Derap langkah pemburu babi hutan

Seorang pemburu bersama anjing-anjingnya bersiap berburu di salah satu lahan pertanian di Jasinga, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.
Sejumlah anjing pemburu dimandikan pemiliknya.
Pemburu bersama anjing-anjingnya melintasi lahan pertanian untuk berburu di Jasinga, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.
Anjing pemburu menggonggong saat mengetahui keberadaan babi hutan.
Seekor anjing berlari mengejar babi hutan yang sedang diburu.
Anjing pemburu menggigit babi hutan yang telah tertangkap dalam perburuan di Jasinga, Bogor.
Sejumlah anjing dimandikan usai melakukan perburuan babi hutan.
Pemburu menuntun anjing pemburu di Jasinga, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.
Anjing-anjing pemburu dengan nomor identitias beristirahat di dalam kandang.

Pagi telah beranjak siang di sebuah lahan pertanian berbukit di pelosok Jasinga, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Matahari mulai naik hampir di atas kepala, namun angin masih berhembus sejuk di sana.

Keheningan di antara rimbunnya tanaman pertanian tiba-tiba pecah saat gonggongan anjing riuh terdengar. "Atua..atua!," teriakan dalam bahasa Minang Sumatra Barat sembari melepaskan ikatan anjing-anjing.

Bak sebuah perlombaan atletik, anjing-anjing berlarian menuju arah yang sama. Meski kalah cepat, beberapa orang yang sebelumnya memegangi tali ikatan itu pun juga berlari dengan sedikit menyebar.

Medan tanah berbatu dan semak-semak pun mereka lalui demi mengejar satu sasaran yaitu babi hutan. Kurang dari 30 menit berlangsung akhirnya pengejaran berakhir dengan terkepungnya babi hutan oleh anjing-anjing. Tanpa ampun, belasan anjing itu menggigit babi hutan.

Setelah terlihat tidak bergerak, babi hutan pun dipastikan telah mati. Tiga orang bergegas mengambil babi hutan yang sudah terkapar dari cengkeraman anjing-anjing itu. 

"Bila terlalu lama tidak lekas diambil, nanti dagingnya menghitam," kata salah seorang pemburu, Habibi. Sebagian dari para pemburu itu ada yang menjual babi hutan itu ke komunitas masyarakat tertentu untuk dikonsumsi. Ada pula yang membuangnya saja atau menjadikan daging babi hutan itu sebagai pakan anjing mereka.

Begitulah situasi aktivitas yang dilakukan komunitas berburu babi hutan. Sebagian besar dari mereka adalah perantau dari Sumatera Barat, sebagian lainnya berasal dari warga lokal Bogor. 

"Ini aktivitas turun temurun yang biasa kami lakukan di kampung halaman kami di Tanah Minang," kata salah satu pemburu lainnya asal Sumatra Barat, Osri.

Tak hanya ingin melestarikannya, bagi mereka aktivitas berburu babi hutan setiap akhir pekan juga menjadi olah raga rekreasi. "Udara segar di hutan tempat kami berburu menjadi pelepas penat usai beberapa hari bekerja di Jakarta," kata Osri. 

Tak hanya menetap di satu daerah saja, Osri bersama rekan-rekan satu komunitasnya melakukan kegiatan perburuan bersama anjing-anjing mereka dengan berpindah-pindah. Lokasi perburuan mereka pun kerap kali bermula dari permintaan warga yang kebunnya rusak akibat serangan babi hutan. "Kami berburu ini juga untuk mengendalikan populasi babi hutan yang bagi sebagian masyarakat dianggap sebagai hama," kata Osri.

Tak terasa hari beranjak senja. Gonggongan anjing pun lebih mereda seiring tuan-tuannya membawa mereka ke dalam kandang-kandang yang berada di mobil bak terbuka. Perburuan pun berakhir dan mereka lanjutkan dengan perjalanan pulang ke kediaman mereka. Sembari mengecek telepon pintarnya, Osrin berkata, “Lokasi perburuan untuk akhir pekan depan sudah menanti, ada warga yang baru saja kirim pesan kebunnya dirusak babi hutan.”

 

Foto dan teks : Ferlian Septa Wahyusa

Editor : Fanny Octavianus

Pewarta: Ferlian Septa Wahyusa | Editor:

Disiarkan: 21/05/2026 11:15