Menyalakan api sepak bola untuk Garuda Pertiwi

Pemain sepak bola putri kelompok usia 12 mengenakan sepatu sebelum bertanding.
Pemain sepak bola putri kelompok usia 10 dari tim SDN Gunungwungkal 01 Pati melakukan pemanasan sebelum bertanding.
Pesepak bola putri Kelompok Usia 12 dari SD Kedung Bulus II Pati bersiap di pinggir lapangan sebelum bertanding.
Tim sepak bola putri kelompok usia 12 SD Kayuapu Kudus (kiri) dan tim sepak bola putri Gedangan Rembang (kanan) berjalan memasuki lapangan menjelang pertandingan penyisihan.
Sejumlah anak wanita menyaksikan rekannya saat pertandingan sepak bola putri kelompok usia 12.
Pelatih memberikan instruksi kepada pemain sepak bola putri tim MI NU Baitul Mukminin Kudus pada pertandingan final kelompok usia 10.
Pemain sepak bola putri SDUT Bumi Kartini Jepara Rere Zenita Fatin (tengah) berusaha melewati adangan empat pemain SDN Jambean 02 Pati pada final kelompok usia 12.
Penjaga gawang putri SDN Gunungwungkal 01 Pati Aulia Agustin (bawah) berusaha menangkap bola dari pesepak bola putri MI NU Pendidikan Islam Kudus Hasna Amrina Rosyada (atas) pada semifinal kelompok usia 10.
Suporter SD Muhammadiyah Birrul Walidain Kudus bersorak saat mendukung untuk tim sepak bola putri kelompok umur 12 sekolahnya.
Orang tua berbincang dengan anaknya usai pertandingan sepak bola putri kelompok usia 12.
Pemain sepak bola putri SDUT Bumi Kartini Jepara Aqila Kanza Azzahra (kiri) memeluk rekannya Shatierra Yummna Addya Putri (kedua kiri) setelah timnya kalah dari tim sepak bola putri SDN Jambean 02 Pati pada final kelompok usia 12.
Seorang pemain sepak bola putri SD Muhammadiyah Birrul Walidani menangis dalam pelukan ibunya usai timnya kalah pada babak perempat final kelompok usia 12.

Di atas rumput hijau Stadion Suppersoccer Arena Kudus, kaki-kaki mungil anak-anak perempuan dengan lihai memainkan bola. Sore itu, sedang berlangsung babak final MilkLife Soccer Challenge (MLSC) 2026 seri kedua Kudus kelompok usia 10 antara tim MI NU Baitul Mukminin melawan MI NU Pendidikan Islam.

Tangis haru pecah seketika wasit meniup peluit akhir pertandingan, MI NU Baitul Mukminin bersuka cita karena berhasil mengalahkan MI NU Pendidikan Islam dengan skor 4-1. 

Sementara itu, di kelompok usia 12 SD Negeri Jambean 02 Pati berhasil keluar sebagai juara setelah pada partai final mampu mengalahkan dominasi juara bertahan SDUT Bumi Kartini Jepara lewat babak adu pinalti dengan skor 6-5.

Selama lima hari penyelenggaraan MLSC 2026 seri kedua Kudus. Pemandangan kontras antara bahagia dan kecewa terlihat di atas lapangan maupun tribun penonton.

Sorak sorai anak-anak sekolah dasar mendukung tim sekolah kebanggaan diiringi tepuk tangan para orang tua yang datang mendukung anaknya bertanding. Pemandangan berbeda di sudut lain tribun penonton, seorang ibu tampak memeluk anaknya yang menangis dan berusaha menenangkannya karena timnya kalah bertanding.

Tahun ini MLSC seri kedua Kudus diikuti 1.391 atlet berbagai kelompok usia dari 89 Madrasah Ibtidaiyah (MI) dan Sekolah Dasar (SD). Kelompok usia 10 dan 12 tahun mempertandingkan sepak bola putri 7 melawan 7. Sedangkan di usia 8 tahun mempertandingkan permainan-permainan bertema sepak bola yang tujuannya untuk pengenalan.

Penyelenggaraan MLSC Kudus seri kedua menunjukkan geliat positif ekosistem sepak bola putri yang terus tumbuh dan berkembang. Sejak pertama kali digelar pada tahun 2023, Kudus menjadi kota awal pembinaan sepak bola putri usia dini yang berkelanjutan dan telah memunculkan talenta potensial untuk dipersiapkan menjadi atlet sepak bola putri Indonesia. 

Beberapa nama yang telah menembus Tim Nasional Putri Indonesia di antarannya Asyifa Sholawa dan Della Citra dari Kudus serta Jazlyn Firyal dari Jakarta merupakan nama-nama jebolan dari MLSC. 

Pelatih Kepala Timnas Putri Indonesia Timo Scheunemann dalam rilis MLSC menilai proses pembinaan pemain muda tidak cukup hanya mengandalkan kemampuan teknik lapangan. Menurut dia, konsistensi latihan dan rasa suka terhadap sepak bola menjadi faktor penting dalam perkembangan atlet putri usia dini. Selain itu menurut dia pembinaan sepak bola putri perlu dibangun secara bertahap agar siswi dapat berkembang baik dari sisi kemampuan bermain dan karakter diri.

Dalam beberapa tahun ini sepak bola wanita di Indonesia seolah kembali menemukan gairahnya. Fajar kedua mulai bangkit lewat prestasi Garuda Pertiwi yang berhasil menjadi juara Piala AFF 2024 hingga kini berada di peringkat 106 FIFA (data terbaru Mei 2026). 

Salah satu faktor yang memantiknya adalah keberadaan kompetisi yang konsisten dan berjenjang. Kompetisi yang rutin dan berkelanjutan adalah ruang berkembang bagi para pemain muda untuk mengasah kemampuan, menguji mental bertanding hingga menjadi wadah pembinaan berkelanjutan.

Ketika ekosistem sepak bola putri mulai berkembang dan memiliki pondasi yang kuat bukan tidak mungkin Garuda Pertiwi kita mampu terbang lebih tinggi mengukir sejarah prestasi di kancah sepak bola wanita internasional.

Foto dan teks : Mohammad Ayudha.
Editor : Nyoman Budhiana

Pewarta: Mohammad Ayudha | Editor:

Disiarkan: 07/06/2026 19:13