Mimpi yang menyatu di Negeri Tulehu

Seorang anak bermain bola di Pantai Tulehu.
Sebuah gawang terpasang di Lapangan Darusalam.
Eby Rumeon yang merupakan orang tua dari pesepak bola Arema FC Iksan Lestaluhu berpose saat berdagang ikan di Tulehu.
Pesepak bola Arema FC Iksan Lestaluhu berpose di depan rumahnya di Tulehu.
Warga Tulehu menggelar prosesi injak rumput bagi bayi berusia 40 hari.
Kalasum Lestaluhu menggendong anak di depan rumahnya.
Koleksi jersi milik salah satu warga Tulehu.
Pecinta sepak bola berkonvoi di Tulehu usai menyaksikan pertandingan Piala Dunia 2026.
Pelatih sepak bola Luthfi Lestaluhu berpose di kawasan Lapangan Matawaru.
Kumpulan bola untuk latihan milik sekolah sepak bola (SSB) Maehanu di Tulehu.
Sejumlah anak bersiap berlatih sepak bola di Lapangan Darusalam.
Sejumlah anak berlatih menendang bola di Lapangan Darusalam.
Foto udara Lapangan Matawaru.

Bagaikan pohon tua yang tumbuh dengan akar kuat menjalar ke setiap sudut kampung, menembus halaman rumah, lorong-lorong sempit, hingga tepian laut, begitulah sepak bola mengakar di Tulehu, Kabupaten Maluku Tengah, Maluku. Di wilayah setingkat desa seluas sekitar 2,3 Km persegi yang disebut Negeri itu, kecintaan warganya terhadap sepak bola diwariskan seperti barang paling berharga dari generasi ke generasi.

Di Negeri Tulehu yang berpenduduk sekitar 22.107 jiwa (data tahun 2020), anak-anak lahir di tengah cerita tentang gol, lapangan, dan para pemain yang pernah membawa nama kampung mereka melintasi batas pulau. Seorang anak sejak usia enam tahun sudah akrab dengan bola. Tentu saja mereka belum mengenal taktik atau strategi tetapi kaki-kaki kecil mereka telah belajar mengejar dan menendang bola. 

Selain belajar di sekolah formal, mereka juga mulai memasuki sekolah sepak bolak ketika usianya menginjak delapan tahun. Di sana bakat yang selama ini tumbuh liar mulai diarahkan. Dasar-dasar permainan diajarkan tetapi yang lebih penting adalah semangat yang telah lebih dulu hidup dalam diri mereka.

Lapangan-lapangan di sana menjadi ruang belajar yang unik. Anak-anak tidak hanya belajar menggiring atau menendang bola, melainkan juga belajar tentang cita-cita. Mereka tumbuh dengan bayangan para senior yang telah lebih dulu merantau ke klub-klub besar dan mengenakan seragam tim nasional. Sosok-sosok itu menjadi mercusuar yang menerangi jalan mereka.

Di benak banyak anak Negeri Tulehu sepak bola bukan sekadar jalan menuju ketenaran, tetapi juga jembatan menuju kehidupan yang lebih baik. Mereka ingin mengangkat derajat keluarga, membangun rumah bagi orang tua, dan membawa kebanggaan bagi kampung halaman. Selain itu mereka juga ingin membuktikan bahwa mimpi bisa lahir dari keluarga nelayan, petani, dan pekerja kecil di desa.

Perjalanan panjang pembinaan sepak bola di sana juga menyimpan kisah perjuangan. Ketika sekolah sepak bola pertama berdiri di sana konsep pembinaan usia dini masih asing bagi banyak orang di Maluku. Namun semangat untuk membangun masa depan sepak bola begitu besar. Anak-anak dari berbagai daerah berdatangan untuk berlatih. 

Dari lapangan sederhana itu lahir banyak nama seperti Ramdani Lestaluhu, Rizky Pellu, Hendra Adi Bayau, Iksan Lestaluhu dan Alfin Tuasalamony yang kemudian tenar dalam dunia sepak bola Indonesia.
Di balik lahirnya para pemain tersebut, ada sejumlah orang yang memilih tetap tinggal untuk menjadi pembimbing generasi berikutnya. Salah satunya adalah seorang pelatih bernama Luthfi Lestaluhu yang pernah merasakan kerasnya perjalanan sebagai pemain. 

Dia sempat menembus kompetisi tingkat nasional dan membela klub di luar Maluku. Namun cedera lutut menghentikan langkahnya di lapangan. Bagi sebagian orang mungkin itu menjadi sebuah akhir. Namun baginya justru menjadi awal pengabdian baru. Ia pulang ke kampung halamannya dan mengalihkan seluruh tenaganya untuk membina anak-anak. Dari tangan para pelatih seperti itulah estafet sepak bola Negeri Tulehu terus berlanjut.

Saat ini, lapangan utama yang bernama Matawaru telah jauh lebih baik usai direnovasi oleh pemerintah daerah serta dukungan dari para tokoh-tokoh Negeri Tulehu. Rumput hijau membentang rapi menghadirkan harapan baru bagi anak-anak yang setiap sore berlari mengejar bola.

Meski demikian, masih ada tantangan yang harus dihadapi. Peralatan latihan yang sederhana sekalipun belum selalu mudah didapatkan. Cone, barrier, dan perlengkapan dasar lainnya masih menjadi kebutuhan yang sering kali sulit dipenuhi. Namun keterbatasan bukanlah halangan bagi mereka.

Ketika seorang pemain berhasil menembus tim nasional, maka seluruh kampung ikut merayakannya. Kebanggaan itu terasa kolektif seolah keberhasilan seorang anak adalah kemenangan seluruh Negeri Tulehu. Generasi baru terus bermunculan. Anak-anak terus memenuhi lapangan setiap sore. Mereka datang membawa mimpi yang sama seperti kakak-kakak mereka dahulu.

Negeri Tulehu mungkin hanya sebuah titik kecil di peta Indonesia. Namun dari titik kecil itu, lahir mimpi-mimpi besar yang terus berlari mengejar cakrawala. Dan selama masih ada anak-anak yang menendang bola di lapangan kampungnya, selama masih ada pelatih yang setia membimbing mereka, kisah tentang Tulehu sebagai negeri penghasil pesepak bola tidak akan pernah selesai.

Foto dan teks: Rivan Awal Lingga
Editor : Nyoman Budhiana
 

Pewarta: Rivan Awal Lingga | Editor:

Disiarkan: 01/07/2026 12:52