Menjaga layar tetap ramah anak

Sejumlah konten kreator bersiap untuk membuat konten Minivila di Bekasi, Jawa Barat.
Konten kreator berhias sebelum pengambilan gambar di Bekasi.
Kertas bergambar siap digunakan untuk berbagai narasi konten anak di studio Minivila.
Seorang konten kreator bersiap untuk pengambilan gambar.
Konten kreator menyiapkan proses pembuatan konten anak di Bekasi, Jawa Barat.
Foto kolase konten kreator menunjukkan mainan anak-anak di studio Minivila.
Konten kreator mengedit video sebelum ditayangkan di Youtube.
Seorang anak didampingi orang tua menonton konten Youtube khusus anak-anak di Tangerang, Banten.

Di tengah derasnya arus konten digital, membatasi anak dari layar sepenuhnya menjadi tantangan yang semakin sulit bagi banyak orang tua. Di satu sisi gawai dan internet telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, di sisi lain kekhawatiran terhadap dampak screen time pada tumbuh kembang anak terus mengemuka.

Dari keresahan itulah lahir sebuah konten Youtube edukasi anak usia dini yang dibangun dengan tujuan menghadirkan tontonan untuk mendukung perkembangan anak bernama Minivila.

Neysa Nadia Lestari dan Annisa Listyani merupakan pendiri sekaligus pembuat konten Minivila yang memiliki latar belakang pendidikan psikologi dan pernah menempuh pendidikan diploma Montessori. Mereka mencoba menjawab kebutuhan orang tua yang membutuhkan alternatif tontonan berkualitas bagi anak-anak usia 2-6 tahun.

Minivila dirancang untuk membantu orang tua memaksimalkan manfaat media digital sekaligus meminimalkan risikonya. Mereka menyadari bahwa screen time memiliki sisi positif dan negatif. Karena itu pendekatan yang diambil bukan menolak teknologi sepenuhnya melainkan menggunakannya secara bijak.

Prinsip tersebut terlihat dari berbagai keputusan yang diterapkan dalam proses produksi konten. Salah satunya adalah durasi video yang dibatasi sekitar 15 hingga 20 menit. Selain itu setiap episode disusun berdasarkan pembelajaran yang jelas sehingga setiap tayangan memiliki tujuan yang spesifik.

Bagi Minivila konten anak bukan sekadar menghadirkan warna-warni visual dan lagu yang menarik perhatian. Konten tersebut berusaha memastikan setiap tayangan memberikan stimulasi yang sesuai dengan tahap perkembangan usia anak. Misalnya ketika anak berusia dua tahun mulai belajar memegang alat tulis atau mengenal kosakata baru, unsur-unsur tersebut akan dimasukkan ke dalam materi video.

Pendekatan tersebut juga menjadi cara untuk menghindari konten yang terlalu merangsang atau overstimulating. Karena visual dan suara yang berlebihan memang dapat menarik perhatian anak dalam waktu singkat, tetapi belum tentu mendukung proses belajar yang sehat.

Pandangan tersebut sejalan dengan semangat Peraturan Pemerintah tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Perlindungan Anak (PP TUNAS) yang belakangan menjadi perhatian publik. Regulasi ini hadir untuk memperkuat perlindungan anak di ruang digital termasuk dalam penggunaan media sosial dan platform daring.

Anissa mengaku telah mengikuti perkembangan PP TUNAS melalui berbagai artikel dan pemberitaan. Baginya, regulasi tersebut merupakan langkah yang tepat karena memiliki tujuan yang sejalan dengan filosofi yang selama ini dipegang Minivila.

Namun dia menegaskan bahwa regulasi saja tidak cukup. Peran orang tua tetap menjadi faktor utama dalam menjaga pengalaman digital anak. Menurutnya, anak usia dini belum memiliki kemampuan untuk mengontrol penggunaan media sosial maupun memilih konten secara mandiri. Karena itu, pendampingan orang tua tidak bisa digantikan oleh teknologi ataupun aturan semata.

Di tengah meningkatnya perhatian pemerintah terhadap keamanan anak di dunia digital termasuk penutupan jutaan akun media sosial milik anak di bawah umur, dia menilai tantangan berikutnya adalah memastikan pengawasan dilakukan secara berkelanjutan.

Pada akhirnya tantangan terbesar bukan terletak pada keberadaan teknologi itu sendiri, melainkan bagaimana orang dewasa mengelolanya agar tetap menjadi sarana yang aman dan bermanfaat bagi anak.

 

Foto dan teks: Rivan Awal Lingga

Editor : Fanny Octavianus

Pewarta: Rivan Awal Lingga | Editor:

Disiarkan: 10/06/2026 02:03