Menyulap jeans bekas menjadi karya ekonomi ramah lingkungan

Pengrajin Bunay Ilhamullah memilah limbah kain jeans untuk diolah menjadi berbagai produk di rumah produksi Bumoe, Banda Aceh, Aceh.
Pengrajin Bunay Ilhamulla memotong pola kain pelapis yang akan dipadukan dengan limbah jeans untuk pembuatan produk fesyen di rumah produksi Bumoe, Banda Aceh, Aceh.
Limbah kain jeans bekas menjadi bahan baku pembuatan berbagai produk fesyen dan kerajinan di rumah produksi Bumoe, Banda Aceh, Aceh.
Perajin Bunay Ilhamullah (23) menjahit limbah kain jeans menjadi produk fesyen di rumah produksi Bumoe, Banda Aceh, Aceh.
Perajin Bunay Ilhamullah (23) menjahit limbah kain jeans menjadi produk fesyen di rumah produksi Bumoe, Banda Aceh, Aceh.
Perajin Bunay Ilhamullah (23) menjahit limbah kain jeans menjadi produk fesyen di rumah produksi Bumoe, Banda Aceh, Aceh.
Perajin menuyusun sejumlah produk dari limbah kain Jeans di rumah produksi Bumoe, Banda Aceh.
Seorang model memperagakan gantungan kunci dan korek api berbahan limbah jeans di Banda Aceh, Aceh.
Perajin Bunay Ilhamullah menunjukan sepatu berbahan limbah kain jeans di rumah produksi Bumoe, Banda Aceh, Aceh.
Seorang pelanggan mencoba sepatu berbahan limbah jeans bekas di salah satu toko fesyen di Banda Aceh, Aceh.
Calon pembeli memperlihatkan produk fesyen berbahan limbah jeans pada platform e-commerce di Banda Aceh, Aceh.
Calon pembeli menelusuri produk fesyen berbahan limbah jeans melalui platform e-commerce di Banda Aceh, Aceh.
Seorang model memperagakan tas, sepatu, dan kaus berbahan limbah jeans di depan Rumoh Aceh, Banda Aceh, Aceh.

Deru mesin jahit memecah kesunyian pagi di sebuah rumah kontrakan sederhana di Kota Banda Aceh, Provinsi Aceh. Irama jarum yang naik turun tanpa henti menjadi penanda dimulainya aktivitas produksi. Di atas meja kerja, potongan-potongan kain jeans bekas tersusun rapi menunggu giliran untuk dijahit. Sesekali, Bunay Ilhamullah (23) sang perajin menghentikan laju mesin, memeriksa hasil jahitan, lalu kembali menyambungkan potongan demi potongan kain hingga perlahan membentuk sebuah produk baru.

Menurut Bunay, setiap lembar jeans bekas bukanlah limbah yang tidak nilai. Melalui proses ketelitian, kesabaran, dan kreativitas tinggi, bahan yang kerap berakhir di tempat pembuangan itu justru menjadi hal yang bernilai dan bermanfaat seperti tas, pakaian, dompet, gantungan kunci, dan hingga sepatu. 

Kain jeans bekas dibentangkan di ruang tengah rumah kontrakannya, lalu ia menarik garis menggunakan kapur jahit berwarna kuning. Penggaris lengkung, meteran, dan gunting menjadi alat yang tak pernah jauh dari jangkauannya. Setiap pola diukur dengan cermat agar seluruh potongan kain dapat dimanfaatkan secara maksimal tanpa menyisakan banyak limbah baru.

Kecintaan Bunay terhadap material denim menjadi alasan utama memilih kain jeans sebagai bahan baku. Di balik tampilannya yang kuat dan digemari berbagai kalangan, denim merupakan salah satu jenis tekstil yang membutuhkan sumber daya besar dalam proses produksinya. Mulai dari penggunaan air, energi, hingga bahan kimia dalam proses pewarnaan yang seluruh tahapan tersebut memiliki jejak lingkungan yang tidak sedikit. Kesadaran itulah yang mendorong Bunay membangun sebuah usaha fesyen berbasis fabric art yang berfokus pada transformasi limbah jeans menjadi produk dengan fungsi, nilai, dan cerita baru.

Usaha tersebut mulai dirintis pada Agustus 2024 di Banda Aceh. Berbekal pendanaan Program Pembinaan Internal Kewirausahaan (PIKU) Universitas Syiah Kuala Banda Aceh sebesar delapan juta rupiah yang diberikan secara bertahap, Bunay membeli sebuah mesin jahit, perlengkapan menjahit, bahan pendukung, serta mengumpulkan jeans bekas yang diperoleh dari teman, pelanggan, maupun masyarakat yang ingin menyumbangkan pakaian lamanya.

Perjalanan membangun usaha itu tidak selalu berjalan mulus. Meski ayahnya berprofesi sebagai penjahit, ia mengaku tidak pernah mendapatkan pendidikan menjahit secara formal. Pengetahuan yang dimilikinya diperoleh secara otodidak melalui berbagai video pembelajaran di media sosial, dipadukan dengan pengalaman mengamati ayahnya bekerja sejak kecil. Berulang kali ia mencoba membuat pola, membongkar hasil jahitan yang kurang rapi, hingga mengulang proses dari awal sebelum akhirnya menghasilkan produk yang layak dipasarkan.

Seluruh proses produksi masih dikerjakan sendiri dari rumah kontrakannya. Dalam sebulan ia mampu menghasilkan sekitar 100 produk yang terdiri atas tas, pakaian, dompet, gantungan kunci, hingga sepatu. Produk-produk tersebut dipasarkan dengan harga mulai dari Rp25 ribu hingga Rp500 ribu, tergantung tingkat kesulitan dan bahan yang digunakan.

Pemasaran dilakukan melalui berbagai platform media sosial, sekaligus menitipkan produk di sejumlah toko fesyen di Banda Aceh, Lhokseumawe, dan Aceh Selatan. Sebagian besar pesanan datang melalui media sosial, yang sekaligus menjadi sarana memperkenalkan konsep fesyen berkelanjutan kepada masyarakat.

Selain membuka peluang usaha bagi pelaku UMKM, pemanfaatan limbah tekstil menjadi produk baru juga sejalan dengan upaya pemerintah mendorong penerapan ekonomi sirkular di Indonesia. Melalui berbagai program pengembangan UMKM, pelatihan kewirausahaan, fasilitasi promosi produk lokal, hingga perluasan akses pasar, pemerintah mendorong lahirnya usaha-usaha kreatif yang mampu meningkatkan nilai tambah limbah sekaligus mengurangi beban lingkungan.

Di tengah pertumbuhan industri fesyen yang terus meningkat, persoalan limbah tekstil menjadi tantangan tersendiri. Menurut data Kementerian PPN/Bappenas, Indonesia menghasilkan sekitar 2,3 juta ton limbah tekstil per tahun. 

Sebagian besar limbah tersebut belum dikelola secara optimal sehingga berpotensi mencemari lingkungan. Melalui Peta Jalan Ekonomi Sirkular Indonesia, pemerintah menjadikan sektor tekstil sebagai salah satu sektor prioritas untuk meningkatkan efisiensi penggunaan bahan baku, memperpanjang masa pakai produk, serta mendorong pemanfaatan kembali limbah menjadi produk bernilai ekonomi. Upaya tersebut diharapkan mampu mengurangi timbulan sampah sekaligus memperkuat daya saing industri dan UMKM yang menerapkan konsep fesyen berkelanjutan.

Melalui pendekatan upcycling, teknik patchwork, distressing, dan berbagai metode fabric art, pengrajin mengubah limbah jeans menjadi produk yang unik dan bernilai. Setiap karya dibuat dengan tangan, menghargai karakter asli material, serta merayakan ketidaksempurnaan sebagai bagian dari keindahannya.

Praktik tersebut menjadi salah satu contoh penerapan ekonomi sirkular di tingkat pelaku usaha. Material yang sebelumnya dianggap sebagai limbah memperoleh fungsi baru tanpa harus melalui proses produksi bahan baku dari awal. Selain mengurangi timbulan sampah tekstil, pendekatan tersebut juga membuka peluang usaha baru, meningkatkan nilai tambah produk, serta mendorong tumbuhnya ekonomi kreatif berbasis keberlanjutan.

Bagi Bunay keberlanjutan bukan hanya tentang menciptakan produk fesyen, tetapi juga mengubah cara pandang masyarakat terhadap limbah. Kain jeans yang dianggap usang sebenarnya masih menyimpan potensi untuk dimanfaatkan kembali.

Melalui karya-karyanya, ia berharap semakin banyak orang menyadari bahwa kepedulian terhadap lingkungan dapat dimulai dari hal sederhana, yakni memberi kesempatan kedua kepada material yang pernah dianggap tidak lagi berguna, sebagai solusi atas persoalan limbah tekstil. Upaya sederhana tersebut menjadi gambaran bahwa ekonomi sirkular dapat dimulai dari skala usaha kecil, ketika kreativitas mampu mengubah barang yang dianggap usang menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi dan bermanfaat bagi lingkungan.
 

Foto dan Teks : Akramul Muslim

Editor : Yusran Uccang

Pewarta: Akramul Muslim | Editor:

Disiarkan: 23/07/2026 12:47