Tabuik, denyut tradisi di Pesisir Pariaman

Kelompok Tabuik Pasa memindahkan bagian atas Tabuik seusai waktu subuh di Pariaman, Sumatera Barat.
Kelompok Nagari Pasa menyiapkan Bungo Salapan, untuk dipasangkan ke tubuh Tabuik seusai prosesi Naik Pangkek di Pariaman, Sumatera Barat.
Kelompok Tabuik Pasa memasang puncak Tabuik saat prosesi Naik Pangkek di Pariaman, Sumatera Barat.
Kelompok Tabuik Pasa memasang puncak Tabuik saat prosesi Naik Pangkek di Pariaman, Sumatera Barat,
Kelompok Tabuik Subarang memegang kepala burak usai prosesi Naik Pangkek di Pariaman, Sumatera Barat.
Anak Tabuik Pasa menunjukan hiasan burung yang akan dipasang di puncak Tabuik saat prosesi Naik Pangkek di Pariaman, Sumatera Barat.
Kelompok Tabuik Pasa merebahkan Tabuik saat dibawa ke pantai di Pariaman, Sumatera Barat.
Kelompok Tabuik Subarang mengarak Tabuik menuju ke pantai di Pariaman, Sumatera Barat.
Warga dan pengunjung menyaksikan dua Tabuik diadu di Pantai Gandoriah, Pariaman, Sumatera Barat.
Warga dan pengunjung berebut menaiki Tabuik saat dibuang ke laut di Pantai Gandoriah, Pariaman, Sumatera Barat.
Warga dan pengunjung berebut mengambil bagian Tabuik untuk kenang-kenangan usai dibuang ke laut di Pantai Gandoriah, Pariaman, Sumatera Barat.
Sejumlah perahu nelayan membawa wisatawan yang ingin melihat Tabuik dari laut di Perairan Pariaman, Sumatera Barat.

Bulan Muharram datang membawa denyut yang berbeda di Kota Pariaman, kota pesisir yang menghadap langsung ke Samudera Hindia, sekitar 50 kilometer di utara Padang, Sumatera Barat. Bagi masyarakat setempat, pergantian tahun baru Islam bukan sekadar penanda waktu dalam kalender Hijriah, melainkan awal dari sebuah peristiwa budaya yang telah diwariskan lintas generasi.

Mereka menyebutnya Bulan Tabuik.

Sebutan itu lahir bukan tanpa alasan. Selama Muharram, dua nagari di Pariaman—Nagari Pasa dan Nagari Subarang—mulai membangun Tabuik, sebuah bangunan menjulang setinggi sekitar 12 meter yang tersusun dari kayu, bambu, dan rotan, dihiasi ragam ornamen yang dikerjakan dengan ketelitian tangan-tangan para perajin. Pada masa inilah, para perantau berbondong-bondong pulang kampung, menjadikan Muharram sebagai momentum mudik terbesar kedua setelah Idul Fitri.

Tabuik berakar dari tradisi memperingati Asyura, 10 Muharram, hari yang dikenang sebagai peristiwa Pertempuran Karbala, ketika Imam Husaen bin Ali, cucu Nabi Muhammad SAW, gugur. Nilai sejarah dan spiritual itulah yang kemudian disimbolkan dalam bentuk Tabuik.

Seiring perjalanan waktu, tradisi tersebut berbaur dengan adat Minangkabau. Ritual yang semula bersifat religius berkembang menjadi pesta budaya kolosal yang memadukan sejarah, seni, dan identitas masyarakat pesisir Pariaman. Kini, Tabuik bukan hanya menjadi milik warga setempat, tetapi juga menjadi magnet pariwisata yang didukung pemerintah daerah hingga pemerintah pusat.

Setiap tahun, ratusan ribu orang memadati Pariaman untuk menyaksikan rangkaian prosesi yang berlangsung selama belasan hari. Dari keramaian itulah lahir sebuah pameo yang masih hidup hingga kini: "Pariaman tadanga langang, Batabuik mangkonyo rami"—Pariaman terdengar sunyi, tetapi menjadi ramai ketika Tabuik digelar.

Semangat kolektif itu terasa sejak prosesi pertama hingga penghujung acara. Warga dari berbagai kalangan terlibat, bergotong royong menyiapkan setiap tahapan dengan penuh antusias. Energi yang mereka pancarkan seolah menular kepada para pengunjung yang memadati setiap sudut kota.

Puncak persiapan dimulai sejak dini hari pada hari terakhir perayaan. Saat langit masih diselimuti semburat ungu sebelum matahari terbit, warga Pasa dan Subarang mulai memindahkan badan Tabuik ke atas kendaraan pengangkut. Perlahan, karya raksasa itu bergerak menuju lokasi prosesi Naik Pangkek.

Ketika fajar mulai mengusir gelap, kedua Tabuik telah berdiri di Pasar Pariaman dan Simpang Tabuik. Di sanalah prosesi Naik Pangkek berlangsung, menyatukan bagian-bagian Tabuik sekaligus memasang berbagai atribut yang melengkapi wujudnya.

Usai dirakit sempurna, Tabuik menjelma menjadi pusat perhatian. Ribuan pasang mata mengelilinginya sejak pagi hingga siang hari, mengabadikan setiap detail dan menunggu saat-saat paling dinanti. Menjelang sore, kedua Tabuik kemudian diusung beramai-ramai menuju pantai, diiringi lautan manusia yang berjalan bersama dalam satu irama. Di tepi Samudera Hindia, prosesi mencapai klimaks ketika Tabuik akhirnya dilarungkan ke laut, menutup rangkaian perayaan dengan suasana yang khidmat sekaligus meriah.

Memasuki 2026, dukungan pemerintah pusat terhadap Tabuik semakin menguat melalui tiga langkah strategis. Kementerian Pariwisata menetapkan Pesona Budaya Hoyak Tabuik Piaman sebagai bagian dari kalender nasional Kharisma Event Nusantara (KEN) 2026, membuka jalan bagi penguatan promosi, penyediaan sarana pendukung, serta perluasan jangkauan promosi hingga tingkat nasional dan internasional untuk meningkatkan kunjungan wisatawan.

Di bidang pelestarian budaya, Kementerian Kebudayaan mulai mengawal proses pencatatan Tabuik menuju Warisan Budaya Takbenda UNESCO. Bersama Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah III, Pemerintah Kota Pariaman, dan Pemerintah Provinsi Sumatera Barat, kementerian menyusun kajian akademik serta melengkapi berbagai dokumen pendukung sebagai bagian dari tahapan pengusulan.

Sementara itu, Kementerian Ekonomi Kreatif memperkuat sisi ekonomi masyarakat melalui dukungan terhadap para perajin lokal dan pelaku usaha kreatif. Berbagai festival pendamping digelar agar perputaran ekonomi selama 13 hari penyelenggaraan tidak hanya dirasakan sektor perhotelan, tetapi juga mengalir hingga ke pedagang kecil, pelaku UMKM, dan masyarakat di sekitar kawasan wisata.

Di Pariaman, Tabuik telah melampaui batas sebuah perayaan tahunan. Ia adalah ruang tempat sejarah, keyakinan, gotong royong, dan denyut ekonomi bertemu. Setiap Muharram tiba, menara-menara itu kembali berdiri, mengingatkan bahwa tradisi bukan sekadar warisan masa lalu, melainkan denyut kehidupan yang terus bergerak bersama zaman.

 

Foto dan teks Fitra Yogi

Editor Ismar Patrizki

Pewarta: Fitra Yogi | Editor:

Disiarkan: 04/07/2026 11:35