Ruang juang perempuan dari perkebunan teh Kabupaten Bandung
Kabupaten Bandung adalah salah satu episentrum hijau bagi industri teh nasional. Dari BPS, tercatat luas wilayah komoditi tanaman teh yang menghasilkan mencapai 16.766 hektare.
Ibarat permadani hijau, keberadaan perkebunan teh di area tersebut menjelma menjadi salah satu penyokong provinsi Jawa Barat yang menyumbangkan hampir 70 persen dari total produksi teh secara nasional.
Megahnya hasil komoditas tersebut tidak lepas dari peran pekerja perempuan pemetik teh yang mengisi hampir 30 persen tenaga kerja di sektor tersebut. Namun, di balik hamparan daun menyegarkan mata dan dahaga tersebut, peran pekerja perempuan pemetik teh mengalami tantangan.
Mulai dari tantangan saat memetik daun teh di area terjal dan curam, tantangan akan kesetaraan dalam sistem kerja, hingga tantangan sisi ekonomi yang lebih, untuk kesejahteraan.
Berangkat dari potret tantangan tersebut, dari tahun 2023, Community Development Forum (CDF) terbentuk menjadi wadah kolaborasi secara aktif antara pemerintah desa, perusahaan, pekerja termasuk pekerja perempuan dan masyarakat. Tiga CDF dibentuk dengan pendampingan CARE Indonesia, di tiga komunitas sekitar perkebunan teh Malabar - Desa Banjarsari, di Pasir Malang - Desa Margaluyu, dan di Negara Kanaan - Desa Indragiri.
Saat ini, bersama 169 anggota, yang terdiri dari 133 perempuan dan 33 laki-laki, CDF menciptakan ruang yang lebih inklusif dan berupaya meningkatkan kesejahteraan komunitas termasuk perempuan.Dampak konsistensi forum tersebut tidak hanya formalitas. Hasil kolaborasi di sektor kemandirian ekonomi terpampang dari tiga Kelompok Usaha Bersama (KUBE) yang berhasil tercipta yakni Warung Enteh, warung penjualan gas dan pupuk, serta produksi dehydrated lemon (lemon kering).
Ketiga usaha tersebut berhasil meraup omzet yang jika ditotalkan mencapai Rp124.500.000 tercatat hingga Mei lalu.
Lebih jauh lagi, hak paling fundamental bagi pekerja khususnya pekerja perempuan yakni hak atas sanitasi juga tercipta. Kolaborasi perusahaan perkebunan teh, pemerintah desa & masyarakat melalui CDF menghasilkan tersedianya MCK, toilet portabel hingga toilet permanen. Hak atas air bersih juga diperkuat oleh penampungan air berkapasitas 10.000 liter untuk 200 kepala keluarga di Pasir Malang.
Lalu, kolaborasi perlindungan terhadap Kekerasan Berbasis Gender dan Kekerasan Seksual (KBG-KS) termasuk pada perempuan dan anak ditingkatkan melalui penguatan SAPPANA bersama pemerintah desa.
Di Desa Banjarsari, SAPPANA diketahui telah menerima dan mendampingi enam kasus KBG-KS. Bahkan sebagai tambahan informasi, layanan program Paket Kejar A, B dan C disediakan untuk menguatkan pendidikan yang sempat terhenti bagi perkerja perempuan.
Salah satu sosok perempuan yang turut terlibat aktif dalam forum tersebut adalah Nyai Sunarsih. Sepuluh tahun sudah perempuan berusia 51 tahun ini mendedikasikan hidupnya memetik daun teh terbaik, kini ia tergabung menjadi Bendahara di CDF Desa Margaluyu dan KUBE produksi dehydrated lemon.
Partisipasinya dalam KUBE tersebut selain meningkatkan pendapatan ekonomi, juga menurutnya meningkatkan rasa percaya diri dan menyuarakan pendapatnya untuk kesetaraan. Alhasil, Nyai Sunarsih berani menjadi pembicara di forum diskusi multipihak untuk kesejahteraan pekerja perempuan pemetik teh.
Dari balik pucuk dan helai daun teh yang dipetik, masyarakat termasuk perempuan dan pekerja di kebun teh mampu menyuarakan hak, makin berdaya dan setara.
Foto dan teks: Novrian Arbi
Editor: Ismar Patrizki
Pewarta: Novrian Arbi | Editor:
Disiarkan: 12/06/2026 19:52