, dan persaudaraan. Nilai-nilai itulah yang menjadikan tradisi kurban di Desa Batur sebagai cerminan harmoni kehidupan masyarakat Indonesia yang majemuk.
Foto & teks: Makna Zaezar
Editor: R. Rekotomo
Pewarta: Makna Zaezar | Editor:
Disiarkan: 06/06/2026 15:34