Tan hana wighna tan sirna, aksi tempur Kopaska melawan teror
Hujan deras mengguyur kawasan Bandara Internasional Juanda, Sidoarjo, Jawa Timur, hari itu. Sebuah pesawat komersial terparkir di apron atau pelataran pesawat Pangkalan Udara TNI AL (Lanudal) Juanda.
Di luar pesawat, udara terasa semakin dingin disertai embusan angin kencang. Sementara itu, suasana di dalam pesawat jenis Boeing 737-200 berubah tegang. Sekelompok orang yang diduga teroris menyandera penumpang dan awak pesawat, bahkan mengancam dengan bom rakitan.
Informasi mengenai pembajakan pesawat yang disertai penyanderaan dan ancaman bom segera sampai ke pemerintah dan aparat keamanan. Operasi pembebasan sandera pun harus segera dilaksanakan.
Setelah melalui komunikasi yang cepat dan tepat, tugas tersebut diberikan kepada Satuan Komando Pasukan Katak (Kopaska) karena lokasi pembajakan berada di wilayah kerja TNI Angkatan Laut.
Di bawah komando Komandan Kopaska Koarmada RI, Laksamana Pertama TNI Sadarianto, segera menginstruksikan Letkol Laut (P) Yudo Ponco Ari selaku Direktur Operasi Kopaska Koarmada RI untuk membentuk Tim Satgas Batara 26. Satuan tugas ini bertanggung jawab melaksanakan operasi pembebasan sandera sekaligus evakuasi bahan peledak.
Sementara negosiasi terus dilakukan oleh pihak berwenang, di Markas Komando Kopaska Armada RI disusun skema penyelamatan sandera dan evakuasi bom rakitan menuju lokasi aman. Seluruh operasi mengutamakan faktor keamanan dan keselamatan, baik bagi prajurit maupun para sandera, di bawah kendali langsung Komandan Satuan Kopaska Koarmada II, Kolonel Laut (P) Wido Dwi Nugraha.
Setelah perencanaan matang dilakukan dengan cepat dan tepat, para “manusia katak”, sebutan bagi prajurit Kopaska, bergerak menuju Lanudal Juanda untuk merebut kembali pesawat dari tangan pembajak.
Operasi diawali dengan proses negosiasi. Dalam proses tersebut, dua pelaku berhasil dilumpuhkan oleh penembak jitu (sniper) Kopaska. Selanjutnya, prajurit Kopaska bergerak cepat menuju pintu belakang pesawat untuk menyergap pelaku penyanderaan lainnya.
Namun, situasi semakin menegangkan ketika teroris diketahui membawa senjata api dan menjadikan seorang sandera sebagai tameng. Negosiasi nyaris menemui jalan buntu.
Tanpa disadari para penyandera, dua prajurit Kopaska melompat ke sayap pesawat dan masuk melalui pintu darurat. Dengan manuver cepat, penyandera berhasil dilumpuhkan.
Evakuasi penumpang pun segera dilakukan. Namun, ternyata satu pelaku teror menyusup di antara para sandera dan kembali menarik salah satu penumpang. Tanpa membuang waktu, prajurit Kopaska melepaskan tembakan. Timah panas menembus kepala penyandera dan situasi berhasil dikendalikan.
Setelah seluruh sandera dinyatakan aman, tim penjinak bom Kopaska langsung bergerak melakukan identifikasi, evakuasi, dan disposal terhadap benda yang diduga bom. Sebelumnya, para teroris sempat mengancam akan meledakkan pesawat.
Tim penjinak bom Kopaska menurunkan robotik Explosive Ordnance Disposal (EOD) untuk mengidentifikasi jenis bom yang digunakan. Setelah dipastikan, personel penjinak bom mengenakan baju antiledak dan masuk ke dalam pesawat untuk memindahkan bahan peledak ke lokasi aman menggunakan kendaraan bom tank, sebelum akhirnya dilakukan disposal atau pemusnahan.
Bandara Internasional Juanda yang merupakan objek vital nasional pun kembali aman.
Begitulah rangkaian simulasi dalam Latihan Pasukan Khusus (Latpassus) Kopaska Tahun Anggaran 2026 yang digelar pada 20–28 April 2026. Latihan tersebut bertujuan meningkatkan kesiapsiagaan unsur Kopaska dalam menghadapi ancaman IED (improvised explosive device) serta pembajakan pesawat.
Komandan Kopaska Koarmada RI, Laksamana Pertama TNI Sadarianto, mengatakan bahwa meskipun latihan saat ini membutuhkan biaya yang sangat besar, hal itu tidak menyurutkan semangat prajurit Kopaska untuk terus berlatih.
“Dalam situasi sekarang ini, latihan menjadi hal yang sangat mahal, namun tidak menyurutkan semangat Kopaska untuk tetap berlatih guna meningkatkan profesionalisme prajurit satuan Kopaska Koarmada, dalam rangka mendukung tugas TNI dan mengamankan negara dari berbagai gangguan serta ancaman musuh,” kata Laksma TNI Sadarianto.
“Tan Hana Wighna Tan Sirna”
Tidak ada rintangan yang tidak dapat dilalui.
Foto & teks: Muhammad Adimaja
Editor: R. Rekotomo
Pewarta: Muhammad Adimaja | Editor:
Disiarkan: 10/05/2026 16:44