Mendulang berkah dari jelantah
Pada suatu pagi di salah satu gang kecil sekitar kawasan industri di Kampung Masigit, Desa Margagiri, Bojonegara, Kabupaten Serang, Banten, seorang perempuan terlihat sibuk menarik gerobak menuju rumah-rumah warga untuk melayani jemput bola sampah nasabah, termasuk minyak jelantah. Perempuan itu adalah Amaliyah Sholihah (43), Ketua Bank Sampah MATA (Masigit Asri Tanpa Sampah). Dimulai sejak awal tahun 2023, Bank Sampah MATA memanfaatkan sebagian lahan amaliyah sebagai tempat penampungan, pengelolaan, serta pengolahan sampah anorganik. Bersama empat orang petugas lainnya, ia tak kenal lelah mengurus bank sampah yang saat ini memiliki sebanyak 85 nasabah.
Bagi para nasabah, kehadiran Amaliyah selalu membawa secercah harapan. Seperti Saimah (45) dan Masfuah (60), dua dari puluhan ibu rumah tangga di kampung itu, kini tak lagi membuang sampah rumah tangga mereka dengan percuma. Setoran sampah kardus, plastik, hingga minyak jelantah yang bisa ditimbang setiap hari di bank sampah atau dijemput kapan saja itu kini menjadi rutinitas baru bagi mereka. Dengan harga beli sampah kardus dan plastik yang mencapai Rp2.000-Rp3.000 per kilogram serta minyak jelantah yang dihargai Rp5.000 per liternya, sampah yang dulunya dianggap masalah kini bermetamorfosis menjadi salah satu sumber pendapatan tambahan bagi keluarga.
Tak puas sekadar mengumpulkan dan menjual barang bekas, Bank Sampah MATA terus berinovasi dengan mengolah minyak jelantah yang dibeli dari nasabah menjadi lilin aroma terapi.
“Setiap tahunnya Bank Sampah MATA memang menargetkan setidaknya ada satu inovasi produk daur ulang sampah, jika tahun kemarin kami membuat sofa dari ecobrick, maka tahun ini kami membuat lilin aroma terapi dari minyak jelantah,” kata Amaliyah.
Berbekal ilmu dari mahasiswa KKN, proses peracikan itu dilakukan dengan telaten: larutan stearin dan parafin dicampur dengan minyak jelantah, minyak esensial atau atsiri, serta pewarna dari sisa krayon bekas. Campuran ini kemudian dituangkan perlahan ke dalam sloki-sloki kaca kecil berukuran sekitar 50-60 mililiter, menciptakan karya yang melampaui wujud asalnya.
Lilin dari limbah penggorengan ini bukan sekadar kerajinan, melainkan produk UMKM yang bernilai jual tinggi. Jika minyak jelantah tanpa diolah hanya laku Rp7.000 per liter di pasaran, maka lilin cantik dengan tujuh varian aroma ini mampu dihargai Rp15.000 per buah. Melalui pendampingan dan pembinaan dari PT Permodalan Nasional Madani (PNM) Cabang Serang, produk ini berhasil mejeng di berbagai pameran. Penjualan yang awalnya hanya berkisar 10 hingga 30 buah per bulan, kini bisa menembus 50 hingga 100 buah per bulan, membawa harum karya dari Kabupaten Serang melanglang buana ke sejumlah wilayah di Banten, Jakarta, Probolinggo, hingga Blora.
Pada akhirnya, pundi-pundi rupiah bukanlah tujuan akhir dari Bank Sampah MATA. Amaliyah kerap diundang menjadi narasumber, membagikan pengetahuannya guna menularkan semangat pelestarian lingkungan kepada masyarakat, pelajar, hingga pelaku usaha. Dari gang kecil di sekitar kawasan industri, Amaliyah membuktikan bahwa dari limbah yang terbuang bisa mendulang berkah yang menyinari sesama.
Foto dan Teks: Angga Budhiyanto
Editor: Akbar Nugroho Gumay
Pewarta: Angga Budhiyanto | Editor:
Disiarkan: 21/07/2026 08:34