Liga Akamsi, sebuah asa sepak bola jalanan

Foto udara pertandingan Liga Akamsi di Jalan Sawah Lio, Tambora, Jakarta.
Panitia Liga Akamsi memeriksa jaring gawang sebelum dimulainya pertandingan.
Pemain Liga Akamsi memakai sepatu sebelum dimulainya pertandingan.
Panitia Liga Akamsi mendata anak-anak peserta Liga Akamsi.
Pemain Liga Akamsi saling berjabat tangan untuk menjaga sportivitas sebelum dimulainya pertandingan.
Pelatih memberi instruksi kepada pemain sebelum dimulainya pertandingan.
Pemain Liga Akamsi mendengarkan instruksi wasit sebelum dimulainya pertandingan.
Pemain berebut bola saat pertandingan Liga Akamsi.
Dokter mengobati pemain yang terluka saat bertanding.
Seorang pemain menangis setelah timnya kalah pada pertandingan Liga Akamsi.
Seorang pemain Ilham Fadila melakukan seleberasi usai timnya memenangkan pertandingan.
Panita Liga Akamsi mendata pemain yang mencetak gol saat pertandingan.
Penonton meneriakan yel-yel saat menyaksikan pertandingan Liga Akamsi.

Suara riuh warga dari berbagai usia termasuk anak-anak memecah kesunyian di tengah terik panasnya sinar matahari. Sebuah gang sempit di kawasan Tambora, Jakarta Barat siang itu jadi pusat keramaian. Tampak remaja belasan tahun dengan bangga mengenakan jersi klub sepak bola kesayangannya, sementara para orang tua berdiri saling berhimpit melihat aksinya.

Di kawasan permukiman padat penduduk itu sedang berlangsung turnamen sepak bola Liga Akamsi yaitu sebuah kompetisi lokal yang dikuti 48 anak dengan usia 8-15 untuk menyalurkan minat mereka terhadap sepak bola. Selain itu kompetisi tersebut juga diharapkan bisa menjaring dan mengasah bakat sepak bola anak-anak agar dapat berkembang ke tingkat yang lebih profesional.

Kompetisi ini sebenarnya telah dimulai sejak tahun 2025 yang diinisiasi oleh seorang warga Firqi Hidayatulah (23) yang akrab disapa Kiwil selaku Presiden Liga Akamsi, bersama pengurus Karang Taruna Unit 5 RW 005 Kelurahan Jembatan Lima, Kecamatan Tambora. Kompetisi ini juga dibentuk untuk menyediakan ruang bermain yang aman bagi anak-anak di tengah minimnya fasilitas publik yang ramah anak akibat pesatnya pembangunan kota.

Setiap hari Minggu pekan kedua, Jalan Sawah Lio dialihfungsikan sementara menjadi lapangan pertandingan. Meski tanpa adanya tribun penonton tidak menyurutkan antusiasme warga dari berbagai usia untuk datang. Mereka rela berdiri di sepanjang tepi jalan aspal untuk memberikan dukungan kepada tim pavoritnya.

Sarana yang digunakan dalam turnamen ini sangat sederhana. Semuanya dibuat secara swadaya oleh pengurus karang taruna. Lapangan memanfaatkan badan jalan yang biasa dilewati kendaraan, sementara gawang dirakit menggunakan potongan pipa paralon putih dengan jaring dari tali rafia.

Di tengah keterbatasan fasilitas, lapangan aspal, dan tanpa perlengkapan olahraga yang mewah, kompetisi ini tetap berjalan secara rutin dengan mengutamakan sportivitas antarpemain. Dalam pertandingan setiap tim yang terdiri dari 6-7 pemain berhadapan tim lainnya untuk memperebutkan piala layaknya kompetisi profesional.

Istilah Akamsi yang berasal dari singkatan Anak Kampung Sini mungkin terdengar seperti seloroh gurauan. Namun di tempat ini, akronim tersebut bukan sekadar nama turnamen melainkan menjadi sebuah identitas kultural yang melekat erat pada anak-anak yang bermukim dan tumbuh besar di kawasan itu.

Ketika tanah-tanah lapang berubah menjadi deretan bangunan, fanatisme dan ide tersebut tidak lantas mati. Ia justru mencari jalannya sendiri merayap masuk ke dalam gang beserta lincahnya sepakan kaki-kaki mungil. Fenomena transformasi gang menjadi lapangan sepak bola ini muncul di tengah dorongan kuatnya budaya dan kegemaran sepak bola di tengah masyarakat kota. Tidak salah kalau Indonesia telah lama dikenal sebagai salah satu negara yang warganya memiliki fanatisme sepak bola. 

Gairah di gang ini terasa kian membara, berdenyut seirama dengan demam Piala Dunia 2026 yang sedang melanda bumi. Di saat mata seluruh dunia tertuju pada stadion-stadion megah di Benua Amerika, anak-anak Tambora menciptakan panggung global mereka sendiri di atas aspal. Selama bola masih menggelinding di celah gang, maka napas kehidupan dan mimpi sepak bola di akar rumput Jakarta tidak akan pernah bisa dimatikan.

Foto dan teks : Galih Pradipta
Editor : Nyoman Budhiana

Pewarta: Galih Pradipta | Editor:

Disiarkan: 22/06/2026 20:37