Ziarah Gua Hira, dari nyata hingga imajinasi

Pengunjung mengamati lansekap Mekah dari Gua Hira (kiri) dan pengunjung mengamati diorama tiga dimensi saat mengunjungi Museum Wahyu di Hira Cultural Distric.
Pengunjung memadati Gua Hiro di Jabal Nur (kiri) dan pengunjung menyaksikan puncak Jabal Nur melalui layar video saat mengunjungi Museum Wahyu di Hira Cultural Distric.
Seorang pengunjung melintasi coretan di batu saat melewati anak tangga di Jabal Nur (kiri) dan pengunjung melintasi tulisan di layar video saat mengunjungi Museum Wahyu di Hira Cultural Distric.
Lansekap kota Mekah dan tower zamzam penanda arah KaÕbah (kiri) dan diorama tiga dimensi KaÕbah di Museum Wahyu, kawasan Hira Cultural Distric.
Burung dara terbang dari batu yang penuh dengan coretan di Jabbal Nur dan Pengunjung menyaksikan burung terbang di layar video saat mengunjungi Museum Wahyu di Hira Cultural Distric.
Pengunjung berjalan menaiki anak tangga menuju puncak Jabbal Nur dan pengunjung mendengarkan penjelasan dari petugas saat menyaksikan layar video di Museum Wahyu di Hira Cultural Distric.
Pengunjung antre memasuki Gua Hira (kiri) dan seorang pengunjung berfoto di replika Gua Hira di Museum Wahyu, Hira Cultural Distric.
Pengunjung bersiap menaiki Jabbal Nur (kiri) dan pengunjung menyaksikan Jabbal Nur melalui layar video di Museum Wahyu di Hira Cultural Distric.

Gua Hiro, tempat Nabi Muhammad SAW menerima wahyu pertama kali dipadati ribuan umat Islam untuk berziarah saat musim haji.



Menjelang pukul 03.00 waktu arab saudi peziarah mulai mendaki Jabal Nur atau gunung cahaya menuju lokasi Gua Hira yang berada di puncak.



Gua Hira terletak di puncak Jabal Nur berjarak sekitar empat kilometer dari Masjidil Haram, Mekah. Jabal Nur memiliki ketinggian 640 meter dengan kemiringan jalur pendakian antara 45 sampai 70 derajat.



Sepanjang perjalanan, peziarah akan menaiki ribuan anak tangga dari bawah hingga puncak gunung. Saat menengok ke arah kiri, tampak lansekap kota Mekah  serta Menara Zam-Zam sebagai penanda lokasi Ka'bah di Masjidil Haram berada.



Meskipun mengunjungi Gua Hiro bukan wajib atau bahkan rukun haji, namun bagi sebagian umat Islam berziarah tersebut merupakan 'fursotul umur' atau kesempatan bagi sebagian jamaah yang datang sekali dalam seumur hidup.



Disisi lain, pemerintah Arab Saudi mengembangkan Museum Wahyu di Hira Cultural Distrik, tepat di kaki Jabal Nur. Pengunjung dimanjakan dengan video dan grafik digital perjalanan Rasulullah SAW memperoleh wahyu dan gelar kenabian.



Jika ke Gua Hiro harus menaiki ribuan anak tangga dan menyaksikan hamparan bebatuan di kanan kirinya, maka di Museum Wahyu pengunjung akan menyaksikan pemandangan pepohonan hijau dan pohon kurma di pelatarannya.



Ada aula yang mampu menampung sekitar 50 orang dilengkapi dengan layar besar menceritakan kisah Nabi Muhammad SAW saat menerima wahyu pertama yakni surat Al Alaq ayat 1 sampai 5 dilengkapi dengan diorama Gua Hira di bawahnya.



Diakhir perjalanan, pengunjung dapat berfoto di miniatur Goa Hira tanpa harus berdesak-desakan dibandingkan di lokasi aslinya yang harus antre dengan peziarah lain yang berdoa di dalam gua.



Sehingga, ada pilihan bagi peziarah yang akan menikmati Goa Hira, jika ingin berziarah maka mereka harus berjalan sekitar satu jam hingga puncak, namun jika ingin menyaksikan melalui museum maka wisatawan dapat berkeliling dengan durasi satu jam melalui layar video dan diorama tiga dimensi.



Foto dan teks : Wahyu Putro



Editor : Prasetyo Utomo

Pewarta: Wahyu Putro A | Editor:

Disiarkan: 26/07/2023 15:43