Memulihkan jiwa anak yang terluka
Fajar baru saja menyingsing di ufuk timur, menyisakan semburat cahaya yang belum sepenuhnya merebut takhta malam. Di balik rimbunnya pepohonan yang memeluk kawasan Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Provinsi Jawa Barat, semilir angin pagi berembun hadir membawa keteduhan yang menenangkan. Di sinilah, perjuangan dimulai setiap harinya para perawat dan tenaga medis yang dengan penuh kasih merajut kembali harapan di jiwa anak-anak yang sedang terluka untuk segera pulih.
Data kunjungan medis yang dihimpun pada periode Januari hingga April 2026 di layanan Kesehatan Jiwa Anak dan Remaja (Keswara) menunjukkan akumulasi kunjungan pasien mencapai 754 kasus, dengan prevalensi gangguan klinis tertinggi didominasi oleh kelompok diagnosis skizofren hebefernik atau gangguan mental kronis yang ditandai dengan kekacauan pikiran, perilaku kekanak-kanakan dan respons emosional yang tidak wajar.
Angka ini tidak melulu membawa kabar buruk. Di satu sisi, fenomena ini menunjukkan sebuah lompatan besar bahwa stigma negatif mulai terkikis. Para orang tua kini tidak lagi malu membawa anak mereka ke rumah sakit jiwa demi mendapatkan diagnosis yang tepat.
Banyak yang menduga bahwa gangguan jiwa pada anak dan remaja adalah masalah tunggal. Padahal, para ahli di RSJ Provinsi Jawa Barat menegaskan bahwa gangguan ini bersifat multifaktorial atau gabungan rumit antara faktor biologis, pola asuh psikologis dan tekanan sosial.
Salah satu fenomena yang paling mencuri perhatian belakangan ini adalah kecanduan gadget (gadget addiction). Ironisnya, akar masalah sering kali bermula dari rumah. Demi menenangkan anak yang menangis, gadget kerap diberikan sebagai jalan pintas, akibatnya fatal. Ketika layar itu ditarik, anak-anak mengalami kecemasan hebat, tantrum, hingga depresi.
"Namun, perlu diketahui bahwa pemakaian gawai yang berlebihan sering kali bukan menjadi penyebab tunggal, melainkan sebuah dampak atau bentuk pelarian dari gangguan jiwa yang sebelumnya sudah diidap oleh anak (komorbiditas)," ungkap Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Subspesialis Psikiatri Anak dan Remaja, Lina Budiyanti.
Selain itu, fenomena perundungan (bullying), judi daring, hingga pemerasan seksual siber (cyber-sextortion) tercatat menjadi momok menakutkan yang kini menjadi pemicu kerentanan mental generasi muda. Tekanan intens dari lingkungan asli maupun virtual tersebut kerap memicu gangguan cemas, depresi, hingga gangguan psikotik berat di mana pikiran anak mulai terdistorsi dari realitas.
Upaya proses penyembuhannya yang dilakukan perawat dan tenaga medis menggunakan pendekatan menyeluruh yang mencakup tiga pilar utama. Pertama, secara biologis, pasien diberikan obat-obatan untuk menangani fungsi tubuh atau otak yang terganggu. Kedua, secara psikologis, pasien didampingi serta diberikan terapi untuk memulihkan trauma, mengatasi rasa kurang percaya diri, dan memperbaiki kerentanan mental. Ketiga, secara sosial, pasien dibantu untuk dapat beradaptasi dan mencari lingkungan yang lebih sehat.
Pada akhirnya, kesembuhan jiwa ini bukanlah sebuah perjalanan tunggal, melainkan sebuah simfoni kepedulian yang harus dilakukan bersama. Di balik rapuhnya jiwa-jiwa muda yang sedang terluka, ada asa yang menolak untuk padam.
"Menghapus stigma dan membenahi cara kita mengasuh serta melindungi mereka dari riuh modernisasi adalah tugas kemanusiaan yang mendesak," kata Wakil Direktur Medik, Keperawatan dan Penunjang RSJ Provinsi Jawa Barat, Noki Irawan Saputra.
Sebab, menyelamatkan kesehatan mental generasi muda hari ini bukan sekadar menyembuhkan sebuah diagnosis, melainkan sedang menyelamatkan masa depan bangsa yang kelak akan meneruskan estafet peradaban ini.
Foto dan teks : Abdan Syakura
Editor : Fanny Octavianus
Pewarta: Abdan Syakura | Editor:
Disiarkan: 12/06/2026 00:18