Dari ujung barat Pulau Dewata, kakao Jembrana menembus pasar dunia
Jauh dari ingar-bingar gemerlap industri pariwisata di Pulau Dewata, para petani di Kabupaten Jembrana, Bali, secara konsisten membudidayakan kakao sebagai salah satu komoditas utama. Berdasarkan data Dinas Pertanian, Perikanan dan Pangan Jembrana, pada tahun 2025 tercatat 13.119 KK petani menggantungkan harapannya pada pohon-pohon kakao yang ditanam di areal seluas sekitar 6.340 hektare yang tersebar di lima wilayah kecamatan. Berkat potensi besar tersebut, kabupaten yang terletak di ujung barat Pulau Dewata itu dideklarasikan sebagai Kota Cokelat pada tahun 2024 silam.
Pagi itu, I Ketut Sudomo (75) bersama anaknya I Made Dwi Mahardiyasa (21) melakukan rutinitas di kebun kakao Desa Candikusuma, Jembrana. Ketut Sudomo yang sudah puluhan tahun menjadi petani kakao itu hafal betul mana buah kakao yang siap dipanen. Kedua tangan petani lintas generasi itu cekatan memotong tangkai demi tangkai buah kakao yang matang. Dibantu sejumlah petani lainnya, buah kakao yang telah dipanen kemudian dipecah untuk mengeluarkan biji kakaonya.
Setelah proses pemanenan di tingkat hulu, proses pengolahan biji kakao fermentasi juga dilakukan oleh pelaku industri kakao setempat guna menghasilkan biji kakao berkualitas dengan nilai ekonomis tinggi. Salah satunya dijalankan Koperasi Kakao Kerta Semaya Samaniya. Koperasi tersebut menyerap biji kakao Jembrana yang dipanen dari 37 kelompok tani untuk diolah menjadi biji kakao fermentasi dengan kapasitas produksi sekitar 50 ton per tahun. Biji kakao yang dikumpulkan dari petani itu menjalani proses fermentasi alami selama 6–7 hari. Setelah itu, biji kakao dijemur hingga kadar airnya tidak lebih dari 7 persen. Biji kakao kering kemudian melewati tahap sortasi sebelum dikemas dan dikirim kepada pembeli.
Di Indonesia, Koperasi Kakao Kerta Semaya Samaniya mengirimkan produk kakao fermentasinya kesejumlah chocolate maker (bean-to-bar) tidak hanya di Bali namun juga ke berbagai daerah, seperti Jakarta, Makassar, Surabaya, dan Mataram. Tidak hanya dipasarkan di dalam negeri, kakao fermentasi itu juga berhasil menembus pasar ekspor ke sejumlah negara, antara lain Prancis, Belanda, Belgia, dan Jepang. Kualitas komoditas ekspor tersebut pun mendapat pengakuan internasional melalui raihan Cacao of Excellence Silver Award 2023 oleh Koperasi Kakao Kerta Semaya Samaniya.
Keberhasilan menembus pasar internasional itu tidak lantas membuat para pemangku kepentingan setempat berpuas diri. Para petani terus berupaya menghasilkan buah kakao terbaik. Potensi ekonomi yang besar dalam budi daya kakao juga membuat generasi muda tertarik kembali ke desa untuk menjadi petani dengan bekal inovasi dan pengetahuan guna meningkatkan produksi dan kualitas kakao. Pemerintah Kabupaten Jembrana pun berupaya menjaga keberlangsungan komoditas kakao melalui Peraturan Daerah Kabupaten Jembrana Nomor 8 Tahun 2020 tentang Perlindungan dan Pengembangan Komoditas Kakao.
Pengembangan kakao Jembrana, mulai dari proses budidaya oleh petani di kebun desa, pengolahan yang menggerakkan perekonomian masyarakat setempat, hingga akhirnya tampil di pasar internasional, menjadi bukti nyata bahwa kerja keras dan sinergi lintas sektor mampu mengantarkan produk unggulan daerah ke panggung dunia.
Foto dan teks: Fikri Yusuf
Editor: Akbar Nugroho Gumay
Pewarta: Fikri Yusuf | Editor:
Disiarkan: 11/06/2026 13:08