Memupuk asa menjadi lifter dunia

Sejumlah lifter muda berlatih di 6221 Weightlifting Academy, Parungpanjang, Bogor, Jawa Barat
Seorang lifter muda melakukan pemanasan di 6221 Weightlifting Academy.
Seorang lifter muda memasang ikat tangan sebelum menjalani latihan.
Catatan latihan lifter muda di 6221 Weightlifting Academy, Parungpanjang, Bogor, Jawa Barat
Sejumlah lifter muda bergiliran berlatih angkat besi di 6221 Weightlifting Academy.
Seorang lifter muda berlatih angkat besi di 6221 Weightlifting Academy, Parungpanjang, Bogor, Jawa Barat
Seorang lifter muda membalurkan bubuk magnesium ke tangannya agar tidak licin.
Seorang lifter muda berlatih di 6221 Weightlifting Academy.
Seorang lifter muda membalurkan bubuk magnesium ke tangannya agar tidak licin.
Sejumlah lifter muda berbincang sebelum menjalani sesi latihan di 6221 Weightlifting Academy.
Sabuk untuk lifter muda di 6221 Weightlifting Academy, Parungpanjang, Bogor, Jawa Barat

"Brak-brukk!!", suara hempasan barbel yang berbenturan dengan lantai terlapisi karet terdengar nyaring di ruangan berukuran 6x11 meter yang terletak di Kampung Pabuaran, Desa Jagabita, Kecamatan Parungpanjang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Di tempat itulah sejumlah anak secara bergantian saling mengerahkan segala daya dan upaya untuk mengangkat beban yang telah diletakkan pada sebuah stik angkat besi atau bar.

Sekitar 20 anak yang berusia antara 8 hingga 17 tahun dan sebagian besar merupakan anak kurang mampu berlatih angkat besi di tempat tersebut. Sebuah akademi yang bernama Batavia Bersatu Maju (BBM) atau yang sering disebut juga 6221 Weightlifting Academy bentukan mantan lifter nasional Deni. 6221 Weightlifting Academy didirikan oleh Deni, peraih tiga emas Sea Games, diawali dari kegelisahannya atas masa depan olahraga yang telah melambungkan namanya itu.

Pascaolimpiade terakhirnya di Tokyo 2020, Deni berinisiatif untuk membangun sekolah angkat besi untuk melahirkan bibit-bibit muda potensial lifter Indonesia. Dengan sisa uang hasil bayaran serta bonus-bonusnya, Deni kemudian membeli sejumlah peralatan angkat besi, serta menggunakan gudang di dekat rumahnya sebagai tempat latihan.

Tak lama, akademi bentukannya mulai didatangi anak-anak di daerahnya, satu persatu mereka datang untuk menimba ilmu secara gratis. Tak hanya gratis, Deni pun masih menyokong asupan gizi mereka dengan memberikan mereka vitamin, susu yang diambil dari kocek pribadinya. 

“Di awal banyak orang tua yang beranggapan kalau berlatih angkat besi akan berdampak kepada pertumbuhan tinggi sang anak, namun itu tidak ada pengaruhnya, setelah kita jelaskan akhirnya para orang tua sudah mengerti” ujar Deni. Tak hanya itu, sejumlah lifter muda yang berlatih di sana pun kini sudah mencatatkan prestasi baik di tingkat kota/kabupaten maupun tingkat nasional.

“Ada salah satu siswa di sini sudah mampu membelikan motor untuk orang tuanya dari hadiah kompetisi angkat besi” lanjutnya. Angkat besi selalu menjadi lumbung medali pada penyelenggaraan ajang multievent olahraga termasuk di ajang multievent terbesar di dunia, Olimpiade.

Secara total, cabang angkat besi sudah meraih 15 medali secara konsisten sejak Olimpiade Sydney tahun 2000 yang berhasil membawa tiga medali melalui Lisa Rumbewas yang berhasil menyumbang perak serta Winarni dan Sri Indriyani yang berhasil menyumbang perunggu. 

Sebuah prestasi tradisi medali yang terus berlanjut di Olimpiade Athena 2004, Beijing 2008, London 2012, Rio 2016 dan Tokyo 2020 dimana Eko Yuli Irawan berhasil meraih perak sementara Rahmat Erwin Abdulah dan Windy Cantika berhasil meraih perunggu.

Namun, deretan prestasi yang ditorehkan lifter-lifter terbaik Indonesia itu menyisakan satu pekerjaan rumah. Lifter-lifter merah putih belum sekalipun meraih medali emas dalam Olimpiade. Dari 15 medali di ajang bergengsi empat tahunan itu, punggawa garuda hanya mampu menyabet 7 perak dan 8 perunggu.

Dengan semangat dan harapan tinggi, para lifter muda ke depan diharapkan mampu menuntaskan cita-cita bangsa untuk meraih podium tertinggi di tingkat dunia. Apabila asa terus dipupuk dan dijaga, maka bukan tidak mungkin mereka mampu menjadi lifter kelas dunia dan emas olimpiade tidak lagi hanya menjadi cita-cita.


Foto dan teks: Akbar Nugroho Gumay
Editor : Fanny Octavian's

Pewarta: Akbar Nugroho Gumay | Editor:

Disiarkan: 04/05/2024 21:36