Lakon dalang cilik di tengah gempuran arus digital
Dang! Dang tak dung plak!
Ning... nong... ning... nong...
Prak! Prak! Prak!
Kukusing dupa kumelun
Ngeningken tyas Sang Apekik
Kawengku sagung jajahan, Oooo...
Nanging sanget hangikipi
Sang Resu Kaneka Putra
Kang anjog saking wiyati, Oooo...
Alunan gamelan, kendang, dan demung mengiringi suluk yang membuka lakon wayang kulit Anoman Obong. Di balik kelir, Benji, seorang dalang cilik, lincah menggerakkan tokoh Anoman. Tangan kanannya memainkan wayang, sementara kedua kakinya menabuh keprak mengikuti ritme dialog dan gerak lakon yang tengah berlangsung.
Di sudut ruangan, sekelompok anak antusias memainkan perangkat karawitan Jawa. Suara kendang, gender, bonang, demung, saron, kenong, kempul, gong, hingga gambang berpadu menghidupkan suasana pertunjukan. Nada-nada itu mengalun harmonis dari sebuah ruangan sederhana di Gang Wayang, Cinere, Depok, Jawa Barat.
Di lantai dua bangunan itulah puluhan anak-anak berlatih seni pedalangan di Sanggar Nirmala Sari. Sanggar yang didirikan almarhum Ki Asman Budi Prayitno pada 1 Juni 1987 tersebut menjadi salah satu ruang belajar wayang kulit bagi anak-anak yang masih bertahan di wilayah Jabodetabek.
Setiap Minggu, anak-anak berusia lima hingga belasan tahun datang dari berbagai daerah untuk belajar. Mereka tidak hanya mempelajari cara memainkan wayang, tetapi juga diwajibkan menguasai karawitan Jawa sebagai bagian yang tak terpisahkan dari seni pedalangan.
Sejak berdiri hampir empat dekade lalu, Sanggar Nirmala Sari telah melahirkan ratusan peserta didik. Saat ini terdapat sekitar 25 siswa aktif yang terbagi dalam dua kelas. Kelas A berlangsung pukul 08.00 hingga 12.00 WIB, sementara Kelas B dilaksanakan pukul 13.00 hingga 17.00 WIB.
Menurut pengajar sanggar, Puji Winarto proses belajar seorang dalang tidak hanya berfokus pada keterampilan memainkan wayang. Para siswa juga mempelajari pengenalan tokoh pewayangan, teknik memegang dan menggerakkan wayang, dodokan dan keprakan, suluk, sastra pedalangan, hingga filosofi yang terkandung dalam setiap lakon.
“Dari lakon yang dimainkan, siswa dapat memetik pelajaran tentang kebajikan, kesetiaan, serta nilai-nilai kebijaksanaan yang relevan dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya.
Bagi sebagian orang tua, belajar wayang juga menjadi alternatif aktivitas positif di tengah meningkatnya paparan dunia digital pada anak. Salah satunya dirasakan Irina Laurensia, orang tua Amadeo, siswa berusia tujuh tahun yang berdomisili di Kebun Jeruk, Jakarta Barat.
Menurut Irina, ketertarikan mengikuti sekolah dalang berawal dari keinginan putranya sendiri. Namun di sisi lain, kegiatan tersebut turut mengurangi waktu anak bermain gawai. Ia mengaku kerap memantau aktivitas digital anaknya dan menyadari berbagai risiko yang dapat muncul dari penggunaan internet tanpa pengawasan, mulai dari perundungan hingga interaksi yang tidak sesuai usia.
Kekhawatiran inilah yang menjadi perhatian pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Digital dengan menerbitkan Peraturan Pemerintah tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Perlindungan Anak atau PP Tunas. Regulasi tersebut mendorong terciptanya ruang digital yang lebih aman bagi anak, termasuk melalui pembatasan fitur dan verifikasi usia pada sejumlah platform digital.
Di tengah berbagai upaya perlindungan anak di ruang maya, keberadaan Sanggar Nirmala Sari menawarkan ruang alternatif di dunia nyata. Di tempat ini, anak-anak tidak hanya belajar memainkan tokoh pewayangan, tetapi juga mewarisi nilai-nilai budaya yang telah hidup selama berabad-abad.
Layaknya lakon Anoman Obong yang berkisah tentang keberanian Anoman menghadapi Rahwana demi menyelamatkan Dewi Sinta, para dalang cilik itu kini menjalani lakonnya sendiri. Di tengah derasnya arus teknologi dan hiburan digital, mereka terus menabuh keprak, melantunkan suluk, dan menjaga agar warisan budaya tetap hidup dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Foto dan Teks: Indrianto Eko Suwarso
Editor : Fanny Octavianus
Pewarta: Indrianto Eko Suwarso | Editor:
Disiarkan: 16/06/2026 20:15