Terapi jiwa itu dengan sepak bola
Di hamparan rumput hijau, suara benturan kruk beradu dengan tanah terdengar berirama, menyatu dengan deru napas dan teriakan penuh semangat. Mereka berjibaku merebut bola, bergerak dengan satu kaki, sementara sang penjaga gawang bersiaga dengan satu tangan yang tersisa.
Di sini, keterbatasan fisik bukanlah akhir, melainkan awal untuk merajut kembali mimpi yang sempat terputus. Dari pinggir lapangan, seorang pria paruh baya duduk di atas kursi roda mengawasi dengan saksama permainan. Ia adalah Abdul Syakur (51), pria kelahiran Surabaya yang mengubah putaran roda kursinya menjadi kendaraan pengantar asa bagi para penyandang disabilitas.
Di balik gemerlap prestasi di lapangan hijau, ada pahlawan-pahlawan sunyi yang bekerja di akar rumput. Di Surabaya pria yang akrab dipanggil Syakur itu mengambil peran tersebut. Sebagai Wakil Ketua Umum Persatuan Sepak bola Amputasi Indonesia (PSAI) Asosiasi Kota Jawa Timur sekaligus pengurus Perkumpulan Sepak Bola Amputasi Surabaya (Persas), ayah dari dua anak ini menjelma menjadi pemandu bakat (talent scout) bagi calon atlet difabel.
Bersama dua rekannya, Syakur menjalin kerja sama dengan Dinas Sosial Surabaya dan Jawa Timur hingga kepolisian setempat untuk melacak informasi mengenai korban kecelakaan lalu lintas atau insiden lain yang menyebabkan seseorang menjadi penyandang disabilitas.
Dengan 'blusukan' dari rumah ke rumah, dia mengetuk pintu untuk bertemu mereka yang mungkin tengah mengurung diri dalam kamar karena kehilangan rasa percaya diri. Di sanalah Syakur hadir dengan menawarkan sepak bola yang bukan sekadar olahraga, tetapi sebagai terapi pemulihan jiwa. Tujuannya untuk merangkul para tunadaksa agar menepis rasa minder, berani membuka diri, dan kembali menemukan makna serta nilai diri mereka.
Hal itu dia lakukan juga untuk para santri korban amputasi akibat robohnya bangunan mushalla di Pondok Pesantren Al-Khoziny, Buduran, Sidoarjo. Tanpa ragu, dia menyusuri gang-gang sempit perkampungan yang berat dilalui kursi rodanya. Kedatangannya untuk menemui orang tua para penyintas dan para pengurus pondok demi menawarkan secercah jalan keluar di tengah trauma yang belum sepenuhnya berakhir.
Di ruang-ruang yang sederhana itu, dia bersama rekannya mengenalkan dunia sepak bola amputasi kepada para penyintas. Dia membagikan kepingan pengalamannya, menanamkan benih keberanian, dan berusaha menumbuhkan kembali rasa cinta serta kebanggaan diri yang mungkin sempat ikut runtuh.
Untuk meyakinkan bahwa keterbatasan fisik bukanlah vonis mati bagi masa depan, Syakur menunjukkan bukti nyata dari keringat yang selama ini dicurahkan bersama timnya. Di balik segala keterbatasan fasilitas, ada mental baja yang tak bisa diremehkan.
Ada sejumlah prestasi yang telah diukirnya selama ini di antaranya runner up Piala Menpora tahun 2022 dan 2023, runner up Piala Bupati Jember 2023, dan runner up Piala Kapolresta Malang 2024. Di atas kruk dan kursi roda, Syakur meretas batas fisik. Lewat sepak bola, dia membuktikan bahwa raga boleh tidak sempurna, namun asa berhak terbang melampaui segalanya.
Sebagai pemandu bakat, sejak tahun 2022 ada empat orang anak dalam asuhannya. Dia merancang program latihan secara terukur dan rutin memantau perkembangan anak asuhnya termasuk melalui evaluasi video. Di lapangan, para pemain dilatih secara bertahap, mulai dari adaptasi penggunaan kruk hingga teknik berlari. Dedikasinya bahkan melampaui urusan teknis di lapangan, bahkan sering bersama rekannya tak segan turun tangan bergantian mengantar jemput pemain yang terkendala transportasi.
Selain itu, berbekal semangat kolektif dan dukungan fasilitas dari para donatur dia bersama pengurus Persas juga rutin menggelar latihan sepak bola dua kali sepekan dengan melibatkan 12 pesepak bola amputasi. Dedikasinya ini akhirnya berbuah manis dengan lahirnya atlet kebanggaan seperti Sirilus Siko dan Ilham Zam Zami yang sukses menembus skuad Timnas Sepak Bola Amputasi Indonesia.
Teks dan foto : Rizal Hanafi
Editor : Nyoman Budhiana
Pewarta: Rizal Hanafi | Editor:
Disiarkan: 01/07/2026 21:35