Kidung sederhana di tanah bencana
Natal tahun ini tak hadir bersama gemerlap lampu dan denting lonceng perayaan. Ia datang dalam diam yang panjang, di antara batang-batang kayu tumbang dan tanah yang masih basah oleh luka banjir bandang serta tanah longsor di Hutanabolon, Kecamatan Tukka, Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, pada 25 November 2025.
Di salah satu sudut pengungsian, sebuah pohon Natal berdiri sederhana. Ornamen seadanya nyaris tertutup debu, namun dari kesederhanaan itulah harapan menyala pelan yang menegaskan kehidupan dan iman masih memilih untuk tumbuh, meski diuji berulang kali.
Sejumlah gereja tampak rusak dan sebagian masih tergenang sisa air bencana. Dinding retak, lantai berlumpur, atap runtuh di beberapa bagian. Namun di tempat-tempat itu pula, sebagian warga tetap merayakan Natal. Mereka melangkah di antara genangan, berdoa dengan tenang, dan menjaga iman tetap hidup meski bangunan tak lagi utuh.
Nyanyian pujian terdengar lirih kadang tergetar namun tak pernah benar-benar berhenti. Setiap bait doa mengalir sebagai permohonan dan penyerahan kepada Sang Pemilik Hidup.
Sementara itu, tenda-tenda darurat di pengungsian menjelma menjadi tempat ibadah sederhana bagi umat Kristiani yang gerejanya tak lagi dapat digunakan. Sebagaimana Yesus dahulu lahir di kandang yang sederhana, kini Natal dirayakan di dalam tenda-tenda darurat. Di sanalah cinta kasih-Nya menjelma nyata dan mengalir dalam kebersamaan, ketabahan, dan dalam hati yang tetap saling menguatkan.
Natal di Hutanabolon bukanlah perayaan tentang kelimpahan, melainkan tentang keteguhan. Tentang terang kecil yang tetap menyala di tengah gelap. Tentang keyakinan bahwa Tuhan tidak pernah tidur, bahkan ketika alam mengguncang dan kehidupan terasa rapuh.
Menurut catatan sementara BPBD Kabupaten Tapanuli Tengah, bencana tersebut meninggalkan luka di sepuluh rumah ibadah. Delapan gereja Protestan dan dua gereja Katolik rusak dari ringan hingga berat. Dinding-dindingnya retak, atapnya runtuh, namun kisah doa dan iman yang pernah tumbuh di dalamnya masih tetap hidup.
Di tempat bencana ini, Natal tidak kehilangan maknanya. Justru ia pulang ke asalnya yang sederhana, sunyi, dan penuh pengharapan. Seperti palungan di Betlehem, Hutanabolon menjadi ruang lahir bagi iman yang diuji, namun tidak mati.
Foto dan teks: Rivan Awal Lingga
Editor : Fanny Octavianus
Pewarta: Rivan Awal Lingga | Editor:
Disiarkan: 03/01/2026 15:18