PORTER, PARA MANUSIA KUAT

Foto udara kawasan Taman Nasional Ujung Kulon di Pandeglang, Banten.
Foto kolase sejumlah porter dari Desa Ujung Jaya, Pandeglang, Banten.
Sejumlah porter mengangkat perlengkapan saat mendampingi tamu untuk masuk ke dalam kawasan Taman Nasional Ujung Kulon di Pantai Laban, Pandeglang, Banten.
Seorang porter mengenakan sepatunya sebelum masuk ke dalam hutan kawasan Taman Nasional Ujung Kulon di Pantai Laban, Pandeglang, Banten.
Sejumlah porter membawa barang-barang saat mendampingi tamu yang akan masuk ke dalam kawasan Taman Nasional Ujung Kulon di Pandeglang, Banten.
Sejumlah porter dari Desa Ujung Jaya membawa barang-barang saat mendampingi tamu memasuki kawasan Taman Nasional Ujung Kulon di Pandeglang, Banten.
Seorang porter yang bertugas sebagai juru masak mengolah bahan makanan saat mendampingi tamu di kawasan Taman Nasional Ujung Kulon, Pandeglang, Banten.
Sejumlah porter beristirahat sebelum melanjutkan perjalanan di kawasan Taman Nasional Ujung Kulon, Pandeglang, Banten.
Nurdin, porter asal Desa Ujung Jaya makan bersama keluarganya usai mendampingi tamu ke dalam kawasan Taman Nasional Ujung Kulon di Pandeglang, Banten.


Penjelajah alam bebas tak akan asing dengan profesi yang satu ini, porter. Raga-raga kuat yang mampu mengangkut beban hingga 50-80 kilogram itu tak dipungkiri berperan penting pada setiap penjelajahan alam bebas. Profesi yang kini juga dilakukan oleh rata-rata warga Desa Ujung Jaya, Banten.

Porter-porter dari Desa Ujung Jaya tersebut merupakan warga yang dibina oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan melalui Balai Taman Nasional Ujung Kulon. Mereka dibekali dengan berbagai disiplin ilmu berkegiatan di alam bebas mulai dari membaca kompas hingga mengenali berbagai jenis flora dan fauna di sekitar.

Dalam tugasnya, para porter mempersiapkan segala perlengkapan seperti golok tebas,karung untuk membawa tas ransel hingga bambu yang digunakan untuk alat panggul. Biasanya, jumlah porter yang dibutuhkan dalam sebuah penjelajahan tergantung dengan jumlah tim dan lamanya perjalanan.

Perjalanan ekspedisi, liburan ataupun ziarah religi menjadi lebih mudah dan ringan dengan keberadaan porter yang membantu mengangkut barang baik di medan yang mudah hingga sulit. Meraka memasang tarif sekitar Rp150 ribu hingga Rp200 ribu per orang untuk setiap harinya.

Porter dalam sebuah ekspedisi biasanya terdiri dari beberapa orang yang memiliki peran dan tanggung jawab masing-masing, seperti si pembangun shelter (tempat berlindung) yang bertugas membangun tenda hingga dapur umum, serta juru masak yang bertugas menyediakan logistik atau kebutuhan makanan selama perjalanan.

Pembinaan profesi porter oleh Kementerian LHK berdampak positif bagi penduduk yang sehari-hari bekerja sebagai petani dan nelayan saja. Pemasukan tambahan sebagai porter membantu mereka membiayai sekolah anak-anak hingga jenjang SMA atau sederajat dan bahkan hingga perguruan tinggi.

Keberadaannya secara tidak langsung juga berperan dalam menjaga keberlangsungan ekosistem di Taman Nasional Ujung Kulon dari pemburu dan pelaku penebangan liar.

Foto & Teks : Muhammad Adimaja
Editor : Puspa Perwitasari

Pewarta: Muhammad Adimaja | Editor:

Disiarkan: 26/10/2022 18:05