Pendulangan intan tradisional di Geopark Meratus

Warga menggunakan penyaringan berbentuk menara (kasbuk) untuk mengalirkan material mengandung intan yang dikumpulkan dalam sebuah kolam saat mendulang intan di Kecamatan Cempaka, Banjarbaru, Kalimantan Selatan.
Seorang warga beristirahat saat mendulang intan di Pendulangan Tradisonal Intan Cempaka, Kecamatan Cempaka, Banjarbaru.
Warga memanggul material batu saat mendulang intan di Pendulangan Tradisonal Intan Cempaka, Kecamatan Cempaka, Banjarbaru, Kalimantan Selatan.
Warga memisahkan material yang mengandung intan menggunakan alat tradisional Linggangan saat mendulang intan di Kecamatan Cempaka, Banjarbaru.
Warga memisahkan material yang mengandung intan menggunakan alat tradisional Linggangan saat mendulang intan di Kecamatan Cempaka, Banjarbaru, Kalimantan Selatan.
Warga menunjukkan material mengandung intan di Pendulangan Tradisional Intan Cempaka, Kecamatan Cempaka, Banjarbaru.
Relief saat ditemukannya intan Trisakti di kawasan monumen tugu intan Trisakti di Pendulangan Tradisional Intan Cempaka, Kecamatan Cempaka, Banjarbaru.
Warga menunjukkan batu intan yang berhasil didapatkan di Pendulangan Tradisional Intan Cempaka, Kecamatan Cempaka, Banjarbaru, Kalimantan Selatan.
Pengunjung melihat batu intan menggunakan kaca pembesar di Pendulangan Tradisional Intan Cempaka, Kecamatan Cempaka, Banjarbaru.
Pedagang menata intan di Toko Permata Kalimantan di komplek pertokoan Cahaya Bumi Selamat, Martapura.
Sepasang sepatu yang dipergunakan pendulang intan tradisional di Kecamatan Cempaka, Banjarbaru, Kalimantan Selatan.

Sinar matahari menyibak awan mendung kala itu ditemani dengan suara raungan mesin diesel pompa air memecah kesunyian saat sejumlah pekerja memulai berjuang mencari setitik intan permata Kalimantan Selatan di pendulangan tradisional intan Cempaka, Jalan Pumpung, Kecamatan Cempaka, Banjarbaru, Kalimantan Selatan.



Para pendulang dengan alat yang disebut linggangan, berbentuk kerucut seperti caping terbalik terbuat dari kayu, bisa menghabiskan waktu seharian memilah material yang digali dari kedalaman 15 meter, dengan air untuk menemukan bijih yang mengandung intan.



Pendulangan yang memadukan unsur budaya dan kearifan lokal dari masyarakat setempat itu sempat lesu sejak beberapa tahun terakhir dan diperparah dengan kondisi pandemi COVID-19, meskipun sebenarnya masih banyak ditemukan Galuh (sebutan warga setempat untuk intan karena para pendulang dilarang menyebut intan atau berlian yang dipercaya akan membawa sial) di lokasi itu.



Sejarah mencatat pada 26 Agustus 1965 sebanyak 24 penambang tradisional menemukan intan seukuran telur burung merpati dengan berat 166,75 karat yang ditaksir berharga Rp10 triliun, hingga Presiden Pertama RI Ir Soekarno memberi nama “Intan Trisakti”.



Aktivitas pendulangan intan Cempaka telah ada sejak abad ke-sembilan Masehi atau sekitar tahun 800-an dan kini tercakup dalam wilayah yang ditetapkan menjadi salah satu situs Geopark Meratus dan diajukan ke UNESCO Global Geopark (UGG) sebagai upaya Pemprov Kalsel untuk melestarikan nilai budaya dan kearifan lokal yang masih melakukakn ritual syukuran usai mendapatkan hasil.



Keberadaan intan di kawasan tersebut sangat terkait dengan proses pembentukan Pegunungan Meratus sejak 200 juta tahun lalu. Intan terbentuk pada kedalaman sekitar 100 mil (160 km) di bawah permukaan bumi dan kemudian batuan intan mengalami pengangkatan bersama Pegunungan Meratus ke permukaan sekitar 22,5 juta tahun lalu.



Lokasi penambangan yang berjarak sekitar 20 km dari Bandara Syamsudin Noor ke arah barat Kota Banjarbaru itu telah menjadi tempat wisata unggulan Kalimantan Selatan dan dikunjungi wisatawan lokal maupun mancanegara untuk menonton secara langsung proses pendulangan tradisional tersebut serta berbelanja intan dan batu permata lainnya.







Foto dan teks : Bayu Pratama S

Editor : Fanny Octavianus

Pewarta: Bayu Pratama S | Editor:

Disiarkan: 07/07/2023 01:10