Gerbong harapan petani dan pedagang Banten

Rangkaian kereta api dengan layanan gerbong khusus petani dan pedagang melintasi jalur di antara persawahan di Kabupaten Serang.
Sejumlah pedagang bersiap memasuki stasiun untuk naik kereta api di Stasiun Serang.
Pedagang mengemas barang dagangannya sebelum naik kereta api di Stasiun Rangkasbitung.
Seorang penumpang menunjukkan kartu pelanggan kereta api khusus petani dan pedagang.
Petugas membantu pedagang memindai QR Code tiket.
Masinis menjalankan prosedur tunjuk sebut sebelum mengemudikan kereta api dengan gerbong khusus petani dan pedagang di Stasiun Rangkasbitung.
Sejumlah penumpang memasuki gerbong kereta api khusus petani dan pedagang di Stasiun Cikeusal.
Seorang pedagang, Tini berpose di dalam gerbong kereta api khusus petani dan pedagang sebelum berangkat menuju Stasiun Kota Serang.
Sejumlah penumpang duduk di dalam gerbong kereta api khusus petani dan pedagang di Stasiun Cikeusal.
Kereta api lokal Rangkasbitung-Merak tiba di Stasiun Cikeusal, Kabupaten Serang.
Kondektur memeriksa tiket penumpang kereta api di dalam gerbong khusus petani dan pedagang.
Petugas keamanan membantu penumpang kereta api turun dari gerbong khusus petani dan pedagang setibanya di Stasiun Kota Serang.
Sejumlah pedagang membawa barang dagangannya berisi makanan usai turun dari kereta api lokal Rangkasbitung-Merak di Stasiun Serang.

Di tengah masifnya pembangunan infrastruktur transportasi nasional, pemerintah menghadirkan terobosan yang menyentuh langsung kehidupan rakyat kecil. Melalui layanan kolaborasi PT Kereta Api Indonesia (Persero) dan Direktorat Jenderal Perkeretaapian Kementerian Perhubungan dengan skema Public Service Obligation (PSO), pemerintah menyediakan gerbong kereta api khusus untuk kalangan petani dan pedagang untuk jalur lintas Merak-Rangkasbitung, Banten mulai 1 Desember 2025.



Dengan tarif sebesar Rp3.000 untuk sekali perjalanan, layanan kereta api petani dan pedagang diharapkan dapat meringankan beban biaya logistik. 



"Kereta ini dirancang oleh tenaga ahli kami di Balai Yasa Surabaya Gubeng. Setiap detail disiapkan agar perjalanan aman, nyaman, dan tetap tertata, sehingga petani dan pedagang dapat memasarkan produk dengan lebih mudah," kata Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba.



Berdasarkan data PT KAI, hingga Februari 2026 telah lebih dari 10.000 kalangan petani dan pedagang memanfaatkan kereta yang memiliki kapasitas 73 tempat duduk dan area bagasi yang ditata sesuai kebutuhan penggunanya.



Kini setiap harinya ada ratusan pedagang maupun petani yang menanti kereta api tersebut di 11 stasiun pemberhentian di jalur yang dilewati, antara lain Rangkasbitung, Jambu Baru, Catang, Cikuesal, Walantaka, Serang, Karangantu, Tonjong Baru, Cilegon, Krenceng, dan Merak.



PT KAI mencatat pergerakan tertinggi tercatat di Stasiun Cikeusal Kabupaten Serang, dengan 3.730 pelanggan naik dan 3.511 pelanggan turun. Data ini memperlihatkan peran Cikeusal sebagai titik distribusi utama komoditas lokal, terutama hasil pertanian, olahan makanan, dan produk kerajinan yang dipasarkan menuju Serang, Cilegon, dan Merak.



Dengan pelayanan sebanyak 14 perjalanan setiap harinya, kereta api dengan gerbong khusus petani dan pedagang ini menjelma menjadi salah satu urat nadi perekonomian baru di jalur Merak, Kota Cilegon hingga Rangkasbitung, Kabupaten Lebak.



Seorang pedagang makanan, Tini mengaku adanya kereta khusus ini memudahkan dirinya menggunakan moda transportasi dari Pasar Cikeusal menuju ke Kota Serang. 



"Sebelum ada kereta ini, saya selalu berdesakan dengan gerbong yang lebih sempit dan harus mengeluarkan uang lebih banyak Rp30.000 sekali jalan untuk naik mobil angkot," katanya. 



Kini situasi tersebut tidak dialaminya lagi. Bahkan dia bisa menghemat lebih banyak uangnya karena hanya perlu merogoh koceknya sebesar Rp3.000 sekali jalan dengan menaiki kereta api berisi gerbong khusus petani dan pedagang.



Pedagang lainnya Erni Kurniawati juga bersyukur atas kehadiran layanan khusus ini. Bersama pedagang-pedagang lainnya, dia sebelumnya biasa patungan sebesar Rp350.000 untuk bisa mengirim komoditas melinjo dari Cikeusal ke Pasar Tanah Abang, Jakarta dengan menyewa mobil bak terbuka.



Namun setelah ada kereta api khusus ini, dia hanya perlu membayar Rp3.000 dari Cikeusal ke Stasiun Rangkasbitung untuk selanjutnya melanjutkan perjalanan ke Stasiun Tanah Abang menggunakan KRL Commuterline dengan tarif Rp8.000 per perjalanan. 



Bagi Erni, hal ini sangat membantu dirinya untuk bisa menghemat pengeluaran lebih banyak.



Tidak hanya Tini dan Erni, ada ratusan atau bahkan ribuan warga lainnya kini menjadikan kereta api khusus petani dan pedagang ini sebagai andalan mereka. Bukan sekadar sebagai moda transportasi, tetapi juga sebagai sebagai gerbong harapan untuk perekonomian lebih baik bagi keluarga mereka.



 



Foto dan teks : Muhammad Bagus Khoirunas



Editor : Nyoman Budhiana



 



 



 

Pewarta: Muhammad Bagus Khoirunas | Editor:

Disiarkan: 10/05/2026 05:46